Manyala.co – Polda Metro Jaya mengonfirmasi bahwa penyelidikan mendalam terhadap kasus kematian diplomat Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan, terus berlangsung. Salah satu langkah krusial dalam penyelidikan tersebut adalah pemeriksaan psikologi forensik yang sudah dimulai sejak Minggu lalu. Namun hingga kini, hasil analisis tersebut masih dalam proses dan belum dapat diumumkan kepada publik.
AKBP Reonald Truly Sohumuntal Simanjuntak, selaku Kepala Subbidang Penerangan Masyarakat (Kasubbid Penmas) Polda Metro Jaya, menjelaskan bahwa tim ahli psikologi forensik telah bekerja melakukan pendalaman secara menyeluruh. Pemeriksaan dilakukan untuk memahami kondisi psikologis Arya sebelum kematiannya serta kemungkinan faktor-faktor psikologis yang relevan dengan penyebab wafatnya sang diplomat.
Menurut Reonald, forensik psikologi merupakan cabang ilmu yang menggabungkan prinsip-prinsip psikologi dengan ranah hukum, baik pidana maupun perdata. Pemeriksaan ini melibatkan analisis kejiwaan korban, pembentukan profil psikologis, serta penelaahan terhadap dinamika sosial yang mungkin berpengaruh. Para ahli di bidang ini, yang dikenal sebagai psikolog forensik, memegang peran penting dalam memberikan pandangan objektif dan ilmiah terhadap kasus-kasus dengan kompleksitas psikologis.
Dalam keterangannya kepada awak media pada Sabtu (19/7) di Mapolda Metro Jaya, Reonald mengimbau masyarakat agar bersabar menanti hasil dari pemeriksaan yang tengah dilakukan. Ia menyatakan bahwa proses penyelidikan dilakukan secara hati-hati dan menyeluruh, serta akan disampaikan secara transparan setelah tim penyidik memperoleh seluruh bukti pendukung dan hasil analisis forensik yang dibutuhkan.
“Semua keterangan dan alat bukti akan dikaji secara komprehensif sebelum disampaikan kepada publik. Kami tidak ingin berspekulasi. Hasil resmi nantinya akan diumumkan langsung oleh tim ahli,” ujar Reonald.
Dari sisi investigasi kriminal, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya, khususnya dari Subdirektorat Reserse Mobil (Resmob), juga masih menunggu hasil yang sedang dikembangkan oleh laboratorium forensik dan tim psikolog. Mereka tengah mengumpulkan seluruh elemen bukti yang berkaitan dengan peristiwa tragis yang menimpa Arya.
Arya Daru Pangayunan ditemukan meninggal dunia di sebuah kamar indekos pada Rabu, 9 Juli 2025. Lokasi penemuan jenazah yang terletak di kawasan Jakarta menjadi titik awal penyelidikan intensif oleh pihak kepolisian. Garis polisi terlihat membentang di depan pintu tempat tinggal Arya, sementara sejumlah petugas berjaga di lokasi untuk memastikan prosedur investigasi berjalan tanpa gangguan.
Jenazah diplomat berusia 39 tahun tersebut kemudian dipulangkan ke kediaman keluarganya di Jalan Munggur, Jomblang, Janti, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Kehilangan Arya menjadi duka mendalam, terutama bagi rekan-rekan di Kementerian Luar Negeri yang mengenalnya sebagai sosok berdedikasi tinggi.
Reonald menegaskan bahwa institusinya berkomitmen untuk menuntaskan penyelidikan ini hingga tuntas dan tidak akan mengabaikan setiap aspek yang bisa menjelaskan penyebab pasti kematian Arya. Ia berharap tidak ada kendala besar dalam proses pengungkapan kasus ini dan berjanji bahwa polisi akan tetap terbuka kepada publik.
“Kami pastikan tidak ada yang ditutup-tutupi. Hasil penyelidikan akan kami paparkan dengan jelas, dan para ahli yang menangani akan menjelaskan detailnya dalam waktu yang tepat,” pungkas Reonald, menutup pernyataannya.
Dengan latar belakang diplomatik Arya yang cukup menonjol, publik pun menaruh perhatian besar terhadap penyebab kematiannya yang masih menyimpan banyak pertanyaan. Saat ini, semua pihak masih menunggu hasil final dari psikologi forensik serta proses laboratorium lainnya yang diharapkan bisa menguak tabir misteri di balik tragedi ini.
































