Trump Pecat Kepala BLS, Dunia Khawatir Data Ekonomi AS Bisa Dimanipulasi

Trump Pecat Kepala BLS, Dunia Khawatir Data Ekonomi AS Bisa Dimanipulasi - Trump - Gambar 89
Erika McEntarfer (kanan), pemimpin Badan Statistik Ketenagakerjaan AS yang dipecat Presiden Donald Trump.

Manyala.co – Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memecat Kepala Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics/BLS), Erika McEntarfer, awal Agustus 2025, menuai gelombang kritik baik di dalam negeri maupun di kancah global. Pemecatan itu dilakukan setelah laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan hasil jauh di bawah harapan serta revisi besar-besaran terhadap data lapangan kerja sebelumnya.

Trump menuding adanya manipulasi data, meski tidak pernah menunjukkan bukti yang kuat. Langkah ini membuat kalangan ekonom, investor, hingga lembaga pemeringkat mulai mempertanyakan masa depan kredibilitas data ekonomi Amerika Serikat, yang selama puluhan tahun dianggap sebagai tolok ukur atau standar emas di dunia.

Kekhawatiran Manipulasi Data

Alan Blinder, mantan wakil ketua Federal Reserve, menilai tindakan Trump sebagai sebuah preseden berbahaya. Ia mengingatkan risiko jika data resmi pemerintah dipolitisasi. “Kekhawatiran berikutnya adalah manipulasi data. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan global pada kesehatan ekonomi AS, yang dampaknya menyentuh hampir setiap orang di bumi,” katanya.

Peran ekonomi AS memang meluas ke seluruh dunia. Apa yang terjadi di Wall Street, misalnya, bisa berdampak hingga ke pemulung di kawasan kumuh negara berkembang. Karena itu, intervensi politik dalam lembaga statistik menimbulkan kekhawatiran serius.

Pelajaran dari Yunani dan Argentina

Ada pengalaman pahit dari negara lain yang menjadi rujukan. Pada awal 2000-an, Yunani mengaku telah memalsukan data defisit untuk bisa masuk ke zona euro. Kebohongan itu memperburuk krisis keuangan 2008–2009, membuat investor enggan membeli obligasi negara tersebut, hingga memaksa pemerintah menjalankan kebijakan penghematan ketat yang berujung pada kerusuhan sosial.

Danantara Perkuat Kampung Haji Indonesia, 11 Menara Baru Dibangun di Makkah

Kasus serupa juga menimpa Argentina. Sejak era Presiden Néstor Kirchner pada 2007, pejabat statistik yang melaporkan lonjakan inflasi dicopot. Data resmi kemudian dipoles sehingga tidak mencerminkan kenyataan. Akibatnya, kepercayaan publik hancur dan peringkat kredit negara itu terjerembab di level “sampah” selama bertahun-tahun, membuat biaya pinjaman melonjak dan pembangunan infrastruktur terganggu.

Pemerintah Membantah

Meski dikritik, Gedung Putih membantah bahwa pemecatan McEntarfer bermotif politik. Menurut juru bicara Taylor Rogers, tujuan Trump adalah memulihkan kepercayaan pada BLS yang dianggap terlalu sering melakukan revisi signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Presiden ingin memastikan rumah tangga, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan memiliki data akurat untuk pengambilan keputusan. Revisi yang tidak normal sejak pandemi COVID menimbulkan pertanyaan serius tentang akurasi BLS,” kata Rogers.

Kondisi Berbeda dengan Yunani dan Argentina

Namun, sebagian ekonom menilai situasi AS tidak bisa disamakan dengan Yunani maupun Argentina. Robert Shapiro, Ketua firma konsultan ekonomi Sonecon, menegaskan ekonomi AS masih berada dalam kondisi kuat. “Kami adalah ekonomi terbesar di dunia, dengan PDB lebih dari 30 triliun dolar AS dan pertumbuhan 3 persen di kuartal kedua 2025. Kondisinya jelas berbeda dibandingkan Yunani atau Argentina yang saat itu sudah krisis ketika data palsu terbongkar,” ujarnya.

Masalah Struktural BLS

Meski tuduhan manipulasi sulit dibuktikan, sejumlah ekonom mengakui ada persoalan teknis dalam pengumpulan data BLS. Kathryn Rooney Vera, Kepala Ekonom StoneX, menjelaskan revisi besar yang terjadi beberapa tahun terakhir bukan karena faktor politik, melainkan karena metode perhitungan yang sudah ketinggalan zaman serta keterbatasan anggaran.

Menlu Sugiono Buka Sidang PBB dengan Salam Lintas Agama, Tegaskan Ketahanan Nasional dan Dukungan untuk Palestina

Contohnya pada 2024, revisi tahunan menunjukkan jumlah lapangan kerja yang sebenarnya bertambah 818.000 lebih sedikit dari laporan awal. Bagi sebagian kalangan, perbedaan ini menandakan kelemahan sistem yang perlu diperbaiki.

Selain itu, BLS kini memiliki staf yang lebih sedikit dibandingkan dekade sebelumnya akibat pemangkasan anggaran. Kondisi ini memperlambat pengumpulan data, menunda rilis resmi, serta meningkatkan risiko terjadinya revisi besar setelah publikasi awal.

