Manyala.co – Sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dinilai masih belum mampu menyiapkan lulusan yang siap kerja karena belum sinkron antara capaian pembelajaran dengan kebutuhan dunia industri. Temuan ini terungkap dalam workshop nasional yang digelar di Sanur, Denpasar, Kamis (6/11/2025).
Kegiatan tersebut dihadiri ratusan rektor dari berbagai perguruan tinggi seluruh Indonesia dan diselenggarakan oleh SEVIMA bekerja sama dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV dan Politeknik Pariwisata Bali.
Chief Marketing Officer SEVIMA, Andry Husain, mengatakan sebagian besar kampus masih menghadapi tantangan dalam penyusunan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE) yang berorientasi pada capaian pembelajaran lulusan.
“Banyak kampus yang belum mampu memetakan keterkaitan antara capaian pembelajaran dan profil lulusan, serta belum melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap relevansi mata kuliah,” ujarnya saat membuka diskusi.
Direktur Politeknik Pariwisata Bali, Ida Bagus Putu Puja, menjelaskan bahwa institusinya telah menerapkan pendekatan berbasis industri dengan melibatkan mitra global untuk memastikan lulusan memiliki kompetensi sesuai standar internasional.
“Kami bekerja sama dengan industri agar mahasiswa belajar sesuai standar global dan bisa langsung terserap kerja,” kata Ida Bagus.
Ia menegaskan bahwa jika dunia kerja terus berubah, maka perguruan tinggi pun harus beradaptasi dengan cepat. Kurikulum berbasis OBE, menurutnya, tidak dapat berjalan tanpa kolaborasi yang erat dengan sektor industri. Pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan daya saing lulusan pariwisata Indonesia di tingkat global.
Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Prof. Dr. Adrianus Amheka, menambahkan bahwa sistem pendidikan berbasis hasil (Outcome Based Education) memungkinkan perguruan tinggi melahirkan tenaga kerja yang tidak hanya kompeten, tetapi juga adaptif terhadap perubahan kebutuhan industri.
“Kita tidak lagi bicara berapa lama mahasiswa kuliah, tetapi apa yang benar-benar mereka kuasai setelah lulus,” ujarnya.
Sementara itu, Guru Besar Universitas Trunojoyo Madura sekaligus Customer Strategic Manager SEVIMA, Prof. Wahyudi Agustiono, menilai banyak perguruan tinggi di Indonesia masih memperlakukan kurikulum sebatas dokumen administratif. Padahal, kata dia, kurikulum seharusnya menjadi paradigma baru yang berorientasi pada hasil belajar mahasiswa.
“Jika ingin lulusan siap kerja, jangan hanya ubah dokumen, tapi ubah cara berpikir tentang pendidikan itu sendiri,” tegasnya.
Berdasarkan survei SEVIMA terhadap ratusan perguruan tinggi mitra, sekitar 60 persen kampus di Indonesia masih kesulitan dalam memetakan capaian pembelajaran ke dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Banyak yang masih fokus pada pemenuhan dokumen akreditasi ketimbang memastikan hasil pembelajaran benar-benar tercapai di ruang kelas.
Wahyudi menambahkan, sistem digital dapat menjadi solusi untuk mempercepat proses evaluasi dan pemetaan capaian pembelajaran.
“Digitalisasi bukan hanya alat administrasi, melainkan media utama untuk mengukur dan merekam capaian belajar mahasiswa secara sistematis,” ujarnya.
Workshop tersebut juga membahas strategi pemetaan peluang kerja global, seperti sektor keperawatan yang saat ini banyak dibutuhkan di negara-negara maju akibat populasi menua. Dalam konteks ini, kurikulum perguruan tinggi diharapkan tidak hanya mengajarkan ilmu medis, tetapi juga keterampilan komunikasi lintas budaya dan bahasa negara tujuan kerja.
“Proyek pembelajaran di kelas bukan hanya soal teori medis, tetapi juga bagaimana mahasiswa bisa beradaptasi dengan bahasa dan budaya negara yang menjadi target penempatan kerja,” pungkas Wahyudi.
Workshop nasional ini menjadi bagian dari inisiatif SEVIMA dan LLDIKTI untuk memperkuat transformasi pendidikan tinggi Indonesia agar lebih responsif terhadap kebutuhan global dan mendorong kolaborasi yang berkelanjutan antara kampus dan dunia industri.
































