Manyala.co – Suasana ruang laboratorium komputer di SMK Negeri 3 Yogyakarta, Jetis, tampak berbeda pada Rabu pagi, 6 Agustus 2025. Sekitar 45 siswa terpilih dari sekolah tersebut tampak fokus, masing-masing duduk di hadapan monitor komputer mereka, mengikuti ujian Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Salah satu di antara mereka adalah Nicholas Demian Jatmiko. Tatapannya tajam menelusuri setiap baris soal yang muncul di layar, pikirannya bekerja cepat dalam menakar jawaban yang paling tepat untuk memperoleh nilai maksimal.
ANBK sendiri merupakan bagian dari reformasi evaluasi pendidikan yang dicanangkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Berbeda dari Ujian Nasional yang lebih dulu dihentikan, ANBK tidak bertujuan menilai capaian individu siswa, melainkan memetakan kualitas sistem pendidikan pada tingkat satuan pendidikan dan wilayah secara keseluruhan. Tujuan utamanya adalah memberikan gambaran objektif dan menyeluruh tentang kondisi pembelajaran di sekolah-sekolah Indonesia.
Pelaksanaan ujian berlangsung selama dua hari, dengan durasi masing-masing dua jam setiap harinya. Para peserta tidak hanya diuji dalam kemampuan literasi dan numerasi, tetapi juga diminta menjawab survei karakter dan lingkungan belajar. Dengan demikian, ANBK diharapkan mampu menangkap lebih dari sekadar kemampuan kognitif siswa. Ujian ini menjadi alat untuk mengukur sejauh mana proses pendidikan mendukung pengembangan karakter, kenyamanan lingkungan sekolah, dan kualitas interaksi antara murid dengan guru.
Pihak sekolah menyadari pentingnya peran siswa sebagai responden utama dalam ANBK. Oleh karena itu, siswa-siswi terpilih seperti Nicholas dipersiapkan untuk memberikan jawaban yang mencerminkan situasi pembelajaran mereka secara nyata. Mereka tidak diminta untuk belajar materi secara khusus seperti menghadapi ujian biasa, melainkan diarahkan untuk menjawab sesuai pemahaman dan pengalaman mereka selama proses belajar mengajar berlangsung.
Kepala sekolah SMK Negeri 3 Yogyakarta, dalam keterangan terpisah, menjelaskan bahwa keikutsertaan sekolahnya dalam ANBK merupakan bagian dari komitmen institusi dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan. Ia menambahkan, meskipun hasil ANBK tidak memengaruhi kelulusan siswa, namun hasilnya akan menjadi dasar penting bagi evaluasi dan perencanaan peningkatan kualitas pendidikan di masa mendatang.
Kementerian sendiri telah menegaskan bahwa data dari ANBK akan digunakan untuk membantu sekolah menyusun strategi pembelajaran yang lebih tepat sasaran. Sekolah-sekolah yang hasilnya menunjukkan kekurangan akan mendapat perhatian lebih, baik dalam bentuk pendampingan maupun penguatan sumber daya. Sebaliknya, sekolah dengan hasil memuaskan dapat dijadikan rujukan atau model praktik baik bagi satuan pendidikan lainnya.
Bagi siswa seperti Nicholas, mengikuti ANBK menjadi pengalaman yang tidak hanya menantang secara akademik, tetapi juga menyadarkan akan pentingnya peran mereka dalam sistem pendidikan nasional. Melalui mata dan suara siswa, negara berupaya menakar kondisi pendidikan di tanah air secara jujur dan menyeluruh. Dan di balik layar monitor komputer yang menampilkan deretan soal, tersimpan harapan besar akan masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik.
Baca Juga: Peringkat IQ Dunia: Skor Orang Iran Tertinggi di Timur Tengah, Indonesia Nomor Berapa?
































