Manyala.co – Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan kesiapan pasukan negara-negara Eropa Utara anggota Uni Eropa dan NATO untuk beroperasi di kawasan Arktik. Pernyataan itu disampaikan saat pidato pembukaan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Selasa (20/1).
Von der Leyen menekankan bahwa keamanan di kawasan Arktik hanya dapat dicapai melalui kerja sama antarnegara. Ia mencontohkan Finlandia sebagai anggota NATO yang menyediakan kapal pemecah es untuk Amerika Serikat, menandai kemampuan operasional yang ada di wilayah es.
“Ini menunjukkan bahwa negara-negara NATO di wilayah utara saat ini memiliki pasukan yang siap untuk Arktik,” ujar von der Leyen. Ia menambahkan, langkah unilateral, termasuk pengenaan tarif tambahan oleh AS terhadap sekutu, justru keliru.
Langkah Presiden AS Donald Trump pada Sabtu lalu menetapkan tarif tambahan 10 persen terhadap Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia mulai 1 Februari. Tarif tersebut dijadwalkan naik menjadi 25 persen dan berlaku hingga tercapai kesepakatan pembelian Greenland, yang merupakan wilayah Kerajaan Denmark. Trump sebelumnya menyatakan Greenland seharusnya menjadi bagian dari AS, meski hal itu belum direalisasikan secara formal.
Kawasan Arktik memiliki kepentingan strategis bagi negara-negara Eropa Utara, termasuk jalur perdagangan, sumber daya mineral, dan ekosistem yang rapuh. Kerja sama militer dan logistik di wilayah ini dianggap krusial untuk keamanan regional dan proyeksi kekuatan sekutu NATO.
Von der Leyen menekankan bahwa tarif tambahan di antara sekutu lama dapat menimbulkan ketegangan yang merugikan stabilitas kawasan. “Keamanan Arktik hanya dapat dicapai bersama-sama, dan usulan tarif tambahan adalah kekeliruan, terutama di antara para sekutu yang telah lama menjalin hubungan,” katanya.
Sementara itu, beberapa analis Eropa menyoroti bahwa eskalasi tarif AS terhadap negara-negara sekutu bisa memengaruhi hubungan perdagangan dan kebijakan keamanan. Greenland menjadi fokus karena lokasi strategisnya di utara Atlantik dan akses terhadap rute pelayaran Arktik yang semakin terbuka akibat perubahan iklim.
Langkah von der Leyen menunjukkan keseriusan Uni Eropa untuk mempertahankan keamanan, keteraturan, dan kerja sama di Arktik, sekaligus menegaskan sikap menentang kebijakan proteksionis yang dapat mengganggu hubungan antarsekutu. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari AS terkait penyesuaian atau penundaan tarif tersebut.
































