Manyala.co – Laporan intelijen Amerika Serikat menyimpulkan pemerintahan Iran masih mampu mempertahankan kendali negara meskipun menghadapi serangan militer dari Amerika Serikat dan Israel selama dua pekan terakhir.
Beberapa sumber yang mengetahui laporan intelijen tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa analisis terbaru menunjukkan kepemimpinan Iran tetap stabil dan tidak berada dalam ancaman runtuh setelah serangkaian serangan militer yang menargetkan instalasi strategis serta tokoh penting negara itu.
Serangan gabungan oleh Amerika Serikat dan Israel dalam dua pekan terakhir dilaporkan mencakup pengeboman fasilitas militer serta operasi yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Meski demikian, sumber intelijen menyebut struktur pemerintahan Iran masih mampu mengendalikan situasi domestik.
Salah satu sumber mengatakan terdapat “analisis yang konsisten” dalam berbagai laporan intelijen yang menunjukkan rezim Iran tidak berada dalam kondisi yang mengarah pada keruntuhan.
Laporan tersebut muncul ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan operasi militer terhadap Iran kemungkinan akan segera dihentikan.
Trump mengatakan kepada CBS pada Senin (9/3) bahwa operasi militer akan berakhir “segera, sangat segera.” Pernyataan itu muncul setelah operasi militer yang disebut sebagai Operasi Epic Fury berlangsung selama beberapa waktu terakhir.
Namun sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat dari Partai Demokrat menyatakan kekhawatiran mengenai arah kebijakan Washington. Komentar tersebut muncul setelah para senator mengikuti pengarahan tertutup dari pejabat pemerintahan pada Selasa (10/3).
Beberapa senator menyatakan Amerika Serikat “tidak memiliki rencana” yang jelas mengenai strategi jangka panjang terhadap Iran.
Penilaian awal dari Central Intelligence Agency (CIA) sebelumnya juga menyimpulkan bahwa penghilangan para pemimpin Iran berpotensi memicu munculnya kelompok yang lebih radikal di negara tersebut.
Sementara itu, operasi militer yang dilancarkan Washington dilaporkan menimbulkan korban di pihak militer Amerika. Hingga kini sedikitnya tujuh tentara Amerika Serikat dilaporkan tewas dan sekitar 140 lainnya mengalami luka-luka dalam berbagai serangan yang berkaitan dengan konflik tersebut.
Ketegangan juga memicu dampak ekonomi global setelah Iran memblokir jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan rute strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Blokade tersebut mendorong kenaikan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi internasional.
Di dalam negeri Iran, pemerintahan baru telah menunjuk pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, yang merupakan putra dari pemimpin sebelumnya. Penunjukan tersebut dinilai membantu menjaga kesinambungan struktur kekuasaan di negara itu.
Sejumlah pejabat Israel juga dilaporkan meragukan kemungkinan munculnya pemberontakan besar dari masyarakat Iran yang dapat menggulingkan pemerintahan saat ini.
Meski demikian, beberapa sumber menyebut Israel tetap memiliki tujuan untuk melemahkan pemerintahan Iran secara signifikan. Menurut para analis militer, menggulingkan pemerintahan Iran kemungkinan memerlukan pengerahan pasukan darat dalam skala besar.
Pemerintahan Trump sebelumnya menyatakan operasi militer dilakukan untuk mencegah ambisi nuklir Iran serta membuka peluang perubahan politik di negara tersebut.
Namun pernyataan para pejabat Amerika Serikat mengenai tujuan operasi militer kerap berubah. Sehari sebelum Trump mengatakan perang akan segera berakhir, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyampaikan pesan berbeda.
“Ini baru permulaan,” kata Hegseth dalam wawancara dengan CBS.
Hingga kini pemerintah Amerika Serikat belum mengumumkan strategi jangka panjang terkait konflik dengan Iran, sementara situasi di kawasan Timur Tengah masih terus berkembang.
































