Manyala.co – Polemik mengenai logo baru Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terus bergulir menjelang Kongres Nasional partai tersebut di Kota Solo. Perhatian publik tertuju pada kemunculan lambang gajah berkepala merah dan tubuh hitam di berbagai titik strategis kota, lengkap dengan tulisan “PSI Partai Super Tbk”. Sontak, desain logo itu memicu spekulasi mengenai kemiripannya dengan lambang partai lain, terutama PDIP yang identik dengan kepala banteng merah.
Namun, Giring Ganesha, anggota Dewan Pembina PSI, segera membantah adanya hubungan visual ataupun simbolik antara logo baru PSI dengan PDIP. Saat ditemui di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (17/7/2025), Giring menanggapi santai isu tersebut. “Nggak lah, itu cocoklogi. Nggak mirip,” ujarnya sambil tersenyum, menegaskan bahwa dugaan kesamaan itu hanyalah hasil tafsir yang berlebihan.
Giring juga menambahkan bahwa logo tersebut tidak berkaitan dengan partai manapun dan merupakan bagian dari dinamika internal PSI yang sedang menjalani proses pembaruan identitas menjelang kongres. Menurutnya, untuk urusan teknis dan makna di balik logo baru, publik sebaiknya menunggu penjelasan langsung dari Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep. “Tanya Mas Kaesang aja,” katanya.
Di sela wawancara, Giring menyebut dirinya telah memberikan suara untuk Kaesang Pangarep dalam Pemilu Raya internal PSI, yang merupakan proses demokratis untuk memilih ketua umum baru. “Pokoknya kemarin saya nyoblos Mas Kaesang,” imbuh mantan vokalis grup band Nidji itu.
Kehadirannya dalam Kongres Nasional PSI yang digelar pada Jumat, 18 Juli 2025, di Solo pun hampir bisa dipastikan, meskipun Giring menyebut masih memiliki beberapa pekerjaan yang membuatnya mungkin baru akan datang di hari kedua. “Insyaallah hadir, mungkin hari kedua karena masih ada beberapa kerjaan,” ujarnya.
Sementara itu, laporan dari detikJateng pada Selasa (14/7) menyebutkan bahwa bendera-bendera berlogo gajah tersebut mulai muncul di Kota Solo sejak Minggu (13/7). Lokasi pemasangan mencakup berbagai titik strategis seperti di depan Kantor PSI Solo di Jalan Letjen Suprapto, serta di kawasan Banjarsari dan sepanjang Jalan Ahmad Yani. Simbol gajah yang menghadap ke atas dengan kepala merah dan tubuh hitam menjadi ciri khas desain anyar ini.
Di bagian bawah lambang tersebut tertulis “PSI” dalam warna hitam dengan tambahan slogan “Partai Super Tbk”, sebuah frase yang juga menuai perbincangan karena nuansanya yang menyerupai entitas bisnis terbuka (Tbk), meski hanya digunakan dalam konteks simbolik.
Respons dari PDIP terhadap perdebatan ini terdengar lebih diplomatis. Ketua DPP PDIP Said Abdullah saat dimintai komentar memilih untuk tidak menanggapi secara langsung. Ia menegaskan bahwa PDIP lebih memilih fokus pada penguatan internal partainya ketimbang menanggapi dinamika eksternal. “Saya tidak bisa mengomentari logo partai lainlah. Saya lebih baik menjaga dan membesarkan partai saya sendiri,” ujarnya di Senayan, Kamis (17/7).
Ketika ditanya apakah strategi PSI yang terlihat mencoba melakukan rebranding ini bertujuan merebut ceruk pemilih PDIP, Said Abdullah dengan percaya diri menjawab bahwa pihaknya tidak merasa terancam. Ia menyatakan bahwa basis pemilih PDIP terus berkembang dari waktu ke waktu dan tetap konsisten terhadap ideologi partai. “Pemilih PDIP terus berkembang, kita tetap percaya diri,” tegasnya.
Kongres Nasional PSI tahun ini bukan hanya menjadi ajang untuk menentukan kepemimpinan partai, tetapi juga momen strategis untuk memperkenalkan wajah baru PSI ke publik. Dengan keterlibatan tokoh besar seperti Presiden RI ke-7 Joko Widodo yang dijadwalkan hadir, dan peran sentral Kaesang Pangarep sebagai kandidat kuat ketua umum, panggung kongres di Solo diyakini akan menjadi sorotan politik nasional.
Dalam konteks politik simbolik, logo bukan hanya soal bentuk dan warna, melainkan juga tentang pesan, narasi, dan positioning. PSI tampaknya berusaha keluar dari bayang-bayang masa lalu dan membentuk identitas baru yang lebih segar dan relevan dengan dinamika generasi muda. Namun, apakah simbol gajah berkepala merah ini mampu merepresentasikan semangat baru PSI atau justru menimbulkan kebingungan di antara pemilih waktu yang akan menjawab.
































