Makassar, Manyala.co – Bank Indonesia (BI) Sulawesi Selatan menyiapkan uang tunai sebesar Rp3,03 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru 2025, seiring proyeksi lonjakan permintaan transaksi tunai di wilayah tersebut.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan memprediksi kebutuhan uang tunai masyarakat selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) mencapai Rp2,2 triliun. Angka ini meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama sebelumnya, sejalan dengan kenaikan aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat.
Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, BI Sulsel menyiapkan stok uang tunai sebesar 138 persen dari total proyeksi kebutuhan. Total uang tunai yang disiapkan mencapai Rp3,036 triliun, dengan tujuan memastikan kelancaran transaksi tunai selama masa libur panjang.
Deputi Kepala Perwakilan BI Sulsel, Ricky Satria, mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen Bank Indonesia dalam menjaga ketersediaan uang Rupiah yang layak edar dan terpercaya bagi masyarakat. “Rata-rata aliran uang keluar (outflow) dari Kantor Perwakilan BI Sulsel selama periode Desember dalam kurun waktu 2020–2024 Rp2,7 triliun,” ujar Ricky di Makassar, Kamis (18/12/2025).
Menurut Ricky, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi besarnya kebutuhan uang tunai selama periode Nataru. Faktor utama meliputi peningkatan belanja dan konsumsi masyarakat, kebutuhan pengisian ulang mesin anjungan tunai mandiri (ATM) selama libur panjang, serta realisasi anggaran proyek pemerintah di akhir tahun.
Selain itu, pencairan bonus perusahaan kepada karyawan juga turut mendorong permintaan uang tunai. Kondisi tersebut secara historis selalu terjadi pada akhir tahun dan menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan distribusi uang oleh Bank Indonesia di daerah.
Di tengah meningkatnya kebutuhan uang tunai, tren transaksi non-tunai di Sulawesi Selatan juga terus menunjukkan pertumbuhan sepanjang 2025. BI Sulsel mencatat peningkatan signifikan pada penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), baik dari sisi volume transaksi maupun jumlah pengguna dan merchant.
Volume transaksi QRIS di Sulawesi Selatan meningkat 138 persen dibandingkan tahun 2024. Sementara itu, jumlah pengguna QRIS naik 7 persen dan jumlah merchant bertambah 26 persen pada periode yang sama. Peningkatan ini mencerminkan adopsi sistem pembayaran digital yang semakin luas di tengah masyarakat.
Meski demikian, BI Sulsel menilai transaksi tunai tetap memiliki peran penting, khususnya pada periode libur panjang ketika aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat meningkat secara signifikan. Oleh karena itu, kesiapan uang tunai tetap menjadi prioritas utama.
Pengamat ekonomi dari Universitas Bosowa (Unibos), Lukman, menilai proyeksi peningkatan kebutuhan uang tunai di Sulawesi Selatan mencerminkan dinamika ekonomi yang positif selama periode Nataru. “Proyeksi kebutuhan uang tunai Rp2,2 triliun mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat,” kata Lukman.
Namun, ia mengingatkan adanya tantangan yang perlu diantisipasi agar perputaran ekonomi berjalan optimal. Tantangan tersebut antara lain potensi cuaca ekstrem akibat puncak musim hujan yang dapat mengganggu distribusi barang dan aktivitas ekonomi.
Selain itu, faktor keamanan juga dinilai penting untuk menjaga kelancaran perayaan Natal dan Tahun Baru. “Dengan pengelolaan yang baik dan pengamanan yang optimal, perputaran ekonomi saat Nataru di Sulsel diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah,” ujar Lukman.
Hingga Kamis malam, BI Sulsel belum merinci distribusi geografis penyaluran uang tunai selama periode Nataru, namun memastikan kesiapan operasional kantor perwakilan dan jaringan perbankan di wilayah tersebut.
































