Manyala.co – Suasana cerah di pagi hari menyambut puluhan anak-anak yang berkumpul di Gang I, Kampung Pulo Wonokromo Wetan, Surabaya, Minggu (20/7/2025). Anak-anak dari berbagai latar belakang dan sanggar pendidikan alternatif berkumpul, membawa poster beraneka warna dengan pesan-pesan kuat mengenai hak anak yang belum sepenuhnya terpenuhi. Aksi jalan kaki yang mereka lakukan bukan sekadar kegiatan seremonial menyambut Hari Anak Nasional, melainkan bentuk nyata dari keberanian untuk bersuara dan menuntut perhatian.
Mengangkat tema “Suara Anak Kampung Membangun Negeri: Berani Berkarya, Berani Bersuara, Perjuangkan Asa”, kegiatan ini diinisiasi oleh Forum Pendidikan Alternatif (FPA) Surabaya. Forum ini merupakan wadah bagi anak-anak dari komunitas sanggar belajar yang tersebar di berbagai wilayah Surabaya, khususnya di kawasan permukiman padat penduduk. Dalam kegiatan ini, mereka mengajak masyarakat untuk lebih peduli pada pemenuhan hak-hak dasar anak, mulai dari hak atas pendidikan, kesehatan, hingga lingkungan bermain yang layak.
Sekitar pukul 08.30 WIB, anak-anak memulai long march dengan berjalan menyusuri gang-gang kampung tempat tinggal mereka. Di tangan mereka, terangkat tinggi poster-poster dengan tulisan-tulisan menyentuh dan penuh makna, seperti “Ajari Kami Bahasa Tanpa Kekerasan”, “Kami Berhak Hidup Sehat”, serta “Semua Anak Itu Hebat”. Poster-poster ini spontan menarik perhatian warga sekitar, terutama para orang dewasa yang berdiri di tepi jalan, menyimak setiap pesan yang ditampilkan oleh para peserta aksi kecil ini.
Menurut Ketua Panitia, Dini Larasati, kegiatan ini diselenggarakan untuk mengetuk hati para orangtua dan pemangku kebijakan, agar menyadari bahwa anak-anak juga memiliki kebutuhan mendasar yang belum dipenuhi secara menyeluruh. Salah satu contoh paling nyata, kata Dini, adalah tidak tersedianya ruang bermain yang aman bagi anak-anak di wilayah tersebut.
“Banyak anak di sini akhirnya bermain di pinggir rel kereta api karena tidak adanya fasilitas bermain yang layak. Sementara taman-taman umum yang ada pun kondisinya rusak dan tidak terawat,” ujar Dini prihatin. Ia menambahkan bahwa meskipun ada pembangunan, perhatian terhadap fasilitas ramah anak masih sangat terbatas. Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang rawan terhadap bahaya dan kekerasan, baik fisik maupun verbal.
Naura Hasna, salah satu anak yang ikut dalam aksi tersebut, menyampaikan harapannya dengan lugas. Sebagai bagian dari Sanggar Pelita Isan Pembelajar (Pijar), Naura aktif mengikuti berbagai kegiatan pendidikan nonformal. Ia ingin mendapatkan tempat belajar dan ruang bermain yang aman serta nyaman. “Saya ingin menjadi anak berprestasi. Tapi itu juga butuh dukungan, tempat belajar yang baik, dan lingkungan yang aman untuk bermain,” kata Naura dengan mata penuh harapan.
Aksi ini tidak hanya menyoroti kondisi fisik ruang bermain, tapi juga mengangkat isu perlakuan terhadap anak dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa pesan di poster menyoroti pentingnya komunikasi tanpa kekerasan dan pengakuan atas keberagaman potensi anak. Para peserta percaya bahwa setiap anak memiliki keistimewaannya masing-masing dan butuh ruang untuk berkembang dengan cara mereka sendiri.
Meski hanya terdiri dari puluhan anak, aksi jalan kaki ini mencerminkan suara yang lebih besar suara dari jutaan anak Indonesia lainnya yang memiliki mimpi dan kebutuhan serupa. Aksi ini juga menjadi pengingat bahwa Hari Anak Nasional bukan hanya soal seremoni, melainkan momentum untuk merefleksikan komitmen negara, keluarga, dan masyarakat terhadap perlindungan serta pemberdayaan generasi muda.
Forum Pendidikan Alternatif Surabaya berharap kegiatan ini dapat menjadi titik awal dari gerakan yang lebih luas. Dengan keberanian anak-anak yang berani bersuara, diharapkan para orang dewasa baik di rumah, sekolah, maupun pemerintahan dapat mendengar dan mulai bergerak memenuhi apa yang semestinya sudah menjadi hak dasar mereka.
“Anak-anak hanya ingin tumbuh dengan aman, dihargai, dan didukung. Aksi kecil mereka hari ini seharusnya cukup menyadarkan kita semua bahwa perjuangan mereka sangat nyata,” tutup Dini.
Dengan wajah polos dan langkah kecil, anak-anak kampung di Surabaya telah memberikan pelajaran besar kepada kita semua: bahwa keberanian untuk menyampaikan kebenaran bisa dimulai dari kaki kecil yang berani melangkah, dan suara lemah yang tak takut untuk berseru.

































