Ketegangan Baru di Panggung Global: Ancaman Tarif Trump terhadap BRICS dan Implikasinya bagi Indonesia

Ketegangan Baru di Panggung Global: Ancaman Tarif Trump terhadap BRICS dan Implikasinya bagi Indonesia - Global - Gambar 720
Ancaman Tarif Trump terhadap BRICS dan Implikasinya bagi Indonesia.

Manyala.co – Ketegangan dalam perdagangan internasional kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas terhadap negara-negara yang dinilai berpihak kepada BRICS. Dalam kebijakan terbarunya, Trump menetapkan tambahan tarif sebesar 10 persen bagi negara mana pun yang dinilainya mendukung inisiatif BRICS, sebuah aliansi ekonomi yang kini dinilai semakin bercorak geopolitik ketimbang semata ekonomi.

Kebijakan sepihak ini tidak hanya memicu keresahan di negara-negara besar seperti China, India, Brasil, dan Rusia, tetapi juga menimbulkan dilema tersendiri bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang mulai menunjukkan ketertarikan terhadap skema kerja sama alternatif di luar dominasi ekonomi Amerika Serikat.

Trump Main Keras: Tarif, Ancaman, dan Unilateralisme

Ketegangan dipicu oleh keputusan Trump menaikkan tarif impor terhadap Brasil sebesar 50 persen—tertinggi dalam sejarah hubungan dagang kedua negara. Komoditas seperti daging sapi, kopi, dan jus jeruk menjadi sasaran utama, yang diperkirakan akan berdampak langsung pada lonjakan harga makanan pokok di AS, termasuk hamburger, kopi pagi, hingga jus buah.

Di luar itu, Trump juga memperingatkan negara-negara yang memiliki kedekatan ideologis dan ekonomi dengan BRICS, termasuk Indonesia. Saat ini, Indonesia tercatat telah dikenai tarif impor sebesar 32 persen, sebuah angka yang cukup mengkhawatirkan pelaku ekonomi nasional.

“Negara mana pun yang mendukung BRICS akan menerima tarif tambahan 10 persen. Tidak ada pengecualian,” tulis Trump melalui akun Truth Social-nya.

China Perkuat Ketahanan Energi Hadapi Krisis Minyak Global

Reaksi Akademisi: Hegemoni AS dan Krisis Multilateralisme

Pernyataan keras Trump menuai kritik dari berbagai kalangan. Poppy Sulistyaning Winanti, Guru Besar Hubungan Internasional UGM, mengatakan bahwa langkah Trump merupakan bagian dari strategi mempertahankan hegemoni AS di tengah meningkatnya kekuatan baru global.

“Trump melihat semua negara sebagai ancaman terhadap hegemoninya. BRICS, yang mencoba mendorong dunia ke arah yang lebih multipolar, otomatis menjadi target,” ujarnya.

Poppy menilai bahwa Indonesia tidak boleh sendirian dalam menghadapi tekanan ini. “Pemerintah harus melibatkan dunia usaha dan membangun tekanan dari dalam AS sendiri. Lobi bisnis bisa sangat berpengaruh,” tambahnya.

Shofwan: Dominasi Dolar dan Tantangan BRICS

Dosen Hubungan Internasional UI, Shofwan Al Banna Choiruzzad, menggarisbawahi bahwa AS masih mengendalikan titik-titik strategis dalam sistem keuangan global, seperti dominasi dolar dan kontrol terhadap jaringan transaksi global seperti SWIFT. Menurutnya, BRICS perlu segera membangun alternatif terhadap dominasi tersebut agar tidak terus berada di bawah tekanan unilateralisme AS.

“BRICS perlu membangun sistem pembayaran alternatif dan mendorong negara mitra seperti Uni Eropa atau CPTPP untuk ikut memberikan respons kolektif terhadap kebijakan sepihak Trump,” jelas Shofwan.

Israel Tutup Masjid Al-Aqsa Saat Idul Fitri 2026

Namun, ia juga mengingatkan bahwa setiap negara pada dasarnya akan mengutamakan kepentingan nasional. “Vietnam, misalnya, bersikap keras terhadap China agar bisa lebih dekat dengan AS. Ini bentuk realisme dalam politik luar negeri,” tuturnya.

Irman Lanti: BRICS dan ASEAN Harus Bergerak Kolektif

Di sisi lain, Irman Gurmilang Lanti dari Universitas Padjadjaran menyoroti posisi BRICS yang kini semakin kompleks. Meski awalnya fokus pada kerja sama ekonomi, BRICS kini menjadi forum politik yang sarat kepentingan geopolitik.

