Manyala.co – Maskapai nasional Garuda Indonesia menghibahkan satu unit pesawat kepada Asrama Haji Kelas I Aceh sebagai fasilitas manasik guna meningkatkan kesiapan teknis dan mental calon jemaah haji sebelum keberangkatan ke Tanah Suci.
Peresmian hibah dilakukan oleh Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak bersama Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny H. Kairupan, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, serta Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, Kamis (19/2).
Dahnil mengatakan pesawat tersebut tidak sekadar menjadi simbol, melainkan sarana praktik langsung bagi calon jemaah haji.
“Pesawat ini kami hadirkan agar jemaah merasakan suasana penerbangan haji,” kata Dahnil dalam keterangannya.
“Jadi pada saat hari keberangkatan tiba, mereka (jemaah haji) bisa lebih tenang dan siap,” ujarnya.
Pesawat yang dihibahkan merupakan Boeing 737 eks Citilink yang telah dirakit ulang dan disesuaikan menyerupai kabin aktif. Fasilitas ini memungkinkan calon jemaah mempraktikkan proses boarding, penempatan bagasi kabin, penggunaan sabuk pengaman, hingga memahami prosedur penerbangan jarak jauh.
Inisiatif tersebut ditujukan untuk mengurangi kecemasan yang kerap dialami jemaah, khususnya kelompok lanjut usia, saat pertama kali melakukan perjalanan udara jarak jauh menuju Arab Saudi. Dengan pendekatan ini, manasik tidak hanya berfokus pada pemahaman rukun dan wajib haji, tetapi juga aspek teknis perjalanan udara.
Penempatan pesawat di Aceh dinilai memiliki makna historis. Dari wilayah tersebut lahir cikal bakal Garuda Indonesia melalui pesawat Seulawah RI-001, yang pembeliannya didukung masyarakat Aceh pada awal kemerdekaan. Hibah ini disebut sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi daerah tersebut dalam sejarah penerbangan nasional.
Di bawah kepemimpinan Glenny H. Kairupan, Garuda Indonesia menyatakan komitmennya mendukung ekosistem penyelenggaraan haji nasional. Maskapai pelat merah tersebut selama ini menjadi salah satu operator utama penerbangan haji Indonesia.
Sinergi antara pemerintah pusat, maskapai, dan pemerintah daerah dinilai semakin konkret melalui penyediaan fasilitas pelatihan ini. Persiapan jemaah dilakukan sejak tahap embarkasi, sebelum keberangkatan resmi.
Hingga Kamis sore, belum ada rincian nilai hibah maupun estimasi biaya perakitan ulang pesawat yang disampaikan kepada publik. Pemerintah juga belum mengumumkan apakah model fasilitas serupa akan diterapkan di embarkasi lain di Indonesia.
Setiap tahun, Indonesia memberangkatkan ratusan ribu jemaah haji, dengan sebagian besar menggunakan transportasi udara jarak jauh. Peningkatan kualitas manasik menjadi salah satu fokus pemerintah dalam upaya memperbaiki layanan haji dan mengurangi risiko kendala teknis selama perjalanan.
Dengan adanya fasilitas pesawat latihan ini, manasik haji di Aceh diharapkan menjadi lebih komprehensif, mencakup persiapan spiritual sekaligus kesiapan teknis penerbangan.
































