Manyala.co – Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Erick Thohir membantah tudingan bahwa dirinya melaporkan dugaan pelanggaran naturalisasi pemain Malaysia ke FIFA, dan menegaskan Indonesia tidak mencampuri urusan federasi negara lain.
Tudingan tersebut mencuat setelah media Malaysia, MYNewsHub, memuat artikel berjudul “Erick Thohir Dalang Utama Yang Membuat Aduan kepada FIFA”. Artikel itu mengaitkan Erick dengan sanksi FIFA terhadap Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) terkait proses naturalisasi pemain.
Erick menyampaikan klarifikasi saat ditemui wartawan di Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga di Jakarta, Jumat (20/2). Ia menegaskan tuduhan tersebut tidak benar dan Indonesia tidak memiliki kepentingan untuk mengintervensi proses administrasi federasi lain.
Menurut dia, fokus PSSI saat ini adalah peningkatan kualitas sepak bola nasional, termasuk pembinaan pemain dan penguatan kompetisi domestik. Ia menilai polemik lintas negara semacam itu tidak perlu diperbesar.
Berdasarkan informasi yang beredar, laporan dugaan pelanggaran naturalisasi pemain Malaysia disebut berasal dari federasi sepak bola Vietnam. Namun, narasi yang berkembang di sejumlah media Malaysia menyeret nama Erick sebagai pihak yang melaporkan kasus tersebut ke FIFA.
Kasus ini berkaitan dengan polemik status tujuh pemain naturalisasi Malaysia yang sempat terdampak sanksi FIFA. Dalam perkembangan terpisah, Court of Arbitration for Sport (CAS) dilaporkan menangguhkan sanksi tersebut, sehingga para pemain dapat kembali tampil. Hingga Jumat malam, belum ada pernyataan resmi tambahan dari FIFA maupun FAM terkait sumber laporan awal kasus tersebut.
Erick menyatakan bahwa mengurus aduan terhadap federasi negara lain bukan merupakan tanggung jawabnya. Ia menekankan pentingnya membangun persaingan yang sehat di kawasan Asia Tenggara tanpa saling menyalahkan.
Menurutnya, negara-negara di Asia perlu fokus memperbaiki sistem pembinaan dan kompetisi domestik agar mampu bersaing di tingkat Asia dan global. Tanpa pembenahan menyeluruh, ia menilai sepak bola Asia akan terus tertinggal dari kawasan lain seperti Eropa dan Afrika.
Hubungan sepak bola di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir diwarnai rivalitas kompetitif, terutama dalam turnamen regional seperti Piala AFF dan kualifikasi Piala Dunia. Isu naturalisasi pemain juga kerap menjadi perdebatan, mengingat sejumlah negara di kawasan memanfaatkan regulasi perpindahan kewarganegaraan untuk memperkuat tim nasional.
Di Indonesia sendiri, kebijakan naturalisasi pemain dilakukan melalui proses administrasi yang melibatkan pemerintah dan persetujuan parlemen. PSSI menyatakan kebijakan tersebut mengikuti ketentuan FIFA dan peraturan nasional yang berlaku.
Erick menegaskan Indonesia memilih untuk memperkuat fondasi olahraga nasional dibanding terlibat dalam polemik antarnegara. Ia berharap komunikasi antar federasi tetap berjalan secara profesional dan kompetitif.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi tambahan dari MYNewsHub maupun otoritas sepak bola Malaysia mengenai klarifikasi atau koreksi atas pemberitaan yang menyeret nama Erick. Polemik ini masih berkembang di ruang publik dan media sosial di kedua negara.





























