Manyala.co – Sejumlah partai politik koalisi pemerintahan mulai menyatakan dukungan agar Presiden Prabowo Subianto kembali maju pada Pemilihan Presiden 2029. Namun, dukungan tersebut tidak secara eksplisit disertai nama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai pasangan.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai fenomena itu menunjukkan sikap politik yang terukur dari partai-partai pendukung pemerintah. Ia mencermati bahwa hingga pertengahan Februari 2026, belum ada partai yang secara resmi mendeklarasikan dukungan paket Prabowo-Gibran untuk periode kedua.
“Sejumlah partai politik sudah menyuarakan dukungan dua periode kepada Prabowo Subianto. Menariknya, belum ada partai politik yang memberi dukungan sepaket dengan Gibran Rakabuming Raka,” ujar Jamiluddin, Senin (16/2/2026).
Partai-partai seperti PKB, Golkar, PAN, dan Demokrat dalam beberapa kesempatan menyampaikan dukungan terhadap Prabowo. Meski demikian, pernyataan tersebut belum berupa keputusan resmi partai melalui forum internal. PKB, misalnya, menyebut pembahasan calon wakil presiden masih terbuka. PAN sempat mengusulkan nama ketuanya, Zulkifli Hasan, sebagai calon pendamping, namun dinyatakan sebagai pandangan pribadi, bukan sikap resmi partai.
Menurut Jamiluddin, tidak dicantumkannya nama Gibran dapat dimaknai sebagai upaya partai politik untuk tidak “menyandera” pilihan Prabowo. “Dengan tidak menyebut Gibran, berarti partai politik tidak menyandera Prabowo untuk tetap bersama pada Pilpres 2029. Partai politik membiarkan Prabowo siapa nantinya yang cocok mendampinginya pada Pilpres 2029,” tuturnya.
Ia menilai langkah tersebut logis karena hanya Prabowo yang mengetahui tingkat kecocokan dan kebutuhan politiknya menjelang 2029. “Jadi, partai politik tampaknya berupaya menjaga etika politik. Dengan begitu, Prabowo nantinya dapat menentukan pendampingnya yang sesuai kriteria yang ditetapkannya,” kata Jamiluddin.
Dari sisi stabilitas pemerintahan, ia berpendapat pendekatan itu justru dapat menjaga kondusivitas Kabinet Merah Putih. Dengan tidak menunjukkan keberpihakan pada figur tertentu, partai koalisi dinilai menghindari potensi friksi internal menjelang kontestasi berikutnya.
“Meskipun PAN menyuarakan Ketumnya Zulkifli Hasan sebagai calon pendamping Prabowo, namun hal itu dinyatakan sebagai pandangan pribadi. Hal itu bukanlah suara resmi PAN, sehingga tidak akan mengganggu secara politis jalannya pemerintahan,” ujarnya.
Dukungan terhadap Prabowo untuk dua periode muncul di tengah dinamika politik nasional pasca Pemilu 2024 yang mengantarkan pasangan Prabowo-Gibran ke kursi eksekutif. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Prabowo maupun Gibran terkait komposisi pasangan pada Pilpres 2029.
Secara hukum, masa jabatan presiden di Indonesia dibatasi maksimal dua periode. Dengan demikian, Prabowo masih memiliki peluang konstitusional untuk mencalonkan diri kembali pada 2029. Namun, dinamika koalisi dan konfigurasi politik menjelang pemilu mendatang diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh konsolidasi partai dalam beberapa tahun ke depan.
Belum ada konfirmasi resmi dari partai-partai terkait keputusan final mengenai pasangan calon 2029 hingga Senin siang.
































