Kenangan di McDonald’s Sarinah Thamrin: Jejak Waktu di Denyut Jalan yang Tak Pernah Tidur

Mashud Azikin, opini
Mashud Azikin

Oleh Mashud Azikin

Ada tempat-tempat yang tidak hanya menjadi lokasi singgah, tetapi juga penanda perjalanan hidup. Di jantung Ibu Kota, McDonald’s Sarinah Thamrin pernah memegang peran itu menjadi ruang perjumpaan, titik temu, sekaligus saksi bisu hiruk-pikuk Jakarta yang tak pernah benar-benar berhenti. Kini gerainya memang telah berpindah ke depan Jakarta Theatre, namun jejak emosionalnya tetap tinggal di banyak ingatan.

Ketika pintu kacanya masih membuka ke arah gedung Sarinah, tempat itu memiliki atmosfer yang sulit digantikan: aroma kentang goreng yang bercampur dengan panas trotoar, derap langkah pekerja yang bergegas, serta percakapan anak muda yang mencoba merasa sedikit lebih “memiliki kota ini”. Di sanalah banyak kenangan kecil lahir kenangan yang tanpa sadar ikut membentuk kita.

Ruang Transit yang Menjadi Rumah

Bagi para komuter dari Jabodetabek, McD Sarinah sering menjadi “rumah sementara”. Mahasiswa menunggu bus malam sambil mengerjakan tugas, pegawai kantoran menuntaskan presentasi berbekal Wi-Fi gratis, hingga rombongan remaja yang merayakan ulang tahun sederhana dengan lilin kecil di atas paket McFlurry.

Kebijakan Kesehatan Berbasis Kemanusiaan: RSUD Daya dan Keberpihakan Pemerintah pada Nyawa Warga

Tak ada yang benar-benar istimewa dari interiornya. Namun justru kesederhanaan itulah yang menghadirkan kehangatan. Di satu sudut, ada yang sedang jatuh cinta. Di sudut lain, ada yang baru patah hati. Tempat itu menerima semua cerita tanpa menghakimi, tanpa bertanya.

Sarinah dan Thamrin: Denyut Zaman yang Tidak Diam

Sarinah telah lama menjadi simpul sejarah kota, sementara Jalan Thamrin adalah panggung terbuka perubahan. Pada 1980-an, Thamrin masih lapang dan rindang. Memasuki 1990-an, neon warna-warni dan papan iklan raksasa mulai mendominasi. Lalu di era 2000-an, Thamrin menjelma menjadi koridor modern dengan gedung-gedung kaca dan trotoar yang semakin manusiawi.

Di tengah perubahan itu, McD Sarinah menjadi semacam balkon kecil yang menghadap langsung ke denyut zaman. Dari jendela lantai duanya, orang-orang menyaksikan arus kendaraan—arus yang sering terasa seperti metafora hidup: tak pernah berhenti, kadang macet, tetapi terus bergerak.

Momen Menjelang Tengah Malam

Makassar dan Komitmen Baru Menuju Kota Sirkular Asia

Ada pula kenangan tentang waktu paling sunyi. Menjelang tengah malam, riuh berubah menjadi lengang. Karyawan shift malam mulai membersihkan meja, sementara beberapa pelanggan masih bertahan dengan percakapan terakhir mereka. Lampu-lampu Thamrin terlihat lebih lembut dari balik kaca, seakan Jakarta sedang menarik napas panjang.

Pada saat-saat itulah, kota yang kerap dianggap keras terasa lebih ramah. Ada jeda yang diberikan bagi siapa pun yang letih menjalani hari.

Pindah ke Depan Jakarta Theatre: Babak Baru, Denyut yang Sama

Ketika gerai McD Sarinah ditutup dan berpindah lokasi, rasa kehilangan muncul bukan karena bangunannya, melainkan karena sejarah emosional yang melekat. Namun kota selalu mengajarkan dua hal: perubahan tak bisa dihindari, dan kenangan tidak berpindah hanya karena tempatnya berganti.

