Manyala.co – Direktorat Polisi Satwa Korsabhara Baharkam Polri menggunakan empat unit simulator berkuda senilai Rp1 miliar per unit sebagai fasilitas pelatihan anggota detasemen turangga sebelum berlatih menggunakan kuda asli di Depok, Jawa Barat.
Simulator tersebut merupakan bagian dari sarana pelatihan kepolisian yang telah digunakan sejak 2016 di kompleks Direktorat Polisi Satwa Polri, Kelapa Dua, Kota Depok. Fasilitas ini dirancang untuk membantu anggota mempelajari teknik menunggang kuda sekaligus mengurangi risiko kecelakaan selama tahap awal latihan.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir mengatakan pengadaan simulator dilakukan melalui anggaran tahun 2016 sebagai bagian dari penguatan fasilitas pendidikan dan pelatihan kepolisian.
“Harganya per unit Rp1 miliar,” kata Isir kepada wartawan, Selasa (10/3/2026).
Simulator berkuda digunakan sebagai tahap awal latihan bagi anggota detasemen turangga sebelum berinteraksi langsung dengan hewan. Menurut kepolisian, pendekatan tersebut dinilai penting untuk meminimalkan potensi cedera yang dapat terjadi saat pelatihan menggunakan kuda sebenarnya.
Kasubdit Cakkal Ditpolsatwa Polri Kombes Gatot Aris menjelaskan bahwa naluri hewan, termasuk kuda yang telah terlatih sekalipun, tetap memiliki potensi risiko bagi penunggang yang belum memiliki keterampilan dasar.
“Ini menjadi urgen karena dengan simulator tentu meminimalisir daripada sebuah risiko. Mau jinak atau hebatnya hewan, sisi naluri buas mereka bisa membahayakan,” kata Gatot saat ditemui di Depok, Rabu (11/3/2026).
Fasilitas pelatihan tersebut terdiri dari empat unit simulator dengan fungsi yang berbeda. Simulator pertama digunakan untuk melatih teknik dasar menunggang, seperti berjalan, berlari, hingga galop.
Unit kedua dirancang untuk melatih kemampuan melompati rintangan atau jumping, dengan simulasi medan rintangan yang ditampilkan melalui layar. Sementara dua unit lainnya digunakan untuk latihan kecepatan atau balapan.
Setiap simulator dilengkapi perangkat yang menyerupai perlengkapan kuda asli, termasuk tali kekang, sanggurdi, serta pelana. Di bagian depan alat terdapat layar LCD yang menampilkan medan simulasi sehingga penunggang dapat mempraktikkan teknik berkuda secara interaktif.
Seorang anggota detasemen turangga bernama Indah mengatakan waktu yang dibutuhkan untuk menguasai simulator bervariasi, namun umumnya berkisar satu hingga dua minggu latihan intensif.
“Kalau penilaian dari saya pribadi itu tingkat akurasi menggunakan simulator dengan kuda sesungguhnya bisa sekitar 9 dari 10. Jadi memang hampir sangat akurat,” kata Indah.
Ruang simulasi tersebut berada di lantai dua gedung Transfer Knowledge Center Animal Police, yang juga berfungsi sebagai museum edukasi mengenai unit satwa kepolisian, termasuk anjing pelacak K-9 dan kuda turangga.
Selain digunakan untuk pelatihan internal kepolisian, fasilitas ini juga dibuka untuk kunjungan masyarakat umum. Kepolisian menyatakan sejumlah kelompok pelajar, mulai dari PAUD hingga sekolah dasar, telah berkunjung dan mencoba simulator berkuda dalam kegiatan edukasi.
Berdasarkan catatan Direktorat Polisi Satwa, beberapa kunjungan sekolah berlangsung antara November 2025 hingga Februari 2026 dengan melibatkan puluhan siswa.
Pengunjung yang ingin mencoba simulator dapat mengajukan permohonan kunjungan resmi kepada pihak kepolisian dengan mencantumkan jadwal kedatangan.
Polri menyatakan fasilitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelatihan anggota turangga sekaligus memberikan sarana edukasi kepada masyarakat mengenai peran unit satwa dalam mendukung tugas kepolisian.
































