Manyala.co – Komika Pandji Pragiwaksono membuat pengakuan yang mengejutkan publik setelah secara terbuka menyatakan perubahan pandangannya terhadap Menteri Pertahanan sekaligus Presiden terpilih, Prabowo Subianto. Pernyataan tersebut ia sampaikan setelah menimbang kembali kebijakan-kebijakan yang sempat ia kritik, terutama di bidang pertahanan dan ketahanan pangan.
Pandji menjelaskan bahwa di masa lalu, ia termasuk pihak yang mempertanyakan langkah Prabowo dalam mengalokasikan anggaran besar untuk pembelian dan pembaruan persenjataan. Saat itu, menurutnya, narasi mengenai ancaman perang dunia terdengar berlebihan. Namun, situasi geopolitik yang kini memanas membuatnya mulai memahami alasan di balik keputusan tersebut.
“Saya nggak nyangka akan ngomong begini, tapi mungkin Prabowo benar. Dari dulu dia sudah bilang ‘bakal ada perang dunia, makanya kita perlu beli senjata’. Waktu jadi menteri, dia ingin memperbarui alutsista karena yakin akan ada konflik besar,” ungkap Pandji melalui cuplikan video yang diunggah akun Instagram @bigthinkers.id pada Jumat, 8 Agustus 2025.
Ia mengakui bahwa dulunya banyak pihak, termasuk dirinya, meragukan perkiraan Prabowo. Menurut Pandji, anggapan umum saat itu adalah Prabowo sekadar berpikir layaknya seorang mantan tentara yang melihat segala sesuatu dari perspektif militer. “Dulu dikritik, termasuk oleh saya sendiri,” tambahnya.
Selain sektor pertahanan, Pandji juga membahas program strategis seperti pembangunan food estate dan pemberian makan bergizi gratis yang digagas Prabowo. Ia menilai bahwa kedua program ini memiliki tujuan jangka panjang untuk memastikan Indonesia tetap mandiri jika terjadi krisis global yang memutus rantai pasokan internasional. “Kalau ada apa-apa dan kita terputus dari dunia luar, kita masih aman. Kita punya makanan, punya sumber daya untuk berputar, dan punya senjata untuk bertahan,” jelasnya.
Menurut Pandji, kebijakan tersebut awalnya memang menuai kritik dari masyarakat. Namun, dengan merebaknya perang di berbagai wilayah dunia dan potensi meluasnya konflik, ia melihat kekhawatiran Prabowo semakin masuk akal. “Dulu dikritik, tapi dengan perang yang sekarang ini sudah keluar dari areanya, ternyata kekhawatiran itu ada benarnya,” ucapnya.
Pandji pun mengaku terbuka untuk mengoreksi penilaiannya di masa lalu. Ia menyadari bahwa ada kemungkinan sebagian orang, seperti Prabowo, memiliki pandangan lebih jauh ke depan dibanding mayoritas. “Mungkin penilaian saya salah. Bisa jadi ada orang yang lebih cepat melihat tanda-tanda bahaya. Memang belum tentu perang besar itu terjadi, tapi bersiap bukanlah hal yang salah,” ungkapnya.
Dalam pandangannya, salah satu poin yang patut diapresiasi dari Prabowo adalah komitmennya agar Indonesia tetap bersikap netral jika konflik global benar-benar pecah. Pandji menyebut Prabowo menegaskan posisi non-blok sebagai upaya menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak. “Kalau perang benar terjadi dan mendekat ke kita, beliau bilang Indonesia tetap netral. Kita berteman dengan semua pihak,” kata Pandji menutup pernyataannya.
Pengakuan ini menjadi sorotan publik, mengingat Pandji dikenal sebagai sosok yang kritis terhadap pemerintah. Perubahan sikapnya mencerminkan dinamika pandangan masyarakat yang bisa bergeser seiring perkembangan situasi global dan munculnya ancaman nyata terhadap keamanan nasional.
































