Manyala.co – Lantai tiga Rumah Sakit Dr Soeharto Heerdjan di Jakarta menjadi tempat yang akrab bagi Sartini dan putranya, Hasbi, 12 tahun, yang menjalani terapi perilaku sejak 2022 karena gangguan fokus dan ledakan emosi yang diperburuk oleh penggunaan gawai berlebihan. Terapi itu disarankan guru sekolah setelah Hasbi kesulitan belajar, mudah marah, dan beberapa kali bersikap agresif di kelas.
Setelah mendapat rujukan BPJS, Sartini membawa Hasbi ke psikiater anak dan mengikuti sesi bulanan selama lima bulan pertama. Hasbi kemudian mengikuti terapi daycare yang melatih kemandirian, regulasi emosi, dan kemampuan mengikuti instruksi. Sartini mengatakan kondisi Hasbi membaik setelah mendapatkan obat yang sebenarnya cukup mahal, namun seluruh biayanya telah ditanggung BPJS.
Di rumah, Hasbi menghabiskan waktu sendiri sepulang sekolah, sementara kedua orang tuanya bekerja. Dokter telah meminta pembatasan penggunaan gadget maksimal 1–2 jam per hari, namun Sartini mengakui aturan itu sulit berjalan. Hasbi sering menggunakan ponsel untuk gim online, menonton video, hingga membuat konten sendiri.
Kisah serupa dialami Rona, perempuan asal Blitar, yang mendapati putranya menunjukkan tanda-tanda kecanduan gawai sejak usia dua tahun. Tablet awalnya digunakan sebagai alat bantu menyapih, namun berubah menjadi pemicu tantrum berkepanjangan, gangguan tidur, dan penurunan fokus. Setelah enam bulan tanpa gawai, perilaku anaknya membaik, tetapi ia kembali terpapar konten cepat dari video pendek yang membuat performa sekolahnya menurun.
Di Poli Jiwa Anak dan Remaja RSJ Soeharto Heerdjan, adiksi gawai kini menjadi salah satu alasan utama rawat inap. Menurut psikiater anak, dr Isa Multazam Noor, pihaknya menangani dua hingga tiga pasien rawat inap per minggu dalam dua bulan terakhir. Usia pasien termuda yang ditangani adalah 10 tahun. Mayoritas kecanduan gim online, meski ada pula kasus kecanduan pornografi.
Isa menjelaskan sebagian besar pasien datang setelah pihak sekolah melaporkan perubahan perilaku seperti impulsivitas, agresivitas, atau menurunnya kemampuan fokus. Anak kemudian dirujuk ke rumah sakit dengan asesmen lengkap melalui pemeriksaan medis, psikotes, dan wawancara orang tua. Sekitar 80 persen pasien menggunakan BPJS untuk layanan obat, terapi, dan pemeriksaan pendukung.
Kasus yang berat biasanya memerlukan rawat inap selama 5–10 hari, dengan gawai diambil sepenuhnya. Anak mengikuti jadwal ketat berisi aktivitas fisik, terapi seni, konseling, dan latihan regulasi emosi. Pada hari-hari awal, beberapa mengalami gejala putus gawai seperti gelisah dan marah. Untuk kasus yang tidak memerlukan rawat inap, RSJ menyediakan daycare Kuas Biru yang berfungsi sebagai ruang terapi harian.
Isa menyebut pola kasus relatif seragam: dua orang tua bekerja, minim pengawasan digital, anak memalsukan umur di aplikasi, serta penggunaan gawai hingga larut malam yang berdampak langsung pada perilaku dan prestasi sekolah.
Kementerian Komunikasi dan Informatika mengakui fenomena ini sebagai tren global. Dirjen Ekosistem Digital Kominfo, Edwin Hidayat, mengatakan persoalan utama bukan internet itu sendiri, melainkan konten dan aplikasi yang tidak sesuai usia. Pemerintah menyiapkan penerapan Indonesia Game Rating System (IGRS) yang mulai berlaku 1 Januari 2026 untuk membatasi akses gim berdasarkan umur.
Edwin menegaskan penyedia platform wajib mencantumkan klasifikasi usia, dan gim yang tidak mengikuti aturan tidak boleh beredar. Pemerintah juga menerapkan kewajiban verifikasi KTP bagi pengguna baru media sosial melalui PP Tunas. Namun ia mengingatkan bahwa pengawasan utama tetap berada pada keluarga dan komunitas.
































