Optimisme Masyarakat Tergerus, Daya Beli Melemah, Perekonomian dalam Tekanan

Optimisme Masyarakat Tergerus, Daya Beli Melemah, Perekonomian dalam Tekanan - Daya - Gambar 719
Optimisme Masyarakat Tergerus, Daya Beli Melemah, Perekonomian dalam Tekanan. (dok. Ai)

Manyala.co – Meskipun Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih bertahan di atas zona optimistis, sejumlah indikator menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mulai merasakan tekanan nyata dalam kehidupan ekonomi sehari-hari. Hasil survei Bank Indonesia (BI) pada Juni 2025 mencatat nilai IKK sebesar 117,8, sedikit lebih tinggi dibanding Mei lalu (117,5), tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan angka pada Juni 2024 yang mencapai 133,8. Penurunan ini menandai tren pelemahan keyakinan yang terus berlanjut sejak Maret 2025.

Menurut ekonom senior dari Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, tren penurunan ini tidak bisa dianggap sekadar siklus musiman. Ia mencerminkan pelemahan daya beli dan meningkatnya tekanan ekonomi terhadap rumah tangga, terutama di wilayah perkotaan. Lemahnya sentimen konsumsi membuat rumah tangga cenderung menahan belanja, dan lebih memilih menabung sebagai bentuk antisipasi.

Sinyal terkuat dari melemahnya optimisme ini datang dari kelompok masyarakat dengan pengeluaran bulanan antara Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Berdasarkan survei BI, kelompok ini mencatat IKK sebesar 108,7, yang menjadi titik terendah dibandingkan kelompok lain. Penurunan tajam ini sejalan dengan indikator makro lainnya seperti stagnasi pendapatan, perlambatan konsumsi rumah tangga, dan penurunan porsi konsumsi terhadap PDB yang turun dari 54,9 persen pada kuartal I-2024 menjadi 54,5 persen pada kuartal I-2025.

Indikator Mandiri Spending Index (MSI) juga menegaskan bahwa kelompok masyarakat bawah mengalami penurunan daya beli. Pada Ramadhan tahun ini, tingkat tabungan mereka turun dari 84,4 (Maret 2024) menjadi 79,8 (Maret 2025). Sementara itu, kelompok menengah relatif stabil, dan kelompok atas justru mengalami penurunan daya simpan.

Situasi kian kompleks akibat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus membayangi. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sedikitnya 24.036 pekerja terkena PHK antara Januari hingga April 2025. Namun, versi Partai Buruh menyebut jumlah tersebut bisa mencapai 70.000 buruh dalam periode yang sama. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat 40.683 klaim Jaminan Hari Tua akibat PHK sepanjang kuartal pertama 2025. Data ini diperkuat dengan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa jumlah pengangguran nasional bertambah 83.000 orang dalam setahun terakhir, menjadi 7,28 juta jiwa.

BPS: Ketimpangan Pengeluaran Indonesia Turun ke 0,363

Indeks ketersediaan lapangan kerja dari survei BI menunjukkan nilai pesimistis berturut-turut selama Mei dan Juni, yakni 95,7 dan 94,1. Menurut Achmad Nur Hidayat, akademisi dari UPN Veteran Jakarta, kondisi tersebut mencerminkan pasar tenaga kerja yang tidak sehat dan memperbesar potensi penyempitan ke sektor informal. Ini menyebabkan turunnya rasio pajak negara dan melemahnya akses masyarakat terhadap jaminan sosial serta perlindungan upah minimum.

Dampak dari pelemahan daya beli mulai terasa di berbagai sektor ekonomi. Pertumbuhan kredit perbankan yang tercatat sebesar 8,43 persen secara tahunan pada Mei 2025 mulai melambat dibandingkan dengan Januari yang masih tumbuh 10,27 persen. Penurunan konsumsi menyebabkan minimnya permintaan kredit, dan hal ini berpengaruh terhadap kehati-hatian bank dalam menurunkan suku bunga.

