Manyala.co – Pemilihan Paus di Vatikan bukan sekadar proses keagamaan, melainkan rangkaian ritus yang sudah berlangsung nyaris tanpa perubahan selama lebih dari delapan abad. Dari banyak pertanyaan yang muncul selama masa pemilihan ini, satu yang kerap mencuat adalah: mengapa tidak pernah ada Paus wanita?
Jawaban Terselubung dalam Hukum Gereja
Gereja Katolik memiliki aturan internal yang sangat ketat, tertuang dalam Hukum Kanonik (Code of Canon Law), yang mengatur setiap aspek kehidupan gerejawi, termasuk kriteria pemilihan paus. Salah satu syarat yang mutlak adalah bahwa paus haruslah seorang pria. Ini bukan sekadar tradisi, melainkan aturan hukum yang mengikat dan telah dipegang teguh sejak ratusan tahun lalu.
Untuk bisa terpilih sebagai Paus Roma, seseorang haruslah seorang kardinal yang semuanya pria dan sebelumnya telah ditahbiskan sebagai imam dan uskup. Nah, di sinilah letak kuncinya: Gereja Katolik tidak membuka jalur penahbisan bagi perempuan. Maka secara struktural dan teologis, seorang wanita tidak punya jalur untuk mencapai posisi tertinggi di Vatikan.
Sede Vacante: Masa Hening Menuju Pemilihan Paus Baru
Setelah wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025, Gereja Katolik memasuki masa yang disebut Sede Vacante, yaitu periode kosongnya takhta kepausan. Selama masa ini, segala urusan kepausan dihentikan sementara, dan tanggung jawab administratif dipegang oleh para kardinal senior.
Masa Sede Vacante menjadi penanda dimulainya tahapan menuju konklaf, yaitu proses pemilihan paus baru yang sangat sakral dan penuh kerahasiaan. Tahun ini, konklaf dijadwalkan berlangsung mulai 7 Mei 2025, dan hanya kardinal di bawah usia 80 tahun yang boleh ikut serta sebagai pemilih.
Konklaf: Tradisi yang Nyaris Tak Tergoyahkan
Konklaf bukan sekadar proses pemilihan, melainkan cerminan dari warisan dan simbol kesatuan Gereja Katolik. Kardinal-kardinal pemilih akan dikurung di Kapel Sistina dan tidak diizinkan berkomunikasi dengan dunia luar hingga paus baru terpilih. Prosedurnya sangat terikat tradisi, mulai dari tata cara pemungutan suara, penguncian ruangan, hingga ritual pembakaran surat suara yang menghasilkan asap putih atau hitam sebagai tanda hasil pemilihan.
Namun di balik segala keagungan itu, sorotan tetap ada: semua kardinal yang memilih adalah pria, dan hanya pria yang bisa terpilih menjadi paus.
Paus Joan: Antara Fakta Sejarah dan Mitologi
Menariknya, di balik ketatnya sistem ini, ada satu kisah legendaris yang terus hidup dalam bayang-bayang sejarah Gereja: legenda tentang Paus Joan. Cerita ini menyebutkan bahwa seorang wanita cerdas dari Jerman berhasil menyamar sebagai pria, meniti karier di lingkungan gereja, hingga akhirnya terpilih sebagai paus sekitar abad ke-9.
Versi paling populer menyebutkan bahwa ia memerintah setelah wafatnya Paus Leo IV, dan kedoknya terbongkar saat ia melahirkan di tengah prosesi publik. Meski Vatikan tidak pernah mengakui kebenaran cerita ini dan tidak ada catatan resmi yang mendukungnya, legenda Paus Joan tetap menarik perhatian dunia karena menjadi satu-satunya narasi yang menempatkan perempuan di posisi tertinggi Gereja, meski hanya dalam cerita rakyat.
Perempuan dan Kepemimpinan Gereja: Jalan yang Masih Tertutup
Dalam beberapa dekade terakhir, wacana tentang keterlibatan perempuan dalam struktur kepemimpinan Gereja Katolik memang semakin banyak dibicarakan. Namun sejauh ini, Vatikan tetap pada pendiriannya bahwa penahbisan perempuan sebagai imam tidak sejalan dengan ajaran gereja yang bersumber dari tradisi para rasul.
Paus Fransiskus sendiri sempat membuka ruang dialog soal peran perempuan di gereja, tapi tetap menegaskan bahwa penahbisan hanya diperuntukkan bagi laki-laki. Ini berarti, meskipun perempuan bisa memegang peran penting di banyak bidang kehidupan gereja, seperti pendidikan, pelayanan sosial, dan teologi, takhta kepausan tetap tertutup bagi mereka.
