Gerai baru di depan Jakarta Theatre memang lebih modern dan terang. Tetapi bagi mereka yang pernah merasakan era sebelumnya, melangkah ke pintu barunya seperti membuka album lama—menghadirkan wajah-wajah yang dulu tertawa di meja pojok, langkah di trotoar Thamrin yang lebih sempit, hingga suasana malam yang lebih sederhana.

Quantum Leap Makassar 2040: Dari Gerbang Menjadi Destinasi Kota Berkelas Dunia

Kenangan yang Menjadi Bagian Kota

McD Sarinah bukan sekadar restoran cepat saji. Ia adalah fragmen perjalanan sebuah kota yang terus bergerak. Ia adalah cerita tentang persinggahan singkat yang menjadi penting karena hidup kita pernah melintas di sana.

Jalan Thamrin sendiri tak pernah kehabisan kisah. Dari demonstrasi, pesta rakyat, perayaan tahun baru, hingga car free day, semuanya menorehkan cerita di ruas jalan yang sama. Dan di antara hiruk-pikuk itu, McD Sarinah pernah menjadi ruang kecil tempat kita berhenti, menghela napas, dan merasa terhubung dengan Jakarta.

Kini bangunannya memang berubah, tetapi kenangannya tidak. Kota ini—dengan segala keras-lembutnya—selalu memberi ruang bagi tiap fragmen hidup warganya. Dan bagi banyak orang, McD Sarinah Thamrin adalah salah satu fragmen yang akan selalu tinggal.

Jakarta, 19 November 2025

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

01

Deretan Calon Ketua IKA Teknik Sipil Unhas, 2 Dosen Siap Lanjutkan Tongkat Kepemimpinan

02

Indonesia Dukung Palestina lewat Board of Peace, Israel Tetap Menolak

03

Prabowo Luncurkan Program Gentengnisasi Lewat Gerakan Indonesia ASRI

04

Serangan Bersenjata di Balochistan Tewaskan 48 Orang

05

Tujuh Pangkalan Udara Terbesar Amerika Berdasarkan Populasi

PEMKOT MAKASSAR - MANYALA.CO
HUT Kabupaten Enrekang Ke-66
Manyala.co

Olahraga

Erick Thohir Bantah Laporkan FAM ke FIFA

PSSI: Tak Ada Naturalisasi Baru di FIFA Series

Olahraga Saat Puasa Aman dengan Penyesuaian Intensitas

KNPI Makassar Bersama KKG PJOK Tallo Gelar Kompetisi Futsal dan Voli Pelajar

Indonesia Ajukan Diri Tuan Rumah Piala Asia 2031

Indonesia ke Final Piala Asia Futsal Usai Kalahkan Jepang

Indonesia Lolos Perempat Final Piala Asia Futsal 2026

Indonesia Juara Grup A Usai Imbang Lawan Irak

Alwi Farhan Lolos Final Indonesia Masters 2026

Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria, Solomon dan Saint Kitts di FIFA Series

Leo/Bagas Lolos Babak Kedua Indonesia Masters 2026

PSM Makassar Tambah Dua Pemain Asing Hadapi Putaran Kedua

Jonatan Christie Runner-up India Open 2026

PSM Makassar Hadirkan Bus Tim dan Rilis Jersey Khusus Suporter

Prabowo Realisasikan Bonus Atlet SEA Games 2025

Mental Juang PSM Makassar Diuji Jelang Laga Kontra Bali United

Malaysia Open 2026: Lima Wakil Indonesia Tampil di Babak 16 Besar

PSM Makassar Uji Pertahanan Hadapi Trisula Borneo FC

Indonesia Usulkan Australia dan Selandia Baru Ikut SEA Games

Indonesia Juara Piala AFF Futsal U-16

Kolom