Manyala.co – Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menilai kondisi perekonomian Indonesia pada penutupan tahun 2025 berada dalam posisi yang relatif solid. Menurutnya, sejumlah indikator utama menunjukkan ketahanan yang dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026.
Febrio menyebut aktivitas manufaktur domestik menjadi salah satu penopang utama ketahanan ekonomi. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember 2025 tercatat sebesar 51,2, berada di zona ekspansif dan bertahan selama lima bulan berturut-turut. Capaian tersebut mencerminkan aktivitas produksi yang masih tumbuh menjelang akhir tahun.
Kinerja sektor manufaktur tersebut didorong oleh permintaan domestik yang tetap kuat, peningkatan penyerapan tenaga kerja, serta aktivitas pembelian bahan baku yang berlanjut. Selain itu, optimisme pelaku usaha manufaktur dilaporkan meningkat dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, mencerminkan keyakinan terhadap prospek usaha ke depan.
Dari sisi eksternal, kondisi manufaktur global dinilai memberikan dukungan tambahan bagi perekonomian Indonesia. PMI manufaktur negara mitra dagang utama Indonesia pada Desember 2025 umumnya berada di zona ekspansif, antara lain Amerika Serikat sebesar 51,8, China 50,1, dan India 55,7. Di kawasan ASEAN, PMI manufaktur Thailand tercatat 57,4 dan Malaysia 50,1, yang mengindikasikan potensi permintaan ekspor yang tetap terjaga.
Kinerja sektor eksternal Indonesia juga tercermin dari neraca perdagangan. Pada November 2025, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD2,66 miliar, melanjutkan tren surplus yang telah berlangsung sejak Mei 2020. Secara kumulatif pada periode Januari hingga November 2025, surplus neraca perdagangan mencapai USD38,54 miliar.
Nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–November 2025 tercatat sebesar USD256,56 miliar, meningkat 5,61 persen secara tahunan (ctc). Peningkatan ekspor terutama disumbang oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 10,41 persen, yang mencerminkan bertambahnya nilai tambah dalam struktur ekspor nasional.
Sementara itu, total impor Indonesia pada periode yang sama mencapai USD218,02 miliar, meningkat 2,03 persen (ctc). Kenaikan impor terutama berasal dari kelompok barang modal dengan kontribusi 3,28 persen, sejalan dengan aktivitas produksi yang masih berada dalam fase ekspansif.
Di sisi stabilitas harga, inflasi nasional sepanjang 2025 tetap berada dalam rentang terkendali. Tingkat inflasi tercatat sebesar 2,92 persen secara tahunan (yoy). Inflasi Desember 2025 dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, di tengah inflasi inti yang tetap menguat dan inflasi administered price yang relatif rendah.
Inflasi kelompok volatile food tercatat mencapai 6,21 persen (yoy), didorong kenaikan harga komoditas seperti aneka cabai, beras, dan ikan segar, yang dipengaruhi oleh gangguan cuaca dan kendala distribusi. Sementara itu, inflasi administered price tercatat sebesar 1,93 persen (yoy), didorong kenaikan harga bensin nonsubsidi dan tarif transportasi pada periode Natal dan Tahun Baru.
Hingga Selasa (6/1/2026), belum terdapat pembaruan resmi dari pemerintah mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional secara final untuk tahun 2026.
































