Manyala.co – Istana Kepresidenan menegaskan Presiden Prabowo Subianto tidak menunjukkan kemarahan atas pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), seraya mendorong evaluasi menyeluruh dan reformasi regulasi untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi kepada wartawan di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026), di tengah tekanan yang masih dialami pasar saham domestik pada awal pekan perdagangan.
“Enggak (marah) ya. Seharusnya kan begini, kita semua kan harusnya begitu ya, bukan hanya Presiden,” kata Prasetyo. Ia menambahkan bahwa pemerintah memilih memahami faktor-faktor yang melatarbelakangi pelemahan IHSG guna mencari solusi yang tepat.
“Namun kita perlu pahami bahwa apa yang melandasi sampai terjadinya turunnya IHSG kita sangat signifikan. Nah itulah yang kemudian kita cari jalan keluarnya,” ujarnya.
Pada perdagangan Senin pagi, IHSG dibuka melemah 23 poin atau 0,28 persen ke level 8.306. Pelemahan ini melanjutkan tekanan yang terjadi pada sesi-sesi sebelumnya, setelah indeks mencatat penurunan signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Meski demikian, Prasetyo menyampaikan optimisme bahwa pasar saham domestik berpeluang menguat kembali. Ia menekankan pentingnya menjaga keyakinan dan sentimen positif di tengah volatilitas pasar.
“Bismillah hari ini bisa naik, bismillah ya bismillah. Hari ini bismillah, kita harus optimis lah kita harus yakin,” kata Prasetyo.
Menurutnya, koreksi tajam IHSG dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk pembenahan struktural pasar modal. Pemerintah, kata dia, melihat peristiwa tersebut sebagai peluang untuk memperbaiki tata kelola dan regulasi agar bursa Indonesia lebih kompetitif di tingkat global.
“Kita harapkan dengan kejadian kemarin menjadi momentum untuk kita memperbaiki pasar bursa kita, regulasi-regulasi kita perbaiki, beberapa hal sesuai dengan petunjuk Bapak Presiden kemudian diambil keputusan untuk kita mereformasi diri,” ujar Prasetyo. Ia menambahkan bahwa tujuan akhir dari langkah tersebut adalah menciptakan pasar yang lebih terbuka, transparan, dan kredibel.
Dari sisi pelaku pasar, Head of Retail Research PT BNI Sekuritas Fanny Suherman menilai IHSG masih menghadapi risiko koreksi lanjutan. Dalam riset hariannya pada Jumat (30/1/2026), ia menyebut pergerakan indeks masih rentan selama belum menembus level teknis tertentu.
“IHSG masih rentan untuk koreksi sepanjang belum break di atas 8.420,” kata Fanny.
Tekanan terhadap pasar domestik juga terjadi seiring sentimen global. Bursa saham Asia pada akhir pekan lalu mayoritas bergerak di zona merah, dipengaruhi oleh sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mendukung kesepakatan bipartisan untuk mencegah penutupan pemerintahan serta pernyataannya terkait calon pimpinan bank sentral AS.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,10 persen, sementara Topix naik 0,59 persen. Di Korea Selatan, Kospi menguat 0,06 persen, sedangkan Kosdaq melemah 1,29 persen. Sementara itu, Hang Seng Index Hong Kong turun 2,08 persen, S&P/ASX 200 Australia melemah 0,65 persen, dan Taiex Taiwan terkoreksi 1,45 persen.
Hingga Senin siang, belum ada pengumuman resmi mengenai kebijakan tambahan yang akan diambil pemerintah atau otoritas pasar untuk merespons dinamika IHSG. Pemerintah menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar dan berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan investor.
