Kredibilitas Data Masih Dijaga

Walau begitu, analis tetap menekankan bahwa mustahil ada intervensi manual dalam laporan BLS. William Beach, mantan pejabat BLS di era Trump, menyatakan angka yang diterbitkan sudah terkunci dalam sistem komputer sehingga tidak bisa diubah oleh kepala biro maupun pejabat lain. “BLS adalah institusi kelas dunia. Tidak ada ruang bagi manipulasi data secara politik,” ujarnya.

Michael Heydt, analis senior sovereign di Morningstar DBRS, juga menambahkan bahwa tidak ada pengganti untuk data pemerintah yang kredibel. Menurutnya, BLS dan lembaga statistik AS lainnya telah lama diisi oleh profesional nonpartisan yang menjaga independensi.

Menanti Langkah Selanjutnya

Kini, publik dan pelaku pasar menunggu langkah selanjutnya dari Gedung Putih. Apakah Trump akan menempatkan sosok partisan di BLS, atau justru memilih teknokrat independen yang bisa memulihkan kepercayaan?

Putin Sebut Indonesia Mitra Kunci Rusia, Prabowo Tegaskan Kemitraan Strategis

Bagi banyak pihak, langkah ini akan menentukan apakah Amerika Serikat masih bisa mempertahankan reputasinya sebagai penyedia data ekonomi paling terpercaya di dunia. Sebab sekali kredibilitas itu rusak, dampaknya bisa merembet ke pasar global, seperti yang pernah terjadi di Yunani dan Argentina.

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

01

Wamen Kebudayaan Apresiasi Wali Kota Munafri, Makassar Sukses Jadi Tuan Rumah KMI 2026

02

Koperasi Merah Putih Dorong Ekonomi Desa, Pemasaran UMKM dan Hasil Tani Makin Terbuka

03

Prabowo Tepati Janji, Bonus Atlet Peraih Emas Asian Games Tembus Rp3 Miliar

04

Loka MBG Segera Diluncurkan, BGN Bidik Pasar Lebih Luas bagi Petani dan Peternak

05

Respons Kritik Malaysia-Singapura soal Karhutla, Dasco: Jawab dengan Kerja Teruji

06

Semarak Budaya 2026 di Palopo, La Tinro La Tunrung Dorong Pelestarian Warisan Budaya

07

Hari Sumpah Pemuda ke-98, Wali Kota Makassar Munafri Rawat Kebersamaan dengan Pemuda Lintas OKP

08

Kebakaran Melonjak, Petugas Damkarmat Makassar Siaga Siang hingga Dini Hari

Website Resmi Pemerintah Kota Makassar
HUT Kabupaten Enrekang Ke-66
Manyala.co

Olahraga

Prabowo Tepati Janji, Bonus Atlet Peraih Emas Asian Games Tembus Rp3 Miliar

Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Taklukkan Thailand Lewat Drama Adu Penalti

Rahmat Erwin Abdullah Ukir Sejarah di Asian Games 2026, Emas dan 2 Rekor Dunia

Pelatihan Deep Learning Digelar 2 Hari, Guru PJOK Tallo Siap Mulia­kan Pendidikan dan Cetak Atlet dari SD

Beasiswa Madinah: Bosowa Peduli Dukung Pendidikan 4 Mahasiswa Makassar di Arab Saudi

Tim Indonesia Resmi Dikukuhkan Hadapi Asian Games Aichi-Nagoya 2026

Tingkatkan Keterampilan Pemain Usia Dini, UNM Gelar Pengabdian “Bentuk Latihan Teknik Dasar Sepakbola bagi Siswa SSB Persigowa”

Resmi! Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Usai Bungkam Argentina, Ferran Torres Cetak Gol Bersejarah

Dramatis! Inggris Hancurkan Prancis 6-4, Bukayo Saka Hattrick dan The Three Lions Rebut Peringkat 3 Piala Dunia 2026

Final Ideal Piala Dunia 2026! Spanyol vs Argentina Jadi Duel Penentu Rekor Rivalitas Bersejarah

Argentina Bungkam Inggris 2-1, Tantang Spanyol di Final Piala Dunia 2026

Perang Nike vs Adidas di Semifinal Piala Dunia 2026: Adu Prestise Dua Raksasa Apparel Dunia

Spanyol Hajar Prancis 2-0, La Roja Lolos ke Final untuk Kedua Kalinya dalam Sejarah

Jadwal Semifinal Piala Dunia 2026 Resmi: Prancis vs Spanyol dan Inggris vs Argentina, Catat Jam Tayangnya

Argentina Menggila di Extra Time, Singkirkan Swiss 3-1 dan Tantang Inggris di Semifinal

Bellingham Bawa Inggris Unggul 2-1 atas Norwegia di Perempat Final Piala Dunia 2026

Atlet Bulutangkis Putri Kecamatan Tallo Raih Juara I O2SN Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan

KKG PJOK Tallo Gelar Pelatihan Ekstrakurikuler Olahraga di Tingkat SD

KKG PJOK KEC.TALLO Kolaborasi Dengan Fobi Makassar dan KKG UJUNG TANAH SANGKARANG

KKG PJOK Tallo, Tamalate, Panakkukang Gelar Pelatihan Deep Learning

Kolom

× Advertisement
× Advertisement