Manyala.co – Pemerintah Indonesia memutuskan menunda rencana pengiriman ribuan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke Gaza dalam rangka misi perdamaian internasional.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan seluruh rencana pengiriman sementara dihentikan hingga waktu yang belum ditentukan.
“Semua di-hold. Di-hold,” kata Prasetyo usai rapat koordinasi di kantor Kementerian Pertahanan Republik Indonesia di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan perkembangan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang mengalami peningkatan eskalasi.
Menurut Prasetyo, pemerintah belum dapat memastikan kapan penundaan tersebut akan dicabut.
“Ya sampai batas waktu yang belum ditentukan,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan bahwa Indonesia berencana mengirim pasukan secara bertahap untuk bergabung dalam misi perdamaian bersama International Stabilization Force (ISF) di Gaza.
“Ya bertahap karena jumlahnya besar,” kata Sjafrie dalam keterangan sebelumnya.
Ia mengungkapkan bahwa pada tahap awal, TNI sempat menyiapkan hingga 20.000 personel untuk misi tersebut.
Namun, setelah mempertimbangkan kontribusi negara lain dan situasi di lapangan, jumlah tersebut disesuaikan menjadi 8.000 personel.
“Ternyata negara-negara lain itu cuma ngirim berapa ratus, berapa ratus ya. Jadi kita siap 8.000, ya,” jelasnya.
Sjafrie menambahkan bahwa pengiriman pasukan tetap bergantung pada kondisi geopolitik serta kesesuaian dengan kepentingan nasional Indonesia.
“Tapi yang paling penting bahwa kalau situasi tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, kita lakukan pekerjaan,” ujarnya.
Hingga saat ini, belum ada kepastian waktu keberangkatan pasukan tersebut.
Pemerintah masih menunggu perkembangan situasi serta langkah lanjutan dari Board of Peace (BoP) sebagai pihak yang berperan dalam koordinasi misi perdamaian internasional.
Meski demikian, TNI memastikan kesiapan operasional pasukan tetap terjaga selama masa penundaan.
“Kesiapan kita itu juga bagian daripada siaga operasional. Biasa kalau tentara itu ada siaga bencana, ada siaga taktis, ada siaga strategis,” kata Sjafrie.
Rencana pengiriman pasukan ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam mendukung upaya perdamaian global, khususnya di kawasan konflik seperti Gaza.
Namun, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir menjadi faktor utama yang mempengaruhi keputusan penundaan tersebut.
Hingga kini, belum ada pernyataan lanjutan terkait evaluasi terbaru atau kemungkinan revisi jumlah pasukan yang akan diberangkatkan.
































