Manyala.co – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyoroti fenomena kurangnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pekerjaan nonformal seperti pertanian dan konstruksi. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan besar yang perlu segera ditangani pemerintah di tengah upaya menciptakan lapangan kerja baru di luar sektor industri.
Dalam acara yang digelar di Sabuga, Kota Bandung, Rabu (20/8/2025), Dedi menyampaikan bahwa mayoritas pencari kerja saat ini lebih memilih melamar di pabrik atau sektor industri formal. Hal ini, kata dia, menimbulkan ketidakseimbangan karena sejumlah bidang lain justru kekurangan tenaga kerja.
“Problemnya ada di situ. Anak-anak kalau melamar kerja lebih suka ke pabrik. Kalau disuruh urus sawah, enggak mau. Diajak kerja bangunan juga enggak mau. Jadi memang ada masalah karena mereka cenderung hanya mencari pekerjaan formal,” ujarnya.
Dedi kemudian mengimbau agar masyarakat, khususnya para pencari kerja, tidak terlalu selektif dalam menentukan bidang pekerjaan. Ia menekankan bahwa mendapatkan pekerjaan, apapun bentuknya, lebih baik dibandingkan menganggur. Menurutnya, setiap orang bisa memulai dari pekerjaan apa saja, sebelum akhirnya bertemu dengan profesi yang sesuai dengan pilihan hidupnya.
“Kita harus belajar untuk tidak pilih-pilih. Buat yang masih nganggur, lebih baik kerja saja dulu. Yang penting bisa menghasilkan uang. Hidup itu kan berproses, nanti juga pada waktunya bisa sampai ke pekerjaan impian,” kata Dedi menambahkan.
Isu lapangan kerja ini juga sempat muncul dalam hasil survei Litbang Kompas yang dirilis baru-baru ini. Survei tersebut menunjukkan 57,6 persen masyarakat Jawa Barat menilai penyediaan lapangan kerja di provinsi itu masih buruk, sementara 7,3 persen lainnya menilai sangat buruk.
Meski begitu, Dedi merespons hasil survei itu dengan tenang. Ia mengaku tidak keberatan dengan kritik dan justru menganggapnya sebagai masukan yang positif. Menurutnya, evaluasi dari publik penting untuk memperbaiki kebijakan pemerintah ke depan.
“Survei itu kan dilakukan baru di bulan kelima masa jabatan, jadi wajar hasilnya masih begitu. Saya malah senang ada kritik, terutama yang terkait ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja. Karena memang baru enam bulan ini kita fokus mengorkestrasi percepatan perizinan industri. Saya baru menangani kasus industri yang butuh 31 ribu tenaga kerja, tapi izinnya hanya keluar untuk 16 ribu. Ini yang sedang kita selesaikan,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, Dedi berharap masyarakat bisa lebih realistis dalam menghadapi dinamika lapangan kerja di Jawa Barat. Pemerintah, sambungnya, akan terus berusaha membuka peluang baru, namun partisipasi masyarakat untuk mau bekerja di berbagai sektor tetap menjadi faktor kunci.
































