Manyala.co – Ada suasana hangat yang terselip dalam acara pengarahan Presiden Prabowo Subianto kepada guru dan kepala Sekolah Rakyat di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (22/8/2025) sore. Momen itu terjadi ketika pidato Prabowo hampir berbarengan dengan datangnya waktu salat magrib.
Di hadapan para peserta yang hadir, Prabowo sempat menghentikan ucapannya dan berkelakar bahwa ia bisa saja dimarahi Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar jika pidatonya melewati adzan. “Cukup ya? Mau magrib, mau magrib. Nanti saya dimarahin Menag, saudara-saudara sekalian,” ungkapnya dengan nada bercanda.
Namun, Presiden tak serta-merta menutup sambutannya. Ia terlebih dahulu meminta izin kepada Menag agar diberi waktu tambahan beberapa menit. “Menag, 5 menit masih bisa? Aku Presiden tapi kalau urusan agama, aku tunduk juga sama Menag,” ujar Prabowo, yang langsung disambut tawa hadirin.
Pesan tentang Batasan Kekuasaan Seorang Kepala Negara
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menekankan bahwa seorang kepala negara harus memahami batas wewenang yang dimilikinya. Menurutnya, ada ranah-ranah tertentu yang tidak bisa diatur secara mutlak oleh Presiden dan harus diserahkan pada otoritas yang lebih berkompeten. “Kita harus tahu, mana wewenang kita, mana yang kita kurang berkuasa,” katanya.
Ucapan tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan tidak hanya tentang otoritas tertinggi, melainkan juga tentang kemampuan untuk menghormati peran masing-masing institusi dalam pemerintahan.
Sindiran Ringan soal Pentingnya Peran Menteri
Prabowo kemudian menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Kabinet Merah Putih atas kerja keras mereka. Namun, di sela pidatonya ia kembali melemparkan canda serius yang menyinggung peran vital Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB).
“Jangan macam-macam sama Menteri PAN-RB. Dia enggak tanda tangan, kalian enggak dapat apa-apa. Aku Presiden, kalau beliau tak tanda tangan, enggak jadi kalian semua,” ucap Prabowo, disambut tepuk tangan sekaligus tawa audiens.
Acara Bertema Pendidikan dan Pemberdayaan Guru
Acara di JIExpo tersebut memang difokuskan untuk memberikan arahan kepada para pendidik Sekolah Rakyat, sebuah program yang menjadi salah satu prioritas pemerintah. Prabowo dalam pidatonya berulang kali mengingatkan bahwa guru dan kepala sekolah memiliki peran strategis dalam memutus rantai kemiskinan, karena melalui pendidikan generasi baru dapat mengangkat derajat keluarganya.
Meski sempat diselingi canda tentang waktu magrib, ucapan Presiden memperlihatkan bagaimana ia berusaha dekat dengan masyarakat sekaligus menegaskan filosofi kepemimpinannya: bekerja keras, menghormati otoritas yang berwenang, dan menempatkan pendidikan sebagai kunci untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

































