Manyala.co – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM), Tiyo Ardiyanto, menyatakan dirinya menjadi sasaran teror beruntun sejak 9 Februari 2026. Teror itu dikirim dari nomor tak dikenal dengan kode negara Inggris Raya (+44) dan berisi ancaman serta tuduhan serius.
“Sejak awal nadanya adalah ancaman dan tuduhan bahwa kami adalah agen asing,” ujar Tiyo, Selasa (17/2/2026).
Menurut dia, ancaman tersebut mencakup intimidasi hingga dugaan penculikan. Selain pesan langsung, ia menyebut muncul konten manipulatif di media sosial yang menyerang ranah personal. Salah satunya berupa gambar bertuliskan “awas LGBT di UGM” disertai fotonya.
“Saya memang tidak punya kekasih, saya tidak punya pacar, tapi bukan karena itu lalu bisa seenaknya di-framing seperti itu,” katanya.
Tiyo juga menyebut beredarnya konten yang disebutnya sebagai pembunuhan karakter berbasis kecerdasan buatan (AI). Foto dirinya diklaim dihasilkan secara digital dengan narasi bahwa ia menyewa pemandu karaoke dan menjalin relasi asmara tertentu. “Yang pertama soal LGBT itu sangat menjijikkan, yang kedua ini pembunuhan karakter,” tegasnya.
Selain serangan personal, ia menghadapi tuduhan dugaan manipulasi dana Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Narasi yang beredar di media sosial menuduh adanya relasi kuasa yang membuat mahasiswa penerima KIP menyetor dana kepadanya.
“Semua orang tahu Ketua BEM UGM tidak pernah mengurusi rekomendasi KIP,” ujarnya. Ia menegaskan BEM tidak memiliki kewenangan dalam administrasi maupun pencairan KIP.Ketua BEM KM UGM, Tiyo Ardiyanto.(Dok. Pribadi)
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/02/18/161500865/teror-ketua-bem-ugm-berlanjut-ibunda-dan-puluhan-lebih-pengurus-jadi?page=all#page2.
Membership: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6
Ia mengakui pernah ada penggalangan dana ketika sebagian mahasiswa penerima KIP mengalami keterlambatan pencairan dan kesulitan membayar kebutuhan harian. Namun, menurutnya, langkah itu murni solidaritas mahasiswa. “Tidak ada kejahatan di sana,” katanya.
“Kalau benar saya melakukan penggelapan dana, sudah pasti saya diberhentikan dan tidak lagi menjadi Ketua BEM UGM,” tegasnya.
Teror juga menyasar keluarganya. Tiyo mengatakan ibunya menerima pesan anonim pada waktu sensitif, termasuk dua kali pada tengah malam. Pesan tersebut menuduhnya mencuri uang dan menyebarkan narasi bahwa orang tuanya kecewa.
“Ibu saya secara verbal tanpa saya tanya mengatakan bahwa ibu cukup takut,” ungkapnya.
Menurut Tiyo, sekitar 20 hingga 30 pengurus BEM UGM juga menerima pesan serupa dari nomor tak dikenal. Ketika ia mulai berbicara ke publik, dua nomor yang sebelumnya mengancam kembali mengirim pesan intimidatif. “Ngadu ke media, takut ya lu,” kutipnya.
Ia menyatakan rangkaian peristiwa ini terjadi setelah dirinya menyuarakan isu anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan mengkritisi kebijakan pemerintah. BEM UGM sebelumnya juga mengirim surat kepada UNICEF terkait kasus tersebut.
Tiyo menilai teror ini sebagai upaya pembungkaman kritik mahasiswa. “Yang dibutuhkan publik adalah jaminan bahwa ketika menghadapi teror, negara hadir di sana,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan organisasinya tidak akan menghentikan sikap kritis. “Kami tidak akan gentar, tidak takut, dan tidak berhenti mengawal kepentingan publik,” ujarnya.
Hingga Selasa malam, belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum terkait laporan dugaan teror tersebut.
































