Makassar, Manyala.co – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di Sulawesi Selatan pada 9–11 Januari 2026, dengan potensi banjir dan longsor di sejumlah wilayah.
BMKG menyebut hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi diprakirakan terjadi di Makassar, Gowa, Maros, serta beberapa kabupaten lain di Sulawesi Selatan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko genangan, banjir, dan pergerakan tanah, terutama di wilayah dengan sistem drainase dan topografi yang rentan.
Peringatan dini ini disampaikan di tengah aktivitas masyarakat pada awal tahun yang masih tinggi. Cuaca ekstrem berpotensi mengganggu mobilitas warga, aktivitas ekonomi, serta meningkatkan risiko terhadap keselamatan dan kesehatan masyarakat.
BMKG menegaskan prakiraan tersebut bersifat kewaspadaan dini agar pemerintah daerah dan masyarakat dapat melakukan langkah mitigasi. Hingga Minggu malam, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa atau kerusakan besar akibat cuaca ekstrem di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Sulawesi Selatan juga mencatat aktivitas pertanian yang tetap berjalan. Kabupaten Bantaeng, salah satu sentra produksi pangan, dilaporkan memasuki masa panen raya jagung pada periode yang sama. Kondisi ini menunjukkan produksi pertanian masih berlangsung meskipun berada di tengah ancaman cuaca ekstrem.
Namun, sejumlah pihak menilai keberlanjutan ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh hasil produksi. Akses distribusi menjadi faktor krusial, terutama saat hujan lebat berpotensi merusak jalan, jembatan, dan infrastruktur penghubung antarwilayah.
Gangguan distribusi dapat berdampak langsung terhadap pasokan pangan dan stabilitas harga, khususnya di daerah yang bergantung pada jalur darat. Dalam kondisi cuaca ekstrem berkepanjangan, risiko kerugian petani meningkat apabila hasil panen tidak dapat segera dipasarkan.
Cuaca ekstrem juga menyoroti pentingnya kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang berulang setiap musim hujan. Drainase yang tidak berfungsi optimal, permukiman di daerah rawan, serta keterbatasan sistem peringatan lokal menjadi faktor yang memperbesar dampak hujan ekstrem.
Pemerintah daerah diharapkan memperkuat langkah antisipasi, termasuk kesiapan logistik, perlindungan kelompok rentan seperti petani dan pekerja informal, serta koordinasi lintas sektor. Upaya tersebut dinilai penting untuk meminimalkan dampak sosial dan ekonomi akibat bencana.
BMKG mencatat cuaca ekstrem di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cenderung meningkat seiring perubahan iklim global. Pola hujan tidak menentu dan intensitas tinggi dalam waktu singkat menjadi tantangan utama bagi wilayah dengan daya dukung lingkungan yang terbatas.
Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi dengan kontribusi signifikan terhadap produksi pangan nasional, khususnya jagung dan beras. Stabilitas produksi dan distribusi di wilayah ini berpengaruh terhadap pasokan regional Indonesia timur.
Hingga akhir periode peringatan dini, BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan mengimbau masyarakat untuk mengikuti informasi resmi. Pemerintah daerah juga diminta bersiaga dan melakukan langkah pencegahan guna mengurangi risiko banjir, longsor, dan gangguan ketahanan pangan.
































