Manyala.co – Sidang isbat penentuan awal Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri 2026 mulai digelar di Auditorium HM Rasjidi, kantor Kementerian Agama Republik Indonesia, Jakarta, Kamis sore.
Sejumlah tamu undangan dari berbagai unsur telah hadir menjelang pelaksanaan sidang, termasuk perwakilan pemerintah, lembaga negara, serta organisasi keagamaan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar terlihat melakukan pengecekan langsung terhadap kesiapan lokasi sidang sebelum agenda utama dimulai.
Sidang isbat kali ini dihadiri oleh perwakilan duta besar negara sahabat, Ketua Komisi VIII DPR RI, serta perwakilan dari Mahkamah Agung Republik Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia.
Selain itu, sejumlah lembaga teknis turut hadir, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Partisipasi juga melibatkan kalangan akademisi dan ilmuwan, termasuk dari Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung dan lembaga planetarium, serta para pakar falak dari organisasi kemasyarakatan Islam.
Penetapan Hari Raya Idul Fitri oleh pemerintah dilakukan melalui mekanisme gabungan antara perhitungan astronomi (hisab) dan pemantauan langsung hilal (rukyatul hilal) di berbagai titik di Indonesia.
Sidang isbat diawali dengan seminar terbuka yang membahas posisi hilal awal Syawal secara astronomis.
Tahapan selanjutnya adalah sidang tertutup yang dimulai sekitar pukul 18.45 WIB setelah waktu Maghrib, di mana peserta membahas hasil rukyatul hilal dari berbagai daerah dan mencocokkannya dengan data hisab.
Pengumuman resmi hasil sidang dijadwalkan disampaikan kepada publik sekitar pukul 19.25 WIB oleh Menteri Agama.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, menjelaskan bahwa penetapan awal bulan Hijriah, termasuk Idul Fitri, dilakukan melalui forum sidang isbat yang melibatkan berbagai pihak.
“Proses penetapan dilakukan melalui musyawarah dengan mempertimbangkan data hisab serta hasil rukyatul hilal dari berbagai wilayah di Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sidang isbat bertujuan menghasilkan keputusan yang komprehensif dan dapat menjadi pedoman bersama bagi umat Islam di Indonesia.
“Pemerintah berharap keputusan yang dihasilkan dapat menjadi pedoman bersama bagi masyarakat,” kata Arsad.
Berdasarkan data hisab dari Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama, ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis sekitar pukul 08.23 WIB.
Pada saat rukyatul hilal dilakukan, posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia diperkirakan berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 0 derajat 54 menit 27 detik hingga 3 derajat 7 menit 52 detik.
Sementara itu, sudut elongasi diperkirakan berkisar antara 4 derajat 32 menit 40 detik hingga 6 derajat 6 menit 11 detik.
Data tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan sidang isbat.
Hingga laporan ini disusun, hasil resmi penetapan Idul Fitri 2026 belum diumumkan dan masih menunggu keputusan sidang tertutup yang berlangsung pada malam hari.
