Selain itu, data BI menunjukkan konsumsi rumah tangga meningkat dari 73,9 persen menjadi 75,1 persen, sementara rasio tabungan turun dari 16,5 persen menjadi 14,1 persen, dan rasio cicilan pinjaman naik dari 9,6 persen menjadi 10,8 persen. Menurut Achmad, hal ini menandakan masyarakat menggunakan tabungan untuk bertahan hidup. “Seperti petani yang memakan bibit di musim paceklik,” ujarnya.

Yongky Susilo, pakar ritel dan Managing Director CRCS, menilai pemerintah perlu segera menghentikan praktik impor ilegal yang merugikan produsen dalam negeri serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja. “Produk lokal kalah bersaing karena banjir barang ilegal. Ini memperparah tekanan terhadap sektor UMKM,” jelasnya.

Para ekonom sepakat bahwa intervensi pemerintah sangat diperlukan. Nur Hidayat menyarankan agar arah pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi secara angka, tetapi lebih menekankan pada penciptaan lapangan kerja berkualitas dan berbasis sektor padat karya. David Sumual dari BCA menambahkan, efektivitas belanja negara menjadi kunci utama. “Tanpa belanja yang efisien dan ekspor yang meningkat, ekonomi bisa stagnan lebih lama,” katanya.

Menko Pangan Tinjau MBG Gowa Jelang Ramadan

Sementara itu, Josua Pardede dari Bank Permata menekankan pentingnya menjaga konsumsi di kalangan kelas menengah. Menurutnya, jika hanya fokus pada kelompok prasejahtera, pemulihan konsumsi bisa tidak merata. Ia menyarankan agar program stimulus diarahkan juga ke kelompok masyarakat yang sedang menuju kelas menengah agar efek pengungkitnya lebih besar.

Dalam kondisi seperti ini, arah kebijakan ekonomi pemerintah benar-benar diuji. Apakah mampu menjaga daya beli masyarakat yang menjadi mesin utama ekonomi nasional, atau malah membiarkan konsumsi dan keyakinan publik terus merosot, dengan konsekuensi stagnasi yang berkepanjangan.

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

01

Deretan Calon Ketua IKA Teknik Sipil Unhas, 2 Dosen Siap Lanjutkan Tongkat Kepemimpinan

02

Prabowo Luncurkan Program Gentengnisasi Lewat Gerakan Indonesia ASRI

03

Indonesia Dukung Palestina lewat Board of Peace, Israel Tetap Menolak

04

Serangan Bersenjata di Balochistan Tewaskan 48 Orang

05

Tujuh Pangkalan Udara Terbesar Amerika Berdasarkan Populasi

PEMKOT MAKASSAR - MANYALA.CO
manyala-ads
Manyala.co

Olahraga

Indonesia Ajukan Diri Tuan Rumah Piala Asia 2031

Indonesia Lolos Perempat Final Piala Asia Futsal 2026

Indonesia Juara Grup A Usai Imbang Lawan Irak

Alwi Farhan Lolos Final Indonesia Masters 2026

Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria, Solomon dan Saint Kitts di FIFA Series

Leo/Bagas Lolos Babak Kedua Indonesia Masters 2026

PSM Makassar Tambah Dua Pemain Asing Hadapi Putaran Kedua

Jonatan Christie Runner-up India Open 2026

PSM Makassar Hadirkan Bus Tim dan Rilis Jersey Khusus Suporter

Prabowo Realisasikan Bonus Atlet SEA Games 2025

Mental Juang PSM Makassar Diuji Jelang Laga Kontra Bali United

Malaysia Open 2026: Lima Wakil Indonesia Tampil di Babak 16 Besar

PSM Makassar Uji Pertahanan Hadapi Trisula Borneo FC

Indonesia Usulkan Australia dan Selandia Baru Ikut SEA Games

Indonesia Juara Piala AFF Futsal U-16

Trucha Optimistis PSM Kejar Lima Besar Meski Tanpa Kemenangan

Indonesia U-16 Melaju ke Final AFF Futsal 2025

Ranking FIFA Terbaru: Indonesia Bertahan di Posisi 122

Futsal Competition 2025, KKG PJOK Tallo Tekankan Kolaborasi

Indonesia Melaju ke Final Voli Putra SEA Games 2025

Kolom