Manyala.co – Konflik militer antara Thailand dan Kamboja yang sudah bergejolak selama berbulan-bulan akhirnya berubah menjadi pertempuran paling berdarah dalam lebih dari satu dekade. Insiden ini terjadi tepat di wilayah perbatasan yang telah lama disengketakan kedua negara, dan situasinya terus memburuk sejak Kamis, 24 Juli 2025.
Ketegangan meningkat tajam setelah jet tempur F-16 milik Angkatan Udara Thailand dilaporkan menjatuhkan bom di kawasan perbatasan. Serangan udara tersebut menewaskan delapan orang dan memicu kemarahan dari pihak Kamboja, yang menuduh Thailand menggunakan kekuatan militer secara berlebihan. Saling serang pun tak terhindarkan.
Warga sipil menjadi korban dari memanasnya situasi ini. Ribuan penduduk di wilayah perbatasan, baik dari sisi Kamboja maupun Thailand, terpaksa meninggalkan rumah mereka demi menyelamatkan diri. Di Provinsi Oddar Meanchey, Kamboja, gelombang pengungsian tampak jelas ketika keluarga-keluarga meninggalkan rumah hanya dengan barang-barang seadanya.
Seorang saksi mata di wilayah Ban Dan, Provinsi Buriram, Thailand, menggambarkan suasana saat bentrokan terjadi. “Ini benar-benar serius. Kami sedang dalam proses evakuasi,” ujar Sutian Phiwchan kepada BBC. Suaranya terdengar tegang, mencerminkan kekacauan yang tengah berlangsung di perbatasan.
Kondisi ini pun menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam keterangannya di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (25/7), mengimbau warga negara Indonesia (WNI) yang saat ini berada di Thailand dan Kamboja untuk tetap tenang di tengah meningkatnya konflik kedua negara.
“Kami mengimbau kepada WNI yang cukup banyak berada di kedua negara tersebut agar tidak panik. Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri sudah kami minta untuk terus melakukan komunikasi intensif dengan mereka,” ujar Dasco. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah Indonesia tetap membuka opsi diplomasi untuk menjembatani kedua negara bertetangga itu.
Konflik yang saat ini terjadi bukan tanpa akar sejarah yang panjang. Perseteruan ini mengakar pada penetapan batas wilayah yang terjadi lebih dari seabad lalu, pasca penjajahan Prancis di wilayah Kamboja. Salah satu titik sengketa utama adalah kawasan Candi Preah Vihear, kuil kuno era abad ke-11, yang menjadi pusat kontroversi sejak Kamboja mengajukannya sebagai situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2008. Langkah tersebut memicu protes keras dari Thailand dan memperburuk hubungan kedua negara secara signifikan.
Sejak saat itu, bentrokan sporadis kerap terjadi dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa baik dari kalangan militer maupun sipil. Pada Mei 2025, bentrokan perbatasan kembali pecah dan menewaskan seorang tentara Kamboja. Peristiwa itu memperparah ketegangan yang sudah lama mengendap dan menjadi pemicu utama konflik terbaru ini.
Dalam dua bulan terakhir, baik Thailand maupun Kamboja telah memperketat kebijakan di wilayah perbatasan. Kamboja bahkan melarang masuknya produk dari Thailand seperti buah dan sayuran, serta menghentikan akses terhadap layanan listrik dan internet yang berasal dari negeri tetangganya. Thailand di sisi lain menutup jalur lintas batas dan memperkuat kehadiran militer di sepanjang wilayah perbatasan.
Dalam konteks diplomatik, Kamboja telah mengambil langkah drastis dengan memutuskan hubungan diplomatik dengan Thailand. Hal ini menjadi sinyal bahwa konflik bukan lagi sekadar gesekan militer lokal, namun berpotensi meluas menjadi krisis regional yang lebih kompleks.
Menanggapi situasi tersebut, Dasco mengakui bahwa hingga kini pihaknya belum sempat bertemu langsung dengan Presiden Prabowo Subianto untuk membahas apakah konflik ini perlu dibawa ke forum ASEAN. Namun, ia menegaskan pentingnya menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara agar gejolak ini tidak semakin meluas.
“Saya belum tahu karena belum bertemu Presiden. Tapi nanti kita akan sounding (koordinasikan) agar ada langkah antisipatif supaya kawasan ASEAN ini tetap stabil,” ungkapnya.
Krisis ini menjadi ujian serius bagi kepemimpinan kawasan, termasuk peran Indonesia sebagai negara yang selama ini kerap menjadi mediator dalam konflik Asia Tenggara. Meskipun hubungan Indonesia dengan Thailand maupun Kamboja selama ini cukup baik, eskalasi yang terus meningkat menuntut peran aktif dari negara-negara di kawasan untuk mencegah konflik meluas.
Dalam perkembangan terbaru, otoritas Thailand menyebut jumlah korban tewas dari bentrokan tersebut telah meningkat menjadi 12 orang. Sementara itu, sekitar 138.000 orang telah dilaporkan mengungsi dari wilayah konflik. Pemerintah Thailand juga mengklaim bahwa serangan balasan mereka menggunakan drone telah menghancurkan pos-pos militer Kamboja secara presisi, meskipun informasi ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Lebih dari 582 sekolah di wilayah perbatasan terpaksa ditutup untuk sementara waktu karena ancaman keamanan yang tinggi. Dampak sosial dari perang ini pun kian terasa, terutama di kalangan warga sipil yang harus kehilangan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan stabilitas hidup mereka.
Dengan perkembangan ini, harapan tertuju pada langkah-langkah diplomasi yang dapat meredakan ketegangan dan mengembalikan kestabilan di kawasan. Indonesia pun diharapkan mengambil peran strategis dalam menjembatani komunikasi kedua belah pihak, sembari memastikan keselamatan warganya yang berada di tengah badai konflik.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa meskipun dunia telah mengalami berbagai bentuk modernisasi, sengketa wilayah dengan akar sejarah panjang tetap dapat berubah menjadi konflik bersenjata yang merenggut banyak korban. Ke depan, komunitas internasional dituntut lebih sigap dalam mencegah konflik regional yang bisa berdampak luas terhadap stabilitas global.
































