Manyala.co – Pemerintah meningkatkan pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai upaya deteksi dini berbagai penyakit, menyusul tingginya temuan hipertensi pada lansia dan sejumlah gangguan kesehatan lain pada kelompok usia berbeda. Program yang dimulai pada Februari 2025 ini ditujukan untuk seluruh penduduk Indonesia, dari bayi hingga usia lanjut.
Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3, Cilandak, Jakarta Selatan, puluhan lansia menjalani pemeriksaan sejak Kamis pagi. Salah satu di antaranya adalah Tarningsih, 82 tahun, yang mengikuti alur pemeriksaan mulai dari pengukuran tekanan darah, pengecekan gula darah sewaktu (GDS), kolesterol, hingga pengukuran berat dan tinggi badan. Petugas kesehatan dari Puskesmas Cilandak memeriksa kondisi fisik secara berjenjang sesuai standar program.
Tarningsih menyampaikan bahwa GDS-nya berada pada angka 124 mg/dl, kategori normal untuk usianya, meski kolesterol terdeteksi tinggi. Ia mengatakan tidak mengonsumsi minuman manis dan lebih sering membawa air putih. Ia juga mengaku rutin menjalankan puasa Senin dan Kamis kecuali ketika sakit. Pemeriksaan tersebut berlangsung pada Kamis, 6 November 2025.
Suasana panti berubah riuh ketika Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, tiba untuk meninjau pelaksanaan CKG. Para lansia menyambutnya dengan nyanyian. Dante mengatakan hipertensi merupakan temuan kesehatan paling dominan pada peserta CKG usia lanjut. Sekitar 37 persen lansia terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi, sebagian besar tanpa gejala sebelumnya.
Menurut Dante, deteksi dini melalui CKG penting agar pengobatan dapat dilakukan lebih cepat. Ia menilai penanganan sejak tahap awal dapat mencegah komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, atau gagal ginjal. “Daripada mengobati stroke, sakit jantung, dan gagal ginjal, lebih baik hipertensinya diobati,” ujarnya.
Program CKG tidak hanya menyasar lansia, melainkan semua kelompok umur. Pemerintah menargetkan cakupan 280 juta penduduk dalam lima tahun. Hingga awal November 2025, sebanyak 54 juta orang telah mendaftar, dengan 51 juta di antaranya sudah menjalani pemeriksaan.
Pada kelompok bayi baru lahir, temuan terbanyak adalah kadar bilirubin tinggi dan berat badan lahir rendah (BBLR). Pada anak pra-sekolah, masalah dominan adalah karies gigi. Sementara pada anak usia sekolah, banyak ditemukan kurangnya aktivitas fisik serta karies. “Jika kita cek kebugaran, anak-anak Indonesia itu masih kurang. Itu jadi masalah,” kata Dante.
Pada orang dewasa, pola serupa muncul. Banyak peserta CKG teridentifikasi memiliki aktivitas fisik rendah yang dipicu perubahan pola transportasi harian, termasuk penggunaan jasa transportasi daring. Kondisi tersebut berkontribusi pada meningkatnya kasus obesitas. Sekitar 30 persen peserta CKG dilaporkan mengalami obesitas. Sementara pada lansia, masalah lain yang banyak ditemukan adalah gangguan mobilisasi yang meningkatkan risiko jatuh.
Dante menambahkan bahwa deteksi dini diperkirakan dapat menurunkan beban ekonomi kesehatan negara pada masa mendatang. Pembiayaan dapat ditekan karena penyakit ditangani sebelum memasuki stadium lanjut. “Beberapa tahun ke depan akan kelihatan dampaknya untuk pembiayaan kesehatan yang semakin berkurang pada stadium akhir,” ujarnya.
Selain dampak ekonomi, Dante menilai CKG berpotensi meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memperpanjang usia harapan hidup. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, usia harapan hidup Indonesia pada 2024 berada di angka 72,39 tahun. Ia menilai pemeriksaan berkala dapat meningkatkan peluang masyarakat untuk hidup lebih lama melalui penanganan penyakit secara lebih cepat. “Maka harapan hidup harapannya bisa lebih panjang beberapa tahun lagi,” ujarnya.
































