Ilmuwan: Rotasi Bumi Menjadi 25 Jam, Cek Faktanya

Bumi
Ilustrasi Planet Bumi (Dok. REUTERS/NASA)

Manyala.co – Ilmuwan menyatakan durasi satu hari di Bumi secara bertahap terus bertambah akibat perlambatan rotasi planet, namun perubahan hingga mencapai 25 jam diperkirakan baru terjadi sekitar 200 juta tahun mendatang.

Kajian ilmiah menunjukkan bahwa rotasi Bumi tidak bersifat konstan. Seiring waktu geologis, putaran planet ini melambat secara perlahan, sehingga panjang hari meningkat. Fenomena tersebut merupakan proses alamiah yang telah berlangsung selama miliaran tahun dan tidak berdampak langsung pada kehidupan manusia saat ini.

Belakangan, isu mengenai kemungkinan satu hari berdurasi 25 jam kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah unggahan menggambarkan perubahan itu seolah akan terjadi dalam waktu dekat. Namun, para peneliti menegaskan bahwa laju perlambatan rotasi Bumi sangat kecil dan tidak akan memengaruhi sistem waktu modern dalam ratusan generasi ke depan.

Berdasarkan kajian yang dikutip sejumlah media sains internasional, termasuk NDTV, kecepatan perlambatan rotasi Bumi diperkirakan sekitar 1,7 milidetik per abad. Dengan laju tersebut, satu hari berdurasi 25 jam baru akan tercapai sekitar 200 juta tahun dari sekarang, jauh melampaui rentang peradaban manusia.

Meski demikian, rotasi Bumi tidak melambat secara linier. Dalam jangka pendek, terdapat fluktuasi yang dapat mempercepat atau memperlambat rotasi dalam hitungan milidetik. Variasi ini dipengaruhi oleh perubahan atmosfer, pencairan es di kutub, serta dinamika di bagian dalam planet.

Bantu Warga di Musim Kemarau, Pemkot Makassar Terus Salurkan Air Bersih untuk 26 Ribu KK di 9 Kecamatan

Para ilmuwan menjelaskan bahwa gaya pasang surut Bulan menjadi faktor utama perlambatan rotasi Bumi. Tarikan gravitasi Bulan terhadap lautan menciptakan gesekan yang menyerap energi rotasi Bumi. Dalam proses yang sama, Bulan secara bertahap menjauh dari Bumi dengan kecepatan beberapa sentimeter per tahun.

Selain pengaruh Bulan, pergerakan material cair di inti luar Bumi dan dinamika mantel juga berkontribusi pada perubahan kecepatan rotasi. Redistribusi massa di dalam planet dapat mengubah momentum sudut, sehingga berdampak pada lamanya satu hari.

Perubahan distribusi es dan air laut juga berperan. Mencairnya gletser atau akumulasi es di wilayah tertentu menggeser massa dari daratan ke lautan atau sebaliknya. Pergeseran ini memengaruhi keseimbangan rotasi, serupa dengan penari yang memperlambat putaran saat merentangkan tangan.

Faktor lain datang dari atmosfer. Pola angin global dan pergerakan massa udara mentransfer momentum antara atmosfer dan permukaan Bumi. Dalam periode tertentu, dinamika ini dapat menyebabkan variasi kecil pada durasi hari, meski tidak mengubah tren perlambatan jangka panjang.

Data geologis menunjukkan bahwa pada masa lampau, panjang hari di Bumi jauh lebih singkat dibanding saat ini. Sekitar 70 juta tahun lalu, pada era dinosaurus, satu hari diperkirakan hanya berlangsung sekitar 23 jam.

Wali Kota Makassar Sampaikan Aspirasi Pembangunan Makassar ke Komisi VII DPR RI

Jika suatu saat durasi hari benar-benar mencapai 25 jam, sistem pengukuran waktu dan kalender global perlu disesuaikan. Perubahan tersebut juga berpotensi memengaruhi ritme biologis makhluk hidup yang berevolusi mengikuti siklus 24 jam.

