Manyala.co – Imam senior Masjid Al Aqsa, Syekh Muhammad Al Abbasi, menyatakan otoritas Israel melarangnya memasuki kompleks masjid selama sepekan menjelang Ramadhan, tanpa penjelasan resmi, menurut keterangannya kepada AFP, Selasa (17/2/2026).
Abbasi mengatakan larangan itu mulai berlaku pada Senin (16/2/2026) dan dapat diperpanjang. “Saya dilarang masuk masjid selama seminggu, dan larangan itu dapat diperpanjang,” kata Abbasi.
Ia menuturkan baru kembali beraktivitas di Masjid Al Aqsa sekitar satu bulan lalu setelah menjalani perawatan selama setahun akibat kecelakaan mobil serius. Menurutnya, larangan tersebut berdampak besar secara pribadi maupun bagi komunitas Muslim di Yerusalem.
“Larangan ini masalah serius bagi kami karena jiwa kami terikat pada Al Aqsa. Al Aqsa adalah hidup kami,” ujarnya.
Ramadhan, bulan suci ketika umat Islam berpuasa dari fajar hingga matahari terbenam, diperkirakan dimulai pertengahan pekan ini, tergantung pada penampakan hilal di masing-masing wilayah. Setiap Ramadhan, ratusan ribu warga Palestina memadati kompleks Masjid Al Aqsa untuk melaksanakan shalat, terutama pada malam-malam terakhir bulan tersebut.
Kompleks Al Aqsa, yang terletak di Yerusalem timur, merupakan situs tersuci ketiga dalam Islam setelah Makkah dan Madinah. Wilayah Yerusalem timur direbut Israel dalam perang 1967 dan kemudian dianeksasi, langkah yang tidak diakui sebagian besar komunitas internasional.
Menjelang Ramadhan tahun ini, polisi Israel pada Senin merekomendasikan penerbitan 10.000 izin bagi warga Palestina dari Tepi Barat untuk memasuki Yerusalem. Warga Palestina dari wilayah pendudukan tersebut memerlukan izin khusus untuk memasuki kota itu.
Polisi Israel belum mengungkapkan secara resmi apakah pembatasan usia akan diterapkan dalam penerbitan izin tersebut. Namun, Pemerintah Provinsi Yerusalem di Palestina menyatakan menerima informasi bahwa izin kemungkinan dibatasi bagi pria berusia di atas 55 tahun dan perempuan di atas 50 tahun, mengikuti kriteria yang diberlakukan tahun sebelumnya. Hingga Rabu pagi, belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Israel terkait batasan usia tersebut.
Pemerintah provinsi itu juga menyebut otoritas Israel mencegah Waqf Islam—badan yang dikelola Yordania dan bertanggung jawab atas pengelolaan kompleks Al Aqsa melakukan persiapan rutin menjelang Ramadhan. Persiapan itu mencakup pemasangan struktur peneduh dan pendirian klinik medis sementara di area kompleks.
Sumber dari Waqf mengatakan 33 karyawannya dilarang memasuki kompleks Masjid Al Aqsa pada pekan menjelang Ramadhan. Tidak ada pernyataan langsung dari pihak Israel mengenai klaim tersebut hingga laporan ini diturunkan.
Berdasarkan pengaturan lama yang dikenal sebagai “status quo”, umat Yahudi diizinkan mengunjungi kompleks tersebut yang mereka yakini sebagai lokasi kuil Yahudi pertama dan kedua—namun tidak diperbolehkan berdoa di sana. Israel menyatakan komitmen untuk mempertahankan pengaturan tersebut.
Namun, otoritas Palestina menyatakan kekhawatiran bahwa pengaturan lama itu terkikis dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya kunjungan kelompok ultranasionalis Yahudi yang menentang larangan berdoa di lokasi tersebut. Politikus sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir, diketahui pernah berdoa di kompleks itu saat menjabat sebagai menteri keamanan nasional pada 2024 dan 2025.
Pembatasan akses ke Al Aqsa kerap memicu ketegangan menjelang dan selama Ramadhan, periode sensitif yang sering menjadi titik eskalasi di Yerusalem timur.































