Jakarta — Analisis terbaru menunjukkan Rusia dan China diduga memberikan dukungan intelijen, teknologi militer, dan sistem pengawasan kepada Iran di tengah meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Laporan sejumlah media Barat dan analis keamanan menyebut Rusia diduga membagikan informasi intelijen sensitif kepada Iran, termasuk lokasi kapal perang serta pesawat militer Amerika Serikat yang beroperasi di wilayah Teluk Persia. Informasi tersebut disebut berasal dari jaringan pengawasan satelit militer Rusia yang mampu melacak pergerakan aset militer secara presisi.
Beberapa pejabat Amerika Serikat yang berbicara kepada media internasional menyatakan bahwa data tersebut diduga digunakan Iran untuk meningkatkan akurasi serangan terhadap fasilitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Rusia terkait tuduhan tersebut.
Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan membantah bahwa Moskow memberikan intelijen militer kepada Iran. Bantahan itu disampaikan dalam komunikasi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menurut laporan media internasional. Meski demikian, sejumlah analis menilai hubungan strategis antara Moskow dan Teheran telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak perang Rusia di Ukraina.
Iran diketahui memasok drone dan amunisi kepada Rusia yang digunakan dalam konflik Ukraina. Sebagai imbal balik, Rusia disebut memiliki kemampuan teknologi pengawasan yang jauh lebih maju, termasuk jaringan satelit militer yang dapat memberikan citra optik dan radar secara real time.
Salah satu sistem yang disebut dalam laporan tersebut adalah satelit pengamatan Kanopus-V yang kemudian digunakan Iran melalui satelit bernama Khayyam. Satelit ini memberikan kemampuan pemantauan wilayah yang lebih luas bagi Teheran, termasuk untuk melacak pergerakan kapal dan instalasi militer di kawasan Teluk.
Di sisi lain, China juga disebut memainkan peran penting dalam meningkatkan kemampuan militer Iran, khususnya dalam bidang radar dan navigasi militer. Beijing dilaporkan telah membantu Iran mengembangkan sistem radar canggih serta memindahkan navigasi militernya dari sistem GPS milik Amerika Serikat ke sistem satelit BeiDou-3 milik China.
Selain itu, laporan Reuters menyebut Iran hampir mencapai kesepakatan untuk membeli sekitar 50 rudal antikapal supersonik CM-302 dari China. Rudal ini merupakan versi ekspor dari YJ-12 dan mampu melaju hingga tiga kali kecepatan suara (Mach 3) dengan profil terbang rendah di atas permukaan laut.
Analis militer menyebut rudal tersebut memiliki kemampuan untuk menembus sistem pertahanan kapal perang modern, sehingga sering dijuluki sebagai “pembunuh kapal induk”. Hal ini menjadi perhatian karena dua kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford, dilaporkan beroperasi di kawasan tersebut.
Amerika Serikat dan Israel diketahui terus meningkatkan operasi intelijen dan pengawasan terhadap jaringan militer Iran. Operasi militer yang disebut melibatkan penghancuran sejumlah instalasi radar Iran pada tahap awal konflik untuk mengurangi kemampuan deteksi dan pertahanan udara negara tersebut.
Mantan Komandan Angkatan Udara Israel, Mayor Jenderal Eitan Ben-Eliyahu, mengatakan menghancurkan radar musuh memiliki dampak strategis besar dalam perang modern.
“menghancurkan radar bukan hanya sekadar menonaktifkan mesin; tindakan tersebut juga membutakan musuh,” ujarnya.
Di sisi lain, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Ali Mohammad Naeini mengklaim Iran telah menghancurkan hampir 10 sistem radar canggih milik Amerika Serikat di kawasan tersebut. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Para analis menilai konflik yang berkembang di kawasan Teluk kini semakin dipengaruhi oleh perang elektronik dan pertarungan di spektrum elektromagnetik, bukan hanya kekuatan senjata konvensional.
Seorang komandan militer senior Amerika Serikat mengatakan teknologi pengawasan kini memainkan peran kunci dalam konflik modern.
“sinyal adalah peluru baru: siapa yang menguasai spektrum elektromagnetik menguasai pertempuran,” katanya.
Pengamat keamanan menilai perkembangan ini menunjukkan perubahan signifikan dalam keseimbangan kekuatan di Timur Tengah. Namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Rusia maupun China mengenai tingkat keterlibatan mereka dalam membantu operasi militer Iran.
































