Manyala.co – Sedikitnya 48 orang tewas dalam rangkaian serangan bom dan senjata api yang melanda Provinsi Balochistan, Pakistan, pada Sabtu (31/1/2026), dalam aksi yang diklaim dilakukan kelompok pemberontak Tentara Pembebasan Balochistan (BLA).
Pejabat keamanan Pakistan menyatakan korban tewas terdiri dari 31 warga sipil dan 17 personel militer. Serangan terjadi secara hampir bersamaan di 12 kota di Balochistan, menargetkan permukiman warga, gedung pemerintah, serta kantor kepolisian.
Menurut otoritas setempat, pelaku menggunakan kombinasi senjata api dan bahan peledak untuk menyerang berbagai titik strategis. Aparat keamanan langsung meningkatkan status siaga dan mengerahkan pasukan tambahan ke wilayah terdampak untuk menstabilkan situasi.
Kepala Menteri Provinsi Balochistan, Sarfraz Bugti, mengatakan militer Pakistan telah melakukan operasi balasan terhadap kelompok bersenjata tersebut. Ia menyebut pasukan keamanan berhasil menewaskan 145 anggota BLA dalam operasi lanjutan pascaserangan. Hingga Sabtu malam, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Pemerintah Pakistan menuding India turut berperan dalam mendukung BLA, termasuk dalam penyediaan bantuan logistik dan intelijen. Tuduhan tersebut kembali memperkeruh hubungan kedua negara bertetangga yang selama ini telah diwarnai ketegangan diplomatik dan sengketa keamanan regional.
India secara konsisten membantah tuduhan tersebut. Pemerintah di New Delhi menyatakan tidak memiliki keterlibatan dalam aktivitas kelompok bersenjata di Pakistan dan menilai tudingan itu tidak berdasar. Hingga Minggu pagi, belum ada pernyataan resmi lanjutan dari otoritas India terkait insiden terbaru ini.
BLA merupakan kelompok separatis bersenjata yang telah lama menuntut kemerdekaan Provinsi Balochistan dari Pakistan. Kelompok ini menyatakan serangan dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah federal, yang mereka tuding mengeksploitasi sumber daya alam Balochistan tanpa memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat lokal.
Balochistan dikenal sebagai provinsi terbesar di Pakistan berdasarkan luas wilayah, mencakup sekitar 44 persen teritorial negara tersebut. Wilayah ini juga kaya akan sumber daya mineral dan gas alam, menjadikannya kawasan strategis bagi perekonomian nasional Pakistan.
Namun, ketimpangan pembangunan dan distribusi hasil sumber daya alam telah lama menjadi sumber ketegangan. Sejak 1948, berbagai kelompok di Balochistan berulang kali melakukan pemberontakan bersenjata dengan tuntutan otonomi lebih luas hingga pemisahan diri.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menegaskan pemerintah akan melanjutkan operasi keamanan untuk memberantas kelompok bersenjata. “Kami berjanji untuk melanjutkan perang melawan terorisme hingga berhasil memberantasnya secara total,” ujar Sharif, seperti dikutip oleh BBC.
Serangan terbaru ini menambah daftar panjang kekerasan di Balochistan, yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu wilayah paling tidak stabil di Pakistan. Pemerintah pusat menyatakan akan meningkatkan pengamanan fasilitas publik dan infrastruktur vital, termasuk proyek energi dan pertambangan di wilayah tersebut.
Hingga Minggu malam, otoritas Pakistan belum mengumumkan jumlah pasti korban luka maupun dampak lanjutan terhadap aktivitas sipil. Penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan kronologi lengkap dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
































