Manyala.co – Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban menyatakan para pemimpin Uni Eropa tengah mempersiapkan skenario konfrontasi militer besar di tengah meningkatnya ketegangan global, termasuk konflik Ukraina dan dinamika hubungan dengan Rusia dan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Orban dalam unjuk rasa anti-perang pada Sabtu (17/1/2026), sebagaimana dilaporkan media Tribun-Video.com, ketika ia menuding Uni Eropa mulai meninggalkan jalur diplomasi dan beralih ke persiapan konflik terbuka.
Menurut Orban, para pemimpin dari 27 negara Eropa telah menggelar pertemuan di Brussel yang membahas langkah-langkah strategis terkait keamanan dan pertahanan. Ia mengklaim diskusi tersebut tidak lagi terbatas pada kebijakan politik, melainkan mencakup perencanaan militer berisiko tinggi.
“Saya duduk di sana bersama mereka,” kata Orban kepada massa aksi, seraya menyatakan keyakinannya bahwa para pemimpin Eropa sedang bersiap menghadapi kemungkinan perang. Pernyataan tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari institusi Uni Eropa hingga Kamis siang.
Orban menilai negara-negara besar Eropa, khususnya Prancis dan Jerman, tidak lagi memprioritaskan upaya diplomasi. Ia menyebut para pemimpin tersebut berambisi mengalahkan Rusia secara menyeluruh dalam konteks konflik Ukraina yang telah berlangsung sejak 2022.
Pernyataan Orban muncul di tengah berlanjutnya perang di Ukraina timur, yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Konflik tersebut telah melibatkan dukungan militer dan ekonomi dari negara-negara Barat kepada Kyiv, serta sanksi luas terhadap Moskwa.
Di sisi lain, hubungan transatlantik juga mengalami tekanan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan mengguncang kohesi aliansi NATO melalui kebijakan luar negeri yang agresif, termasuk pernyataannya terkait Greenland, yang memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Eropa.
Dalam konteks tersebut, Orban menilai elite Eropa telah membuat “pilihan besar” menuju konfrontasi langsung berskala luas. Ia menyebut diskusi di Brussel juga mencakup upaya menekan Rusia agar menanggung biaya politik dan ekonomi yang tinggi akibat perang di Ukraina.
Namun, tidak ada rincian resmi yang dipublikasikan mengenai pembentukan “dewan perang” sebagaimana diklaim Orban. Uni Eropa juga belum mengeluarkan pernyataan yang mengonfirmasi adanya perubahan kebijakan dari pendekatan diplomasi ke persiapan perang terbuka.
Uni Eropa selama ini menyatakan kebijakannya berfokus pada dukungan terhadap Ukraina dalam kerangka hukum internasional serta penguatan kemampuan pertahanan bersama melalui kerja sama NATO dan mekanisme keamanan regional.
Hongaria, di bawah kepemimpinan Orban, dikenal memiliki posisi yang berbeda dibandingkan mayoritas negara Uni Eropa, terutama terkait Rusia dan sanksi terhadap Moskwa. Budapest kerap menyerukan gencatan senjata dan solusi diplomatik, serta menentang eskalasi militer lebih lanjut.
Hingga Kamis malam, belum ada konfirmasi independen mengenai klaim Orban bahwa para pemimpin Eropa secara aktif menyiapkan perang skala global. Para analis mencatat pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya perbedaan pandangan internal di Uni Eropa mengenai arah kebijakan keamanan di tengah ketidakpastian geopolitik global.
































