Manyala.co – Empat fenomena gerhana akan terjadi sepanjang 2026, namun hanya satu di antaranya, yakni gerhana bulan total, yang dapat disaksikan langsung dari wilayah Indonesia karena faktor posisi geografis dan lintasan bayangan. (9/1/2026).
Sepanjang tahun 2026, akan terjadi empat peristiwa gerhana yang terdiri atas dua gerhana bulan dan dua gerhana matahari. Fenomena ini merupakan peristiwa astronomi rutin yang terjadi akibat konfigurasi tertentu antara Matahari, Bumi, dan Bulan dalam satu garis lurus atau hampir sejajar.
Namun, tidak seluruh gerhana tersebut dapat diamati dari Indonesia. Dari empat fenomena yang diprediksi terjadi, hanya satu yang dapat dilihat langsung oleh masyarakat Indonesia, yaitu gerhana bulan total. Gerhana lainnya akan terjadi di wilayah yang tidak dilalui oleh bayangan Bumi atau Bulan jika dilihat dari Indonesia.
Gerhana bulan total terjadi ketika Bulan sepenuhnya masuk ke dalam umbra atau bayangan inti Bumi. Pada fase ini, Bulan tidak menghilang sepenuhnya, melainkan tampak berwarna kemerahan akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Fenomena ini dapat diamati tanpa alat bantu khusus jika cuaca mendukung.
Sementara itu, keterlihatan suatu gerhana sangat ditentukan oleh posisi geografis pengamat di permukaan Bumi. Setiap gerhana memiliki lintasan bayangan yang terbatas, sehingga hanya wilayah tertentu yang berada dalam jalur tersebut yang dapat menyaksikannya secara langsung.
Indonesia, yang terletak di kawasan ekuator, tidak selalu berada dalam lintasan bayangan setiap gerhana. Pada 2026, sebagian besar lintasan bayangan gerhana matahari dan satu gerhana bulan lainnya berada di wilayah belahan Bumi tertentu, sehingga tidak melintasi kawasan Indonesia.
Fenomena ini merupakan konsekuensi dari kemiringan orbit Bulan terhadap bidang edar Bumi mengelilingi Matahari. Kemiringan tersebut menyebabkan tidak setiap fase bulan baru atau purnama menghasilkan gerhana, dan ketika gerhana terjadi, lintasannya hanya meliputi area tertentu di permukaan Bumi.
Secara global, gerhana matahari biasanya hanya dapat disaksikan dari wilayah sempit yang dilalui oleh bayangan Bulan, khususnya untuk gerhana matahari total atau cincin. Sebaliknya, gerhana bulan dapat dilihat dari wilayah yang lebih luas, selama Bulan berada di atas horizon pada saat peristiwa berlangsung.
Dalam konteks Indonesia, gerhana bulan total pada 2026 menjadi satu-satunya fenomena gerhana yang dapat diamati secara langsung. Namun, tanggal pasti dan waktu terjadinya fenomena tersebut bergantung pada perhitungan astronomi dan kondisi lokal, termasuk cuaca.
Fenomena gerhana menjadi perhatian luas masyarakat dan komunitas ilmiah karena memiliki nilai edukasi dan ilmiah. Selain sebagai peristiwa alam, gerhana juga digunakan untuk penelitian atmosfer, dinamika orbit, serta edukasi astronomi bagi publik.
Hingga saat ini, belum ada keterangan rinci mengenai jadwal waktu pengamatan gerhana bulan total tersebut di setiap wilayah Indonesia. Informasi lebih detail biasanya disampaikan oleh lembaga astronomi dan meteorologi mendekati waktu kejadian.
































