Manyala.co – Setelah lebih dari tiga tahun tanpa pembicaraan langsung, Rusia dan Ukraina akhirnya kembali duduk bersama dalam sebuah forum negosiasi perdamaian yang berlangsung di Istanbul, Turki, pada Jumat (16/5/2025). Sayangnya, harapan besar yang disematkan pada momen bersejarah ini tidak membuahkan hasil berarti. Pertemuan tersebut hanya berlangsung selama dua jam dan berakhir tanpa kemajuan signifikan.
Rusia-Ukraina Hanya Berlangsung Dua Jam Setelah Tiga Tahun Tanpa Dialog
Pertemuan ini menjadi yang pertama sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada Februari 2022. Banyak pihak berharap bahwa pertemuan ini akan membuka jalan bagi gencatan senjata atau setidaknya mengurangi eskalasi konflik. Namun, perbedaan pandangan yang mencolok antara kedua belah pihak sudah terlihat sejak sesi awal dimulai.
Tuntutan Rusia Dinilai Tidak Masuk Akal, Ukraina Bersikeras pada Gencatan Senjata Tanpa Syarat
Sumber dari delegasi Ukraina menyebut bahwa pihak Rusia mengajukan tuntutan-tuntutan baru yang jauh melebihi apa yang pernah mereka utarakan sebelumnya dalam proses perdamaian. Persyaratan tersebut bahkan dianggap tidak realistis dan kurang menunjukkan niat konstruktif untuk menghentikan perang.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sendiri menegaskan bahwa Kyiv hanya menginginkan satu hal: gencatan senjata penuh dan tanpa syarat. Ia menambahkan bahwa jika Moskwa tetap bersikukuh pada tuntutan yang tidak masuk akal, maka Ukraina akan mendorong penerapan sanksi ekonomi tambahan terhadap Rusia, khususnya yang menyasar sektor energi dan perbankan.
“Kami tidak ingin gencatan senjata palsu. Kami ingin perdamaian yang sungguh-sungguh, dilakukan dengan niat baik,” ujar Zelensky dalam pernyataannya usai negosiasi.
Trump: Tidak Akan Ada Kemajuan Tanpa Pertemuan Saya dengan Putin
Di sisi lain, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang saat ini kembali aktif dalam urusan internasional, menilai bahwa negosiasi damai antara Rusia dan Ukraina tidak akan berkembang tanpa keterlibatan langsung dirinya dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Trump baru saja menyelesaikan kunjungannya ke Timur Tengah sehari sebelum negosiasi berlangsung dan menyampaikan bahwa peran AS masih sangat penting dalam menyelesaikan konflik ini.
“Tidak akan terjadi apa pun sampai saya bertemu langsung dengan Putin,” ujar Trump menanggapi hasil pertemuan yang mengecewakan.
Rusia Tuduh Ukraina Memanfaatkan Gencatan Senjata untuk Perkuat Militer
Sementara itu, dari pihak Rusia, ada pernyataan yang menyiratkan kesediaan untuk mengakhiri perang lewat jalur diplomasi. Namun, Moskwa tetap menunjukkan keraguan terhadap niat Ukraina. Pemerintah Rusia menuding Kyiv selama ini memanfaatkan masa gencatan senjata untuk mengonsolidasikan kekuatan militer, menambah pasukan, dan menerima kiriman senjata dari negara-negara Barat.
Delegasi Rusia dipimpin oleh Vladimir Medinsky, ajudan Kremlin yang sebelumnya juga menjabat sebagai ketua tim negosiasi pada tahun 2022. Ia didampingi oleh Wakil Menteri Pertahanan Alexander Fomin, Wakil Menteri Luar Negeri Mikhail Galuzin, dan Kepala Intelijen Militer Rusia Igor Kostyukov. Dari pihak Ukraina, delegasi dipimpin oleh Menteri Pertahanan Rustem Umerov.
Babak Baru Upaya Perdamaian Masih Samar
Meskipun durasi pertemuan tergolong singkat dan tanpa hasil konkret, pertemuan ini tetap menandai kembalinya kedua pihak ke meja dialog sesuatu yang belum terjadi sejak awal perang pecah. Walau masih jauh dari kata sepakat, beberapa pengamat melihat pertemuan ini sebagai sinyal awal bahwa ruang diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Namun, selama tuntutan Rusia tetap dinilai tidak masuk akal dan Ukraina tetap bersikeras pada gencatan senjata total, peluang kompromi tampaknya masih sangat kecil. Dunia internasional pun kini menunggu langkah selanjutnya, baik dari kedua negara maupun dari kekuatan besar seperti Amerika Serikat.
































