Manyala.co – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dipicu oleh kombinasi tekanan global dan faktor domestik, termasuk arus keluar modal asing serta meningkatnya kebutuhan valuta asing korporasi.
Dalam konferensi pers virtual pada Rabu (21/1/2026), Perry mengatakan ketidakpastian pasar keuangan global telah mendorong aliran modal asing keluar dari pasar domestik. Hingga 19 Januari 2026, nilai arus keluar modal asing tercatat mencapai sekitar 1,6 miliar dolar AS.
Selain faktor eksternal, Perry menyebut meningkatnya permintaan valuta asing oleh perbankan dan korporasi domestik turut memberi tekanan pada rupiah. Kebutuhan tersebut sejalan dengan aktivitas ekonomi, termasuk kebutuhan pembayaran oleh sejumlah badan usaha besar.
“Aliran modal asing keluar, juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN, maupun Danantara. Itu turut mempengaruhi kinerja rupiah,” kata Perry dalam konferensi pers tersebut.
Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah pada 20 Januari 2026 berada di level Rp 16.945 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sekitar 1,53 persen dibandingkan dengan level akhir Desember 2025, di tengah penguatan dolar AS secara global.
Perry juga mengungkapkan adanya faktor sentimen domestik yang memengaruhi persepsi pasar, khususnya terkait proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk menggantikan Juda Agung. Dari tiga nama calon yang diusulkan, salah satunya adalah Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono.
“(Faktor domestik pelemahan rupiah) karena persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur,” ujar Perry.
Meski demikian, Perry menegaskan proses pencalonan Deputi Gubernur BI telah berjalan sesuai dengan ketentuan undang-undang dan tidak memengaruhi independensi maupun profesionalisme bank sentral dalam menjalankan kebijakan moneter.
“Proses pengambilan kebijakan di BI tetap kami pastikan dilakukan secara profesional dengan tata kelola yang kuat. Tentu saja bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah untuk bersama menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.
Untuk meredam volatilitas nilai tukar, Bank Indonesia terus meningkatkan langkah-langkah stabilisasi. Perry menjelaskan BI melakukan intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF), baik di luar negeri maupun dalam negeri, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta di pasar spot.
Langkah-langkah tersebut, menurut Perry, bertujuan menjaga stabilitas rupiah sekaligus tetap konsisten dengan sasaran inflasi Bank Indonesia sebesar 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen pada 2026.
“Respons kebijakan ini dapat menjaga volatilitas nilai tukar rupiah dan tetap konsisten dengan upaya pencapaian sasaran inflasi,” ujarnya.
Ke depan, Perry menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dengan kecenderungan menguat. Prospek tersebut didukung oleh imbal hasil aset domestik yang relatif menarik, inflasi yang tetap rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai masih solid.
“Ke depan, BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah termasuk melalui intervensi terukur di transaksi NDF, DNDF, dan pasar spot, serta memperkuat strategi operasi moneter yang pro-pasar,” kata Perry.
































