Manyala.co – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintahannya tengah menelaah berbagai langkah tegas untuk merespons gelombang protes besar yang melanda Iran, termasuk kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One pada Minggu (11/1/2026).
Trump mengungkapkan bahwa sejumlah pejabat senior Iran disebut telah menghubungi Washington dan berupaya membuka jalur perundingan menyusul ancaman aksi militer AS. Menurutnya, pembicaraan awal sedang disiapkan, meskipun ia menegaskan bahwa tindakan dapat diambil sebelum pertemuan tersebut terlaksana.
“Kami mempertimbangkannya dengan sangat serius. Militer juga sedang mengkaji berbagai opsi kuat. Keputusan akan diambil,” kata Trump, sebagaimana dikutip Al Jazeera.
Pernyataan Trump memicu reaksi keras dari Teheran. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan menjadikan wilayah Israel serta pangkalan dan kapal militer AS sebagai sasaran yang sah.
Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Reuters bahwa Trump dijadwalkan bertemu para penasihat keamanan nasional pada Selasa (13/1/2026) untuk membahas langkah lanjutan terkait Iran. Sejumlah opsi yang dibahas, menurut laporan Wall Street Journal, mencakup serangan militer terbatas, operasi siber rahasia, pengetatan sanksi ekonomi, hingga dukungan daring terhadap kelompok anti-pemerintah.
Trump juga menyampaikan rencana untuk berbicara dengan miliarder Elon Musk terkait kemungkinan pemulihan akses internet di Iran. Layanan internet satelit Starlink milik SpaceX disebut telah digunakan secara terbatas di negara tersebut di tengah pemadaman jaringan nasional.
Selain isu Iran, Trump turut menyinggung agenda luar negeri lain, termasuk rencananya terkait Greenland dan Venezuela. Ia kembali menyatakan minat AS terhadap Greenland dan menegaskan bahwa pembicaraan tersebut berkaitan dengan akuisisi, bukan sekadar kesepakatan jangka pendek. Sementara untuk Venezuela, Trump mengonfirmasi rencana pertemuan dengan pemimpin oposisi Maria Corina Machado pada pertengahan pekan ini.
Protes Meluas dan Korban Jiwa
Gelombang protes di Iran bermula pada 28 Desember 2025, ketika pedagang di Grand Bazaar Teheran menutup toko sebagai bentuk protes terhadap anjloknya nilai tukar rial. Aksi tersebut dengan cepat meluas ke berbagai kota dan berkembang dari tuntutan ekonomi menjadi penolakan terhadap pemerintahan ulama yang berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 109 personel keamanan tewas dalam kerusuhan, namun tidak merinci jumlah korban dari kalangan demonstran. Kelompok oposisi di luar negeri menyebut angka korban sipil jauh lebih tinggi.
Pemadaman internet nasional telah berlangsung lebih dari 72 jam, menurut lembaga pemantau jaringan, yang dinilai memperburuk situasi serta menghambat verifikasi jumlah korban sebenarnya.
Peringatan Kelompok HAM
Kelompok hak asasi manusia internasional memperingatkan adanya eskalasi kekerasan serius. LSM Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia mengklaim telah mengonfirmasi sedikitnya 192 demonstran tewas, dengan dugaan jumlah korban sebenarnya mencapai ratusan, bahkan ribuan orang.
IHR menuding aparat Iran melakukan pembunuhan massal dalam penindakan protes, yang kini disebut sebagai salah satu tantangan terbesar bagi kepemimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam beberapa tahun terakhir.
Rekaman video yang diverifikasi AFP menunjukkan puluhan jenazah tergeletak di luar kamar mayat di wilayah Kahrizak, selatan Teheran. Video tersebut memperlihatkan tubuh-tubuh yang dibungkus kantong hitam, sementara keluarga korban tampak mencari kerabat mereka.
Di Teheran, situasi kota dilaporkan hampir lumpuh. Harga bahan pangan melonjak tajam, aktivitas perdagangan dibatasi, dan pasukan keamanan dikerahkan secara besar-besaran pada sore hari.
Trump sebelumnya menyatakan dukungan terbuka terhadap aksi protes di Iran dan memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat bertindak secara militer apabila otoritas Iran terus melakukan pembunuhan terhadap warganya.
































