Manyala.co – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah memilih menambah utang secara terukur untuk meredam perlambatan ekonomi awal 2026, guna mencegah risiko krisis serupa 1998 dan menjaga stabilitas nasional.
Berbicara di Jakarta, Senin (16/2/2026), Purbaya mengatakan keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan dampak perlambatan ekonomi global terhadap perekonomian domestik. Pemerintah, kata dia, dihadapkan pada pilihan sulit antara membiarkan ekonomi terkontraksi lebih dalam atau meningkatkan pembiayaan melalui utang.
“Ini kan kemarin terpaksa karena ada perlambatan signifikan. Pilihannya yang mana? Ke kondisi seperti 1998 atau meningkatkan utang sedikit, tetapi ekonomi kita selamat habis itu kita tata ulang semuanya,” ujar Purbaya di The Tribrata Darmawangsa.
Ia menegaskan penambahan utang dilakukan secara sadar dan terukur sebagai bagian dari stimulus fiskal. Langkah tersebut, menurutnya, bertujuan menjaga daya beli masyarakat, likuiditas sistem keuangan, dan keberlanjutan aktivitas dunia usaha di tengah tekanan eksternal.
Purbaya menyebut strategi “tata ulang” akan dijalankan setelah stabilitas ekonomi tercapai. Pemerintah berkomitmen menyehatkan kembali Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melalui optimalisasi penerimaan negara serta efisiensi belanja. Ekspansi fiskal, kata dia, bersifat sementara dan akan diikuti konsolidasi anggaran.
Dalam APBN 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen. Namun Purbaya menyatakan optimisme bahwa realisasi dapat melampaui 6 persen pada tahun ini. Ia memperkirakan pertumbuhan berada di kisaran 5,5 hingga 6 persen, sebagai upaya keluar dari pola pertumbuhan sekitar 5 persen dalam beberapa tahun terakhir.
“Karena apalagi terjadi, berarti kita sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5 persen,” kata Purbaya dalam forum Indonesia Economic Outlook, Jumat (13/2/2026).
Ia menambahkan, kebijakan fiskal diarahkan untuk mempertahankan momentum pemulihan, termasuk percepatan belanja sosial dan stimulus ekonomi. Pemerintah juga mendorong sektor jasa keuangan tetap menyalurkan likuiditas agar ekspansi usaha tidak terhambat.
Mengacu pada pola historis, Purbaya menyebut ekonomi Indonesia bergerak dalam siklus ekspansi dan resesi. Ia menyatakan fase ekspansi biasanya berlangsung panjang setelah resesi singkat.
“Ini bola kristal ekonomi Indonesia saya keluarkan lagi, ekonomi kita biasanya ada ekspansi, resesi, ekspansi, resesi. Ekspansi bisa berlangsung antara 7-10 persen habis itu resesi setahun, kemudian ekspansi lagi. Jadi anda nggak usah takut prospek jangka menengah ekonomi kita, itu akan terjadi betul karena kebijakan kita pas, menterinya pas lah kira-kira,” ujarnya.
Ia juga menyebut sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perbaikan dalam beberapa bulan terakhir. Indeks yang mencerminkan arah ekonomi 6 hingga 12 bulan ke depan sempat melemah, namun kini kembali menguat. Indikator kondisi saat ini juga menunjukkan tren positif, meski tidak dirinci angkanya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah ketidakpastian global yang dipicu perlambatan pertumbuhan dan volatilitas pasar keuangan. Hingga laporan ini ditulis, pemerintah belum merinci tambahan nominal utang atau proyeksi rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) sebagai dampak kebijakan tersebut.
Purbaya menegaskan seluruh kebijakan fiskal saat ini diarahkan untuk menjaga stabilitas dan membuka jalan menuju visi Indonesia Emas 2045. Pemerintah berharap kombinasi stimulus jangka pendek dan konsolidasi jangka menengah dapat menjaga keberlanjutan fiskal tanpa mengorbankan pertumbuhan.
































