Makassar, Manyala.co – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memprioritaskan peningkatan mutu sekolah luar biasa (SLB) di Indonesia Timur melalui program revitalisasi satuan pendidikan, digitalisasi pembelajaran, dan penguatan pendidikan vokasional, sebagaimana disampaikan dalam rilis resmi di Jakarta, Jumat.
Langkah tersebut difokuskan pada perbaikan infrastruktur, penyediaan perangkat pembelajaran digital, serta penguatan kompetensi keterampilan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di wilayah dengan akses pendidikan terbatas.
Salah satu penerima bantuan adalah SLBN Pulau Morotai di Provinsi Maluku Utara. Sekolah tersebut memperoleh bantuan revitalisasi senilai Rp1,39 miliar. Dana itu digunakan untuk merehabilitasi ruang kelas dan ruang keterampilan yang sebelumnya dalam kondisi rusak sejak sekolah dibangun pada 2013.
Sebelum perbaikan, atap ruang kelas kerap bocor sehingga proses belajar mengajar terganggu, terutama saat hujan. Ruang keterampilan juga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena kerusakan berat.
“Dulu ruang keterampilan rusak parah sehingga kami jarang gunakan karena kondisinya tidak layak. Saat ini ruang keterampilan telah aktif kembali untuk mengajar kompetensi anak-anak, mulai dari bermain musik hingga membuat kerajinan tangan dari batok kelapa yang memang merupakan potensi kami di Morotai,” kata Kepala SLBN Pulau Morotai, Nilla Timbuleng.
Selain revitalisasi fisik, sekolah tersebut menerima bantuan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) untuk mendukung digitalisasi pembelajaran. Perangkat ini digunakan untuk memperkaya materi ajar dan pengembangan keterampilan siswa.
“Wah, murid kami sangat antusias sekali mereka belajar menggunakan PID, apalagi di ruang kelas barunya nyaman sekali. Kami banyak mencari ide untuk bahan belajar termasuk bagaimana mengembangkan keterampilan kerajinan tangan atau musik dari PID ini,” ujar Nilla.
Program serupa juga dilaksanakan di SLBN Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya. Sejak September 2025, sekolah tersebut menjalani proses revitalisasi. Pada Januari 2026, sekitar 20 ABK di wilayah Raja Ampat mulai memperoleh akses pendidikan khusus yang sebelumnya sulit dijangkau.
Sebelumnya, anak-anak berkebutuhan khusus di daerah tersebut harus menempuh jarak jauh ke Kota Sorong untuk bersekolah. Kondisi itu menyebabkan sebagian anak baru dapat mengakses pendidikan formal pada usia yang relatif lebih besar.
“Banyak murid kami yang sudah besar-besar, tapi baru masuk sekolah karena memang sebelumnya tidak ada SLB di Raja Ampat. Namun, sekarang ABK bisa sekolah, mendapatkan pendidikan, dan mendapatkan terapi serta keterampilan di SLBN Raja Ampat,” kata Pelaksana Tugas Kepala SLBN Raja Ampat, Fandy Dawenan.
Tidak hanya sekolah negeri, SLB swasta juga menjadi sasaran program. SLB St. Elisabeth Pupung di Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menerima bantuan revitalisasi dan digitalisasi pembelajaran. Sebelumnya, sekolah tersebut menumpang di rumah warga di Kampung Pupung, Desa Rondo Woing.
“Sekolah kami di pedalaman, SLBN hanya ada di kota sehingga kami menampung ABK yang tidak terjangkau sekolah negeri dan jumlahnya cukup banyak di daerah kami,” kata Kepala SLB St. Elisabeth Pupung, Vinsensius Wandu.
Melalui program tersebut, sekolah kini memiliki ruang kelas permanen, perpustakaan, ruang administrasi, dan selasar untuk mendukung aktivitas belajar siswa yang sebagian besar berasal dari desa-desa di Kecamatan Rana Mese.
Kemendikdasmen menyatakan revitalisasi dan digitalisasi menjadi bagian dari strategi pemerataan layanan pendidikan inklusif di Indonesia Timur, wilayah yang selama ini menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan fasilitas pendidikan khusus. Hingga Jumat, belum dirinci total anggaran nasional maupun jumlah keseluruhan SLB penerima bantuan dalam program tersebut.
































