Manyala.co – Musim baru BRI Super League 2025/2026 resmi dimulai pada Agustus ini, menghadirkan 18 klub yang siap bertarung hingga Mei tahun depan. Kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia tersebut kini memasuki edisi ke-16 sejak era profesional pada 2008. Namun musim ini menjadi spesial karena pertama kalinya kompetisi bergulir dengan nama baru: BRI Super League.
Perjalanan panjang musim ini juga makin berwarna dengan hadirnya tiga tim promosi, yaitu Bhayangkara Presisi Lampung, PSIM Yogyakarta, dan Persijap Jepara. Ketiganya kembali merasakan atmosfer kasta utama setelah sekian lama berjuang di Liga 2. Sementara itu, tiga klub lain yakni PSIS Semarang, PSS Sleman, dan Barito Putera harus terdegradasi dan angkat kaki dari liga tertinggi.
Tak hanya soal persaingan tim besar seperti Persib Bandung, Persija Jakarta, Arema FC, atau Bali United, salah satu hal yang mencuri perhatian publik musim ini adalah desain jersey. Kostum para pemain kini tidak lagi sekadar seragam bertanding, melainkan menjadi representasi identitas budaya, filosofi perjuangan, hingga tren fashion yang mampu menarik minat suporter maupun masyarakat umum.
Berikut lima jersey paling menonjol di musim perdana BRI Super League.
Bali United: Api Semangat dari Pulau Dewata
Jersey anyar Bali United mengusung tema “Reignite” yang menggambarkan semangat juang ala Puputan Bali. Warna merah, putih, dan hitam masih dipertahankan sebagai identitas utama, namun ditambahkan sentuhan artistik berupa motif Barong Ket, Hanoman, hingga Naga Basuki. Corak budaya tersebut membuat jersey ini bukan hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna tradisi Pulau Dewata.
Kenyamanan pun jadi prioritas, dengan bahan ringan serta teknologi breathable sehingga pemain tetap bugar meski bertanding di cuaca tropis. Suporter menyambut positif karena jersey ini berhasil menggabungkan estetika budaya dan kebutuhan modern sepak bola profesional.
Arema FC: Biru-Kuning dengan Sentuhan Sejarah
Singo Edan tetap setia dengan warna biru, namun kini dilengkapi aksen kuning yang terinspirasi era kejayaan Copa Indonesia 2005/2006. Kombinasi tersebut membawa nuansa historis sekaligus menjadi pengingat identitas gigih Arema di masa lalu.
Desain baru ini didukung bahan ringan yang mendukung performa pemain di lapangan. Aremania menilai jersey tersebut mampu memadukan tradisi klub dengan sentuhan modern yang elegan. Selain itu, jersey tandang putih-biru yang terinspirasi era 1999/2000 juga menambah variasi menarik.
Persita Tangerang: Ungu Prestisius dengan Aksen Emas
Identitas Persita semakin kuat lewat pemilihan warna ungu tua sebagai dasar jersey musim ini. Ungu melambangkan loyalitas dan kekuatan, sementara garis emas menambah kesan kemenangan. Perubahan ini diapresiasi luas karena dianggap mempertegas DNA klub yang berani dan penuh persatuan.
Selain jersey kandang ungu, Persita juga memperkenalkan kostum tandang bernuansa abu-abu muda dengan aksen navy dan maroon. Perpaduan tersebut memberikan dimensi berbeda sekaligus menampilkan sisi elegan klub asal Tangerang ini.
PSM Makassar: Minimalis Namun Berkelas
Klub tertua di Indonesia ini bekerja sama dengan apparel internasional Adidas untuk musim 2025/2026. Jersey berwarna marun legendaris tampil sederhana namun tetap prestisius, dengan minim sponsor yang justru menonjolkan kesan eksklusif.
Logo sponsor utama tetap terpampang, namun tata letaknya rapi sehingga tidak merusak estetika. Kain berkualitas tinggi digunakan demi menunjang kenyamanan para pemain. Tak heran, jersey PSM disebut-sebut sebagai salah satu yang paling premium di liga musim ini.
PSIM Yogyakarta: Filosofi Mataram dalam Kain
Sebagai tim promosi, PSIM Yogyakarta langsung mencuri perhatian lewat desain yang sarat filosofi budaya Jawa. Tema “Kejayaan yang Abadi, Kemenangan yang Gemilang” dihadirkan dalam jersey biru dengan motif keris dan ornamen batik parang di bagian lengan. Garis emas melengkapi kesan megah sekaligus menjadi simbol tekad menghadapi kasta tertinggi.
PSIM tidak hanya meluncurkan satu kostum, melainkan tiga sekaligus: kandang berwarna biru, tandang putih dengan pola gelombang, serta jersey ketiga abu-abu tua dengan ornamen pendok keris. Setiap desain punya makna filosofis mendalam, menjadikannya salah satu koleksi paling bernuansa budaya di Super League.
Jersey Jadi Tren Fashion Suporter
Kelima klub di atas hanyalah sebagian contoh bagaimana jersey kini menjadi lebih dari sekadar seragam olahraga. Bagi banyak penggemar, membeli jersey klub kesayangan adalah bentuk loyalitas sekaligus tren fashion harian.
Dengan semakin banyak apparel internasional maupun lokal yang terlibat, jersey-jersey klub Indonesia kini tak kalah bersaing dengan produk luar negeri. BRI Super League 2025/2026 pun tidak hanya menjadi ajang pertarungan di lapangan, tetapi juga medan persaingan kreativitas di luar lapangan lewat kostum-kostum penuh identitas.































