Makassar, Manyala.co – Kuliner tradisional jalangkote kembali menjadi takjil favorit warga Makassar, Sulawesi Selatan, pada Ramadan 2026, dengan penjualan di sejumlah titik dilaporkan meningkat hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa, Makassar, Jumat (20/2/2026).
Jalangkote masih mendominasi pilihan menu berbuka puasa warga Kota Makassar. Makanan gorengan khas Sulawesi Selatan tersebut kerap dianggap sebagai sajian wajib saat berbuka.
Secara fisik, jalangkote memiliki kemiripan dengan pastel, namun dikenal dengan tekstur kulit yang lebih renyah dan cita rasa gurih. Isian umumnya terdiri atas sayuran dan bihun, dengan variasi tambahan seperti telur rebus atau sosis. Berbeda dari pastel yang lazim disantap dengan cabai rawit atau saus kacang, jalangkote biasanya disajikan bersama saus khas bercita rasa asam-manis-pedas.
Di salah satu lokasi penjualan di kawasan Jalan Malengkeri, Makassar, seorang pedagang menyebut Ramadan sebagai periode dengan lonjakan permintaan tertinggi. Dalam kondisi normal, penjualan berkisar 200 potong per hari. Namun selama Ramadan, jumlah tersebut dapat meningkat menjadi sekitar 500 potong per hari, atau naik sekitar 150 persen dibanding hari biasa.
Lonjakan permintaan tersebut terjadi seiring meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang waktu berbuka puasa. Jalangkote menjadi pilihan karena praktis, mudah diperoleh, serta memiliki harga yang relatif terjangkau. Produk ini juga diminati berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak.
Fenomena peningkatan konsumsi makanan ringan dan gorengan selama Ramadan merupakan pola musiman yang terjadi hampir setiap tahun di berbagai daerah Indonesia. Di Makassar, jalangkote memiliki posisi khusus sebagai bagian dari identitas kuliner lokal yang telah lama berkembang.
Secara historis, jalangkote dikenal sebagai adaptasi kuliner yang dipengaruhi tradisi makanan gorengan berisi dari luar Nusantara, kemudian berkembang dengan karakter lokal, terutama pada jenis saus pendampingnya. Keberadaan jalangkote tidak hanya terbatas pada bulan Ramadan, tetapi mengalami peningkatan signifikan selama periode tersebut karena permintaan takjil yang tinggi.
Peningkatan volume penjualan hingga tiga kali lipat mencerminkan dampak langsung Ramadan terhadap sektor usaha mikro dan pedagang kaki lima. Meski demikian, belum tersedia data resmi mengenai total nilai transaksi atau jumlah pedagang jalangkote di Makassar selama Ramadan tahun ini.
Ramadan kerap menjadi momentum penggerak ekonomi sektor informal, khususnya kuliner berbuka puasa. Tradisi berburu takjil menjelang magrib menciptakan perputaran ekonomi harian yang signifikan di tingkat lokal.
Dengan harga yang relatif terjangkau serta cita rasa yang sesuai dengan selera masyarakat setempat, jalangkote diperkirakan tetap menjadi salah satu takjil utama warga Makassar sepanjang Ramadan 2026. Hingga laporan ini disiarkan, tidak ada perubahan signifikan terkait harga jual di sejumlah titik penjualan yang dipantau.
