Namun, karena perubahan ini terjadi sangat lambat dalam skala jutaan tahun, para ilmuwan menilai organisme hidup akan beradaptasi secara bertahap melalui proses evolusi. Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan dampak langsung perlambatan rotasi Bumi terhadap kehidupan manusia modern.

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

01

Bantu Warga di Musim Kemarau, Pemkot Makassar Terus Salurkan Air Bersih untuk 26 Ribu KK di 9 Kecamatan

02

Wali Kota Makassar Sampaikan Aspirasi Pembangunan Makassar ke Komisi VII DPR RI

03

Wali Kota Makassar Munafri Paparkan Program Unggulan Kelurahan Gunung Sari untuk Penilaian Nasional 2026

04

Makassar Jadi Pilot Project Reformasi JKN, RSUD Daya Siapkan 24 Layanan Kompetensi

05

Pemkab Enrekang Siapkan Asuransi Gagal Panen untuk 1.500 Hektare Padi dan Jagung

06

DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Dasco: Aspirasi Buruh Ditunaikan

07

Krisis Air Bersih Enrekang, Pemkab Kerahkan OPD Salurkan Air ke Warga

Website Resmi Pemerintah Kota Makassar
HUT Kabupaten Enrekang Ke-66
Manyala.co

Olahraga

Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Taklukkan Thailand Lewat Drama Adu Penalti

Rahmat Erwin Abdullah Ukir Sejarah di Asian Games 2026, Emas dan 2 Rekor Dunia

Pelatihan Deep Learning Digelar 2 Hari, Guru PJOK Tallo Siap Mulia­kan Pendidikan dan Cetak Atlet dari SD

Beasiswa Madinah: Bosowa Peduli Dukung Pendidikan 4 Mahasiswa Makassar di Arab Saudi

Tim Indonesia Resmi Dikukuhkan Hadapi Asian Games Aichi-Nagoya 2026

Tingkatkan Keterampilan Pemain Usia Dini, UNM Gelar Pengabdian “Bentuk Latihan Teknik Dasar Sepakbola bagi Siswa SSB Persigowa”

Resmi! Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Usai Bungkam Argentina, Ferran Torres Cetak Gol Bersejarah

Dramatis! Inggris Hancurkan Prancis 6-4, Bukayo Saka Hattrick dan The Three Lions Rebut Peringkat 3 Piala Dunia 2026

Final Ideal Piala Dunia 2026! Spanyol vs Argentina Jadi Duel Penentu Rekor Rivalitas Bersejarah

Argentina Bungkam Inggris 2-1, Tantang Spanyol di Final Piala Dunia 2026

Perang Nike vs Adidas di Semifinal Piala Dunia 2026: Adu Prestise Dua Raksasa Apparel Dunia

Spanyol Hajar Prancis 2-0, La Roja Lolos ke Final untuk Kedua Kalinya dalam Sejarah

Jadwal Semifinal Piala Dunia 2026 Resmi: Prancis vs Spanyol dan Inggris vs Argentina, Catat Jam Tayangnya

Argentina Menggila di Extra Time, Singkirkan Swiss 3-1 dan Tantang Inggris di Semifinal

Bellingham Bawa Inggris Unggul 2-1 atas Norwegia di Perempat Final Piala Dunia 2026

Atlet Bulutangkis Putri Kecamatan Tallo Raih Juara I O2SN Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan

KKG PJOK Tallo Gelar Pelatihan Ekstrakurikuler Olahraga di Tingkat SD

KKG PJOK KEC.TALLO Kolaborasi Dengan Fobi Makassar dan KKG UJUNG TANAH SANGKARANG

KKG PJOK Tallo, Tamalate, Panakkukang Gelar Pelatihan Deep Learning

Erick Thohir Bantah Laporkan FAM ke FIFA

Kolom

× Advertisement
× Advertisement