Manyala.co – Sejumlah kota di Asia dinilai semakin ramah bagi wisatawan Muslim selama Ramadhan, dengan ketersediaan makanan halal, akses tempat ibadah, serta aktivitas malam hari yang mendukung suasana ibadah, menurut laporan platform perjalanan Wego.
Dalam daftar yang dirilis menjelang Ramadhan, terdapat 10 kota di Asia yang direkomendasikan sebagai destinasi ramah Muslim, yakni Kobe, Busan, Kaohsiung, Chengdu, Manila, Siem Reap, Hyderabad, Galle, Hua Hin, dan Kathmandu.
Ramadhan merupakan bulan ketika umat Islam berpuasa dari fajar hingga matahari terbenam. Bagi wisatawan, periode ini menawarkan pengalaman budaya yang berbeda, terutama saat waktu berbuka puasa (iftar) dan aktivitas malam hari meningkat.
Di Jepang, Kobe dikenal sebagai lokasi masjid pertama di negara itu yang dibangun pada 1935. Kota pelabuhan tersebut menawarkan akses mudah ke masjid dan restoran yang menyediakan daging sapi Kobe bersertifikat halal. Lingkungan Kitano menjadi salah satu pusat aktivitas wisatawan Muslim.
Di Korea Selatan, Busan menawarkan alternatif dari ibu kota Seoul dengan suasana pesisir. Pilihan makanan halal terkonsentrasi di sekitar Stasiun Busan dan kawasan yang dikenal sebagai “Texas Street”, tempat terdapat restoran Uzbekistan, Indonesia, dan Korea yang ramah Muslim.
Kaohsiung di Taiwan berkembang dari kota industri menjadi pusat kreatif dengan kawasan tepi laut Pier-2 Art Center. Beberapa pusat perbelanjaan dan pasar malam menyediakan pilihan makanan bersertifikat halal, menjadikannya alternatif selain Taipei.
Chengdu di China dikenal sebagai pusat komunitas Muslim Hui. Di wilayah barat Lapangan Tianfu terdapat Masjid Huangcheng dan sejumlah restoran halal yang menyajikan hidangan Sichuan yang disesuaikan dengan standar halal.
Di Asia Tenggara, Manila memiliki kawasan Muslim di distrik Quiapo yang berdekatan dengan Masjid Emas. Beberapa hotel dan restoran di kawasan modern seperti Ermita dilaporkan telah memperoleh akreditasi halal dari otoritas pariwisata setempat.
Siem Reap di Kamboja, pintu gerbang menuju kompleks Angkor Wat, memiliki komunitas Muslim Cham di sekitar Pasar Lama dan Steung Thmey. Wisatawan dapat mengakses masjid dan makanan halal dengan jarak relatif dekat dari pusat wisata.
Hyderabad di India dikenal sebagai kota dengan warisan Islam kuat di sekitar Charminar. Hidangan seperti biryani dan haleem tersedia luas dengan standar halal sebagai praktik umum.
Galle di Sri Lanka, situs Warisan Dunia UNESCO, memiliki komunitas Muslim Moor yang telah lama bermukim di dalam benteng kota. Sementara Hua Hin di Thailand memiliki infrastruktur halal di sekitar kawasan stasiun kereta api akibat sejarah pemukiman Muslim.
Kathmandu di Nepal, gerbang menuju Himalaya, memiliki komunitas Muslim Kashmir di selatan kawasan Thamel, termasuk Masjid Jame dan sejumlah restoran halal.
Selain destinasi, wisatawan juga diimbau memperhatikan norma lokal selama Ramadhan. Mengutip laporan Euronews, sejumlah negara mayoritas Muslim mengharapkan standar kesopanan dalam berpakaian, seperti menutupi bahu dan lutut. Aktivitas kota umumnya meningkat pada malam hari, dengan restoran dan pasar Ramadhan buka hingga dini hari.
Menu berbuka puasa umumnya diawali dengan kurma sebagai sumber energi cepat. Di beberapa negara, tradisi meriam iftar masih dijalankan sebagai penanda waktu berbuka.
Belum ada data resmi terbaru mengenai peningkatan jumlah wisatawan Muslim selama Ramadhan tahun ini. Namun, tren pariwisata halal global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan signifikan, seiring meningkatnya kebutuhan layanan yang sesuai dengan prinsip syariah di berbagai destinasi.
































