Manyala.co – Ketegangan diplomatik antara Israel dan Spanyol semakin memanas setelah tudingan keras dilontarkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terhadap Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez. Perselisihan ini berawal dari langkah-langkah kebijakan yang diumumkan Sanchez terkait konflik di Jalur Gaza, dan terus berkembang menjadi saling serang pernyataan di ruang publik.
Netanyahu menuding bahwa Sanchez telah melontarkan ancaman serius terhadap Israel. “PM Spanyol Sanchez mengatakan kemarin bahwa Spanyol tidak dapat menghentikan pertempuran Israel melawan teroris Hamas karena ‘Spanyol tidak memiliki senjata nuklir’. Itu merupakan ancaman genosida yang nyata terhadap satu-satunya negara Yahudi di dunia,” ujar Netanyahu dalam pernyataannya pada Kamis (11/9).
Namun, tuduhan ini segera dibantah oleh otoritas Madrid. Kementerian Luar Negeri Spanyol mengecam pernyataan Netanyahu sebagai tuduhan “palsu dan fitnah”. Dalam pernyataannya, Kemenlu Spanyol menegaskan, “Rakyat Spanyol adalah sahabat rakyat Israel dan juga sahabat rakyat Palestina.”
Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles, turut memberikan respons keras terhadap Netanyahu. Dalam wawancara dengan stasiun televisi lokal Antena 3, Robles menegaskan, “Saya pikir Netanyahu bukanlah orang yang berhak menguliahi siapa pun saat melakukan kekejaman yang dilakukannya di Gaza.” Pernyataan ini dilansir AFP pada Sabtu (13/9), dan menambah daftar panjang adu argumen kedua pihak.
Konflik retorika ini sesungguhnya bermula sejak Senin (8/9). Pada hari itu, Sanchez mengumumkan sembilan langkah yang ditujukan untuk menghentikan apa yang disebutnya sebagai “genosida di Gaza“. Kebijakan tersebut mencakup embargo senjata permanen, pelarangan impor dari wilayah pendudukan, hingga larangan masuk ke Spanyol bagi individu yang terlibat dalam operasi militer Israel di Gaza.
Dalam pidatonya, Sanchez menegaskan bahwa meskipun negaranya tidak memiliki kekuatan militer besar, mereka tetap akan berupaya menekan Israel. “Spanyol, seperti yang Anda ketahui, tidak memiliki bom nuklir. Spanyol juga tidak memiliki kapal induk atau cadangan minyak yang besar. Kami sendiri tidak dapat menghentikan serangan Israel, tetapi itu tidak berarti kami akan berhenti berusaha,” tegas Sanchez.
Ketegangan antara kedua negara ini sebenarnya telah berlangsung lama. Hubungan diplomatik memburuk sejak Spanyol secara resmi mengakui negara Palestina pada Mei tahun lalu. Sejak saat itu, Israel tidak lagi memiliki duta besar di Madrid. Bahkan, pada Senin (8/9), pemerintah Spanyol memutuskan menarik pulang duta besarnya dari Tel Aviv. Langkah ini dilakukan setelah Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menuduh Spanyol menjalankan “kampanye anti-Israel dan antisemitisme”.
Di sisi lain, Sanchez selama ini dikenal sebagai salah satu pemimpin Eropa paling vokal dalam mengecam operasi militer Israel di Gaza. Ia juga menjadi tokoh senior Eropa yang secara terbuka menyebut perang di Gaza sebagai “genosida”. Sikapnya inilah yang membuat Israel semakin meningkatkan kritik terhadap Madrid.
Dengan pertukaran pernyataan yang terus memanas, perseteruan Israel–Spanyol kini masuk ke babak baru. Perselisihan diplomatik yang berawal dari isu kebijakan luar negeri telah berubah menjadi saling tuding dan serangan verbal terbuka antara para pemimpin negara. Situasi ini menambah daftar panjang ketegangan diplomasi yang muncul akibat perang Gaza, yang tidak hanya mengguncang kawasan Timur Tengah, tetapi juga merembet hingga ke jantung Eropa.
