“Agak sulit untuk membangun posisi bulat di antara anggota BRICS karena relasi mereka dengan AS sangat beragam,” ujar Irman. Menurutnya, India dan Brasil cenderung pragmatis, sementara Rusia dan China lebih konfrontatif.

Irman juga menyoroti ASEAN yang hingga kini masih sulit bersikap kolektif karena keragaman orientasi anggotanya. Namun, ia melihat ada sinyal dari Malaysia sebagai Ketua ASEAN tahun ini untuk merumuskan respons bersama terhadap tekanan tarif dari AS.

Dampak terhadap Indonesia: Berani atau Bertahan?

Indonesia, yang berada di tengah-tengah, dihadapkan pada dilema: apakah tetap pragmatis menjaga hubungan baik dengan AS, atau berani mengambil posisi strategis bersama BRICS? Tekanan tarif 32 persen dan ancaman tambahan tarif tentu tidak bisa diabaikan. Namun di sisi lain, BRICS menawarkan skema kerja sama yang lebih setara dan adil, terutama dalam perdagangan dan investasi.

Trump Belum Nyatakan Operasi Militer Iran Berakhir

“Indonesia harus punya prinsip, tapi tetap terbuka untuk bernegosiasi. Jangan pasif, tapi juga jangan impulsif,” saran Shofwan.

Ketiadaan duta besar Indonesia untuk AS hingga kini juga disorot oleh para pengamat sebagai titik lemah diplomasi bilateral. “Dalam situasi sensitif begini, diplomasi aktif sangat krusial. Dubes bukan sekadar simbol, tapi juga aktor lobi,” tambah Poppy.

Kebijakan Trump jelas menunjukkan bahwa AS tak segan mengambil langkah unilateral meski bertentangan dengan prinsip perdagangan bebas yang selama ini didukungnya. Dunia kini berada di persimpangan: mempertahankan sistem lama yang semakin tidak adil, atau mendorong arsitektur global baru yang lebih multipolar.

Indonesia harus berhitung cermat. Jangan sampai hanya jadi korban dari perang tarif dua kutub kekuatan dunia, tanpa bisa memanfaatkan peluang untuk memperkuat posisi tawar dan kemandirian ekonomi nasional.

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

01

Khamenei Gugur dalam Serangan Militer AS–Israel di Teheran

02

Pererat Silaturahmi Alumni, IKA Teknik Sipil Unhas Gelar Halal Bi Halal 2026

03

Buka Puasa Penuh Inovasi! RT 08 Permata Hijau Lestari Resmi Luncurkan Gerakan Wanita Tani 08

04

Bareng Daeng Guard, Story Gym Makassar Bagikan 1.000 Paket Takjil Ramadhan ke Masyarakat

05

KKG PJOK Tallo Jajaki Kolaborasi Program dengan Pemerintah Kecamatan

HUT Kabupaten Enrekang Ke-66
PEMKOT MAKASSAR - MANYALA.CO
Manyala.co

Olahraga

KKG PJOK KEC.TALLO Kolaborasi Dengan Fobi Makassar dan KKG UJUNG TANAH SANGKARANG

KKG PJOK Tallo, Tamalate, Panakkukang Gelar Pelatihan Deep Learning

Erick Thohir Bantah Laporkan FAM ke FIFA

PSSI: Tak Ada Naturalisasi Baru di FIFA Series

Olahraga Saat Puasa Aman dengan Penyesuaian Intensitas

KNPI Makassar Bersama KKG PJOK Tallo Gelar Kompetisi Futsal dan Voli Pelajar

Indonesia Ajukan Diri Tuan Rumah Piala Asia 2031

Indonesia ke Final Piala Asia Futsal Usai Kalahkan Jepang

Indonesia Lolos Perempat Final Piala Asia Futsal 2026

Indonesia Juara Grup A Usai Imbang Lawan Irak

Alwi Farhan Lolos Final Indonesia Masters 2026

Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria, Solomon dan Saint Kitts di FIFA Series

Leo/Bagas Lolos Babak Kedua Indonesia Masters 2026

PSM Makassar Tambah Dua Pemain Asing Hadapi Putaran Kedua

Jonatan Christie Runner-up India Open 2026

PSM Makassar Hadirkan Bus Tim dan Rilis Jersey Khusus Suporter

Prabowo Realisasikan Bonus Atlet SEA Games 2025

Mental Juang PSM Makassar Diuji Jelang Laga Kontra Bali United

Malaysia Open 2026: Lima Wakil Indonesia Tampil di Babak 16 Besar

PSM Makassar Uji Pertahanan Hadapi Trisula Borneo FC

Kolom