Manyala.co – Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan sejumlah menteri sektor ekonomi di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Minggu, menjelang rencana penandatanganan kesepakatan perdagangan timbal balik dengan Amerika Serikat pekan ini.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan Presiden menegaskan bahwa posisi Indonesia dalam setiap perundingan ekonomi internasional harus mengedepankan kepentingan nasional, terutama dalam negosiasi dengan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.
“Presiden menegaskan beberapa hal, memastikan posisi yang diambil Indonesia dalam setiap perundingan ekonomi dengan siapa pun, khususnya dalam waktu dekat dengan Amerika Serikat, adalah yang terbaik dan paling menguntungkan untuk Indonesia,” ujar Teddy, dikutip dari akun resmi Sekretariat Kabinet.
Menurut Teddy, Presiden juga menginginkan agar setiap kesepakatan mampu meningkatkan produktivitas industri dalam negeri dan memperkuat rantai pasok industri nasional sebagai bagian dari integrasi global supply chain. Selain itu, pemerintah diminta memastikan implementasi kebijakan berjalan cepat dan berdampak langsung bagi masyarakat.
“Presiden menginginkan setiap kebijakan yang diambil harus segera dan sebanyak mungkin memberi keuntungan konkret untuk Indonesia,” kata Teddy.
Pertemuan tersebut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Menteri Sekretaris Negara Prasetio Hadi, serta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Sebelumnya, Airlangga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo dijadwalkan menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat saat kunjungan ke AS pada 19 Februari 2026. “Disampaikan bahwa Bapak Presiden rencananya akan menghadiri acara pada tanggal 19, dan di sekitar tanggal tersebut juga akan ada rencana penandatanganan ART, Agreement on Reciprocal Tariff,” kata Airlangga di Kompleks Istana, Jakarta, 11 Februari.
Airlangga menambahkan pemerintah masih menunggu draf akhir kesepakatan sebelum penandatanganan. “Kemudian, ada hal-hal lain yang juga akan kita tunggu sampai semuanya 100 persen selesai,” ujarnya.
Pada 22 Juli 2025, Indonesia dan Amerika Serikat menyepakati pernyataan bersama mengenai kerangka kerja ART. Dalam kesepakatan awal tersebut, Amerika Serikat disebut akan memangkas tarif impor untuk produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen.
Kesepakatan itu dipandang sebagai langkah penting untuk memperluas akses pasar Indonesia ke Amerika Serikat, salah satu mitra dagang utama. Pemerintah Indonesia menargetkan pembahasan tarif rampung pada Februari 2026.
Hingga Minggu malam, belum ada keterangan resmi mengenai poin-poin final yang akan disepakati dalam ART maupun dampak sektoral secara rinci terhadap industri domestik. Pemerintah menyatakan pembahasan teknis masih berlangsung.
Langkah Presiden menggelar rapat terbatas di Hambalang menunjukkan intensifikasi koordinasi menjelang agenda internasional tersebut. Fokus pemerintah, menurut pernyataan resmi, adalah memastikan kesepakatan perdagangan memberikan manfaat konkret bagi perekonomian nasional, termasuk peningkatan daya saing ekspor dan penguatan struktur industri dalam negeri.
































