Manyala.co – Guncangan kuat melanda Kabupaten Nabire, Papua Tengah, pada Jumat (19/9/2025) dini hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa tersebut berkekuatan magnitudo 6,6, berpusat di darat dengan kedalaman 24 kilometer. Titik koordinatnya berada di 3.47 LS, 135.49 BT, sekitar 29 kilometer barat laut Kota Nabire. BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami, meski pusat gempa terbilang dekat dengan permukiman, yakni sekitar 12 kilometer barat daya Nabire.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, dalam konferensi pers pada hari yang sama, menyebutkan adanya beberapa kerusakan pada fasilitas umum dan bangunan penting. “Kami sudah mencari informasi terkait dampak kerusakan. Ada beberapa fasilitas umum yang rusak,” ungkapnya.
Dari laporan sementara, kerusakan paling parah terjadi pada Jembatan Siriwini Bawah yang ambles akibat getaran gempa. Tak hanya itu, dua rumah dilaporkan mengalami rusak berat, sementara gedung kantor bupati Nabire turut terdampak. “Kemudian yang rusak, yang agak berat adalah satu jembatan, itu ambles. Kemudian ada dua rumah rusak berat. Kemudian kantor bupati, itu kaca (pecah) dan plafonnya rusak,” jelas Suharyanto.
Selain jembatan dan kantor pemerintahan, beberapa tempat lain juga mengalami kerusakan. Sebuah gereja mengalami plafon yang turun hingga rusak, sedangkan di Bandara Nabire ditemukan sejumlah kaca pecah. “Kemudian ada satu gereja, plafon gerejanya turun, rusak. Kemudian dilaporkan juga bandara Nabire ada beberapa kaca yang pecah,” tambahnya. Meski begitu, ia menegaskan kerusakan tersebut tidak mengganggu aktivitas masyarakat secara keseluruhan. “Tetapi secara umum ini kerusakannya tidak signifikan,” sambungnya.
Situasi di Nabire saat ini masih terkendali, dengan roda kehidupan masyarakat berjalan normal. Namun, BNPB tetap mengirimkan tim reaksi cepat untuk mendampingi pemerintah daerah dalam mengantisipasi potensi gempa susulan. Suharyanto menuturkan pihaknya masih menunggu apakah status penanganan akan dinaikkan menjadi tanggap darurat. “Apakah situasi ini akan ditingkatkan menjadi tanggap darurat? Kami sekarang masih menunggu,” ujarnya.
Meski belum ada laporan korban jiwa, kewaspadaan tetap dijaga. Hingga Jumat sore, BNPB mencatat sudah terjadi 11 kali gempa susulan. Menurut Suharyanto, jumlah tersebut kemungkinan akan bertambah. “Kami akan terus memantau ya biasanya kalau terjadi 11 gempa susulan itu tidak cukup, biasanya bertambah terus bahkan bisa angkanya menyentuh puluhan sampai ratusan,” tuturnya.
BMKG pun terus melakukan pemantauan terkait perkembangan aktivitas gempa di wilayah Papua Tengah. Sejauh ini, meskipun guncangan menyebabkan kerusakan infrastruktur, kondisi keamanan di Kota Nabire tetap stabil.
































