Manyala.co – Sejumlah kota di Eropa Utara dan wilayah Arktik diperkirakan mencatat durasi puasa Ramadan terpanjang pada 2026, dengan Nuuk di Greenland mencapai lebih dari 16 jam per hari, menurut laporan media internasional dan prakiraan astronomi.
Durasi puasa Ramadan ditentukan oleh waktu terbit fajar hingga terbenam matahari, yang berbeda-beda bergantung pada garis lintang dan posisi matahari. Secara umum, umat Muslim di berbagai negara menjalani puasa antara 11 hingga 16 jam per hari, dengan durasi meningkat di wilayah yang lebih jauh dari garis khatulistiwa.
Menurut laporan The Times of India untuk periode Ramadan tahun sebelumnya, 10 kota dengan durasi puasa terlama didominasi kawasan Eropa Utara. Nuuk, Greenland, mencatat sekitar 16 jam 31 menit, disusul Reykjavik, Islandia, 16 jam 29 menit. Helsinki, Finlandia, dan Oslo, Norwegia, masing-masing mencatat lebih dari 15 jam 30 menit.
Kota lain dalam daftar tersebut antara lain;
- Nuuk, Greenland: 16 jam 31 menit
- Reykjavik, Islandia: 16 jam 29 menit
- Helsinki, Finlandia: 15 jam 36 menit
- Oslo, Norwegia: 15 jam 40 menit
- Glasgow, Skotlandia (15 jam 5 menit)
- Berlin, Jerman (14 jam 50 menit)
- Dublin, Irlandia (14 jam 55 menit)
- Moskow, Rusia (14 jam 51 menit)
- Amsterdam, Belanda (14 jam 50 menit)
- Warsawa, Polandia (14 jam 50 menit).
Perbedaan ini terjadi karena wilayah di belahan bumi utara mengalami siang hari lebih panjang menjelang musim panas. Prakiraan astronomi menunjukkan bahwa semakin ke utara suatu lokasi, semakin panjang durasi cahaya matahari, sehingga memperpanjang waktu puasa.
Sebaliknya, negara-negara di wilayah Arab selatan dan kawasan yang lebih dekat dengan khatulistiwa mencatat durasi puasa lebih pendek dan relatif stabil. Di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, panjang siang hari lebih seimbang sepanjang tahun, sehingga waktu puasa tetap moderat dibandingkan Eropa Utara.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa di wilayah paling utara seperti Greenland, Islandia, dan Rusia bagian utara, durasi puasa dapat melampaui 16 jam. Studi di Swedia bahkan mencatat potensi puasa hingga sekitar 20–21 jam di daerah tertentu yang mengalami siang hari ekstrem, meskipun durasi tersebut bergantung pada lokasi spesifik dan metode penetapan waktu.
Seiring berjalannya bulan Ramadan, durasi puasa biasanya bertambah beberapa menit setiap hari karena pergeseran posisi matahari. Hari-hari terakhir Ramadan cenderung sedikit lebih panjang dibanding awal bulan.
Dalam praktiknya, umat Muslim di wilayah dengan siang hari sangat panjang atau hampir tanpa matahari terbenam dapat mengikuti panduan ulama setempat. Di antaranya adalah mengikuti waktu Makkah atau mengikuti jadwal kota terdekat dengan durasi siang hari yang lebih moderat. Pendekatan ini diterapkan untuk memastikan pelaksanaan ibadah tetap proporsional dan sesuai prinsip syariat.
Belum ada data resmi global yang merinci durasi puasa 2026 untuk setiap kota secara final, karena penentuan awal Ramadan juga bergantung pada metode rukyat atau hisab yang digunakan masing-masing negara. Namun, pola umum menunjukkan bahwa wilayah Eropa Utara dan Arktik akan kembali mencatat durasi puasa terpanjang tahun ini.
































