Manyala.co – Gelombang protes besar di Nepal yang dipimpin generasi muda, terutama Gen Z, terus meningkat dan semakin brutal. Aksi-aksi di jalanan berubah menjadi kerusuhan yang menyasar langsung simbol-simbol kekuasaan, dari pembakaran rumah perdana menteri hingga pengejaran terhadap menteri keuangan di tengah kerumunan.
Salah satu momen yang paling mencuri perhatian publik terekam dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial. Bishnu Prasad Paudel, Menteri Keuangan Nepal berusia 65 tahun, terlihat berlari di jalanan ibu kota Kathmandu dengan puluhan orang mengejarnya. Seorang pengunjuk rasa muda datang dari arah berlawanan lalu melompat menendang tubuh sang menteri. Paudel terjatuh keras hingga menabrak tembok merah di pinggir jalan. Meski demikian, ia segera bangkit dan kembali berlari, sebelum rekaman terputus tanpa menunjukkan kelanjutan nasibnya.
Kericuhan ini tidak hanya menimpa pejabat keuangan. Rumah Perdana Menteri KP Sharma Oli juga dibakar massa yang marah. Oli, yang baru menjabat periode keempat tahun lalu setelah partainya berkoalisi dengan Kongres Nepal berhaluan kiri-tengah, pada akhirnya memilih mengundurkan diri. Keputusan itu datang hanya sehari setelah bentrokan berdarah dengan aparat yang menewaskan sedikitnya 19 orang, salah satu peristiwa paling mematikan di Nepal dalam beberapa tahun terakhir.
Aksi protes sendiri berawal dari kebijakan pemerintah yang pada Jumat (5/9) memblokir puluhan platform media sosial, termasuk Facebook, YouTube, dan X, dengan alasan perusahaan-perusahaan itu tidak terdaftar secara resmi. Meski larangan akhirnya dicabut pada Senin (8/9), massa tetap turun ke jalan. Demonstran menilai pencabutan tidak cukup, sebab masalah utama adalah maraknya korupsi di kalangan elite politik.
Pernyataan juru bicara kepolisian Kathmandu, Shekhar Khanal, memperkuat gambaran situasi kacau di lapangan. Ia mengakui bahwa protes terus berlangsung bahkan saat jam malam diberlakukan. “Ada pengunjuk rasa di jalanan di banyak wilayah. Terjadi kasus-kasus pembakaran serta penyerangan,” ujarnya seperti dikutip NDTV.
Kemarahan publik kian membesar setelah media sosial, khususnya TikTok yang tidak ikut diblokir, dipenuhi video-video perbandingan kehidupan rakyat miskin dengan anak-anak pejabat yang pamer barang mewah dan liburan mahal. Fenomena “flexing” kalangan elite ini dianggap menampar rakyat kecil, sehingga memicu generasi muda semakin berani melawan pemerintah.
Mundurnya Oli, disertai tiga menterinya, tidak serta-merta meredakan situasi. Sebaliknya, tuntutan reformasi lebih luas terus menggema di jalanan. Massa menolak sekadar pergantian orang, melainkan mendesak perubahan sistem yang dianggap sarat korupsi dan timpang dengan kondisi hidup rakyat.
Gelombang protes Gen Z di Nepal kini tidak hanya dilihat sebagai perlawanan terhadap aturan digital, tetapi juga sebagai luapan kekecewaan mendalam terhadap ketidakadilan sosial. Dengan rumah perdana menteri terbakar dan seorang menteri keuangan hampir diarak massa, krisis politik di negeri Himalaya berpenduduk 30 juta jiwa itu tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
































