Manyala.co – Pelda Christian Namo, ayah dari almarhum Prada Lucky Namo, diamankan secara paksa oleh anggota Detasemen Polisi Militer (Denpom) IX/1 Kupang pada Rabu (7/1/2026). Proses penjemputan dilakukan di Pelabuhan Tenau, Kupang, oleh sejumlah anggota Denpom yang disebut mengenakan pakaian sipil.
Kuasa hukum Pelda Christian, Cosmas Jo Oko, menyatakan penangkapan tersebut berlangsung tanpa penjelasan resmi. Ia mengaku sempat menolak kliennya dibawa karena tidak diperlihatkan surat penangkapan maupun dasar hukum tindakan tersebut.
“Saya sempat berdebat dan meminta penjelasan hukum serta surat penangkapan, namun tidak ditunjukkan kepada kami,” ujar Cosmas, Kamis (8/1/2026).
Menurut Cosmas, situasi di lokasi sempat memanas ketika salah satu anggota berpakaian preman diduga mengeluarkan perintah untuk menembak. Demi keselamatan kliennya, ia akhirnya meminta Pelda Christian bersikap kooperatif dan mengikuti petugas ke kantor Denpom Kupang.
Ia menjelaskan bahwa kliennya sempat berupaya menghindar dan bahkan melepaskan seragam militernya sebagai bentuk perlawanan. Namun, kondisi yang dinilai tidak aman membuat pendamping hukum memilih mengutamakan keselamatan.
Hingga kini, tim kuasa hukum mengaku belum memperoleh informasi resmi terkait alasan penahanan Pelda Christian Namo. Cosmas menduga tindakan tersebut berkaitan dengan gugatan perbuatan melawan hukum (PMH) yang tengah diajukan kliennya di Pengadilan Negeri Kelas IA Kupang.
“Penahanan ini terjadi di tengah proses hukum perdata yang sedang berjalan. Klien kami sedang memperjuangkan keadilan untuk anaknya,” katanya.
Cosmas menilai penahanan menjelang sidang gugatan perdata tersebut mencerminkan sikap aparat militer yang dinilainya tidak menghormati proses hukum. Ia menegaskan perkara yang sedang ditempuh kliennya merupakan ranah perdata, bukan pidana.
Ia juga menyebut adanya dugaan upaya menghambat perjuangan hukum keluarga korban dalam kasus kematian Prada Lucky, yang menurutnya masih menyisakan persoalan keadilan.
Setibanya di kantor Denpom Kupang, Cosmas mengaku tidak diperkenankan mendampingi kliennya meskipun telah menunjukkan surat kuasa. Alasan yang disampaikan petugas, kata dia, karena surat kuasa tersebut belum diregistrasi secara administratif.
“Sampai sekarang klien kami masih ditahan dan kami tidak diizinkan melakukan pendampingan,” ujarnya.
Terkait isu dugaan Pelda Christian Namo hidup bersama wanita idaman lain (WIL), Cosmas menyatakan belum menerima keterangan resmi dari pihak TNI. Ia menambahkan bahwa Denpom Kupang juga belum memberikan penjelasan apa pun mengenai dasar penahanan kliennya.
“Sampai saat ini kami belum mendapat kejelasan apa pun. Ketika ditanya, pihak Denpom juga tidak memberikan informasi,” tutup Cosmas.
Sementara itu, Komandan Korem 161/Wira Sakti Kupang Kolonel Inf Hendro Cahyono yang dimintai konfirmasi belum memberikan tanggapan terkait penahanan tersebut.
































