TEL AVIV — Spekulasi mengenai kondisi Benjamin Netanyahu muncul setelah sejumlah laporan media Iran menyebut Perdana Menteri Israel itu kemungkinan terluka atau tewas akibat serangan balasan Iran, namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Israel.
Rumor tersebut berkembang di tengah meningkatnya ketegangan regional sejak operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah kota di Iran pada 28 Februari 2026.
Spekulasi pertama kali mencuat setelah kantor berita Iran, Tasnim News Agency, melaporkan pada 11 Maret bahwa Netanyahu kemungkinan mengalami luka parah atau tewas dalam serangan balasan terbaru yang terjadi dalam konflik yang sedang berlangsung.
Laporan tersebut menyoroti ketidakhadiran Netanyahu di ruang publik selama hampir empat hari terakhir. Media Iran itu menyebut situasi tersebut tidak biasa karena sebelumnya Netanyahu kerap menyampaikan pesan video hampir setiap hari kepada publik Israel.
Menurut laporan tersebut, selama periode tersebut pernyataan yang dikaitkan dengan Netanyahu hanya dirilis dalam bentuk tertulis tanpa disertai rekaman video atau foto terbaru.
Tasnim juga mengeklaim bahwa Itamar Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel, serta saudara Netanyahu, Iddo Netanyahu, kemungkinan turut menjadi korban dalam serangan tersebut. Namun media itu menyatakan klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Spekulasi semakin meningkat setelah dua utusan Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner, secara mendadak membatalkan rencana kunjungan ke Israel yang sebelumnya dijadwalkan untuk membahas konflik regional.
Hingga saat ini, pemerintah Amerika Serikat maupun pejabat Israel belum memberikan penjelasan resmi terkait alasan pembatalan kunjungan tersebut.
Sejumlah laporan lain juga menyebut bahwa pengamanan di sekitar kediaman resmi perdana menteri Israel diperketat. Namun tidak ada keterangan resmi yang mengaitkan peningkatan pengamanan tersebut dengan kondisi Netanyahu.
Situasi ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang meluas sejak akhir Februari. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap target di Iran memicu serangkaian serangan balasan yang kemudian melibatkan kelompok bersenjata di kawasan.
Beberapa laporan menyebut konflik tersebut turut melibatkan kelompok Hizbullah di Lebanon serta gerakan Houthi di Yaman.
Data sementara yang beredar di berbagai laporan media menunjukkan jumlah korban jiwa dalam konflik regional tersebut telah melampaui 2.000 orang, sementara ratusan ribu warga dilaporkan mengungsi dari wilayah terdampak.
Di sisi lain, media Israel The Jerusalem Post membantah rumor mengenai kematian Netanyahu dan menyebut klaim tersebut sebagai teori konspirasi yang tidak didukung bukti yang jelas.
Media tersebut menyatakan laporan yang beredar sebagian besar hanya menggabungkan sejumlah indikasi tidak langsung, seperti absennya video terbaru Netanyahu, peningkatan pengamanan di kediamannya, serta pembatalan kunjungan pejabat asing.
Tasnim dalam laporannya juga mengutip klaim mantan perwira intelijen Amerika Serikat, Scott Ritter, yang disampaikan melalui media Rusia. Ia menyatakan Iran telah membombardir lokasi persembunyian Netanyahu dan menewaskan saudaranya.
Namun hingga kini tidak ada bukti independen yang dapat mengonfirmasi klaim tersebut.
Sejumlah informasi publik yang dirilis pemerintah Israel justru menunjukkan bahwa Netanyahu masih menjalankan aktivitas resmi dalam beberapa hari terakhir.
Kantor Perdana Menteri Israel tercatat merilis pernyataan resmi dari Netanyahu pada 7 Maret. Selain itu, portal pemerintah Israel melaporkan bahwa ia mengunjungi lokasi dampak serangan di kota Beersheba pada 6 Maret.
Laporan lain juga menyebut Netanyahu melakukan percakapan telepon dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, sebagaimana diumumkan oleh Istana Élysée.
Hingga laporan ini disusun, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Israel yang secara langsung menanggapi rumor mengenai kondisi kesehatan atau keselamatan Netanyahu.
































